x

Siapapun yang berniat licik dan egois demi kepentingannya sendiri, harus dilawan

Iklan

Yudel Neno

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 April 2020 05:40 WIB

Meretas Aktor Intelektual di Balik Dongeng Permusuhan Kucing dan Tikus

Yang namanya licik, memang harus dilawan. Siapa yang memperoleh kekuasaan, plus kehormatan dan kekayaan dengan niat licik, jalan pintas, harus dilawan, dikejar (dengan senjata hukum).

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saya menonton sebuah kisah dongeng di kanal YouTube, Dongeng Kita. Kisah itu tentang asal-muasal permusuhan antara kucing dan tikus. Permusuhan dimulai tatkala si kucing merasa berang karena ditipu oleh si tikus.

Dikisahkan bahwa untuk menduduki jabatan sebagai panglima tahunan di antara para hewan, dewa langit menyelenggarakan suatu perlombaan menuju ke sebuah puncak gunung. Di sana telah disediakan 12 panggung kekuasaan bagi 12 hewan yang memenangkan perlombaan itu.

Latihan persiapan fisikpun dilakukan. Sementara hewan-hewan lain berlatih keras, si tikus santai sembari menyusun rencana liciknya. Sementara santai, si kucing menghampirinya, lalu menanyakan apa sebab semua hewan pada sibuk berlatih. Dengan cepatnya, si tikus menjawab, bahwa bakalan ada perlombaan mendaki gunung, yang diselenggarakan oleh dewa langit.  Bagi 12 hewan pemenang, akan dinobatkan sebagai panglima tahunan, dan seterusnya bergantian selama 12 tahun. Siapa yang pertama kali tiba, akan menduduki kursi pangliman tahunan pada tahun pertama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Si tikus mengatakan perlombaan itu akan dilaksanakan pada minggu depan. Ternyata si tikus membohongi si kucing. Yang sebenarnya ialah perlombaan akan diselenggarakan keesokan harinya.

Korban kelicikan, tidak hanya si kucing. Si kerbau pun turut korban. Setelah berhasil menipu si kucing, si tikus beranjak ke korban berikutnya, yakni si kerbau. Entah apa yang dibisikkan oleh si tikus kepada si kerbau, dini harinya, tatkala semua hewan masih pulas tertidur, si kerbau bangun dan berlangkah perlahan mendahului mereka yang lain. Sementara si tikus pura-pura pulas tertidur. Lagi-lagi si tikus ini memainkan strateginya.

Saat si kerbau mendahului mereka, si tikus berlari dengan cepat mengikuti si kerbau dan melompat di atas punggung kerbau. Mendekati garis kemenangan, si tikus melompat turun, berlari lebih cepat mendahului kerbau dan lebih dahulu tiba di depan dewa langit. Lagi-lagi, si tikus berhasil memanfaatkan tenaga kerbau untuk kepentingannya. Si tikus akhirnya dinobatkan sebagai pemenang pertama, dan dengan demikian berhak menempati kursi panglima tahunan, untuk tahun pertama.

Seketika, si kerbau tiba di depan dewa langit, si kerbau malah heran, tak sangka-sangka, kalau si tikus sudah lebih mendahului. Si kerbau akhirnya menempati kursi kedua panglima tahunan. Hewan-hewan lain pun tiba, dan ditempatkan oleh dewa langit sesuai urutan.

Barangkali saat itu, si tikus meyakinkan kerbau untuk lebih dahulu memperebutkan kemenangan itu, karena dirinya telah menipu si kucing yang gesit itu, dan itu berarti si kucing bakalan tidak ikut serta dalam perlombaan.

Ketika si kucing mengetahui bahwa perlombaan telah terlaksana, beranglah si kucing, karena ternyata dirinya ditipu oleh si tikus. Dikejarlah si tikus untuk memangsanya, dan sejak saat itu, terjadi permusuhan antara kucing dan tikus.

Dari dongeng di atas, nampak bahwa aktor intelektual di balik kemenangan sebagai panglima tahunan, adalah si tikus sendiri, dengan caranya ialah bermental instan, berniat licik, maunya jalan pintas, egois, karena niatnya untuk berkuasa, mengorbankan pihak lain.

Bagaimana membedah posisi si tikus sebagai aktor intelektual, saya mengurainya dalam beberapa poin di bawah ini :

Mental Instant adalah Peluang Munculnya Niat Licik

Ketika hewan-hewan lain berlatih keras, si tikus santai, menarik badan, bermental enak, sembari memikirkan bagaimana caranya, supaya tanpa berlatih keras pun, dirinya kelak menjadi pemenang. Ia mulai memainkan aksinya yakni menipu si kucing karena si tikus rupaya tahu bahwa kalau si kucing yang gesit itu ikut serta, dirinya bakalan kalah dalam perlombaan itu. Karena itu, yang dilakukan oleh si tikus adalah menipu si kucing itu. Tipuan itu berhasil. Si kucing tak ikut serta, dan akhirnya si tikus menang.

Niat Licik Mempermudah Jalan Pintas

Setelah berhasil memainkan niat liciknya kepada si kucing, si tikus tak mati gaya. Pokoknya, apapun caranya, dirinyalah yang harus memenangkan perlombaan itu. Ia mendekati si kerbau, rupanya menyampaikan niatnya bahwa dirinya mendukung si kerbau untuk menjadi pemenang, dan supaya memenangkan perlombaan itu, si kerbau harus lebih dahulu berjalan (bermain curang) tatkala hewan-hewan lain masih tertidur.

Niat itu gol. Si kerbau berjalan lebih dahulu. Sesaat sesudah si kerbau berjalan, si tikus menyusul dari belakang. Saking cepatnya, ia mendapati si kerbau di tengah perjalanan. Tanpa disadari oleh si kerbau, si tikus melompat dan berdiam di atas punggung si kerbau.

Si tikus memang licik. Ia tidak mau bekerja keras. Ia hanya mau jalan pintas. Ia merasa santai dan nyaman di atas punggung si kerbau. Walaupun tanpa kerja keras, si tikus berhasil memenangkan perlombaan itu dan menduduki kursi panglima tahunan itu.

 

Kuasa yang Diperoleh melalui Jalan Pintas, harus Dilawan

Si tikus berhasil menduduki kursi pertama panglima tahunan. Walaupun demikian, dirinya menjadi buronan si kucing. Apa sebab? Si tikus tidak adil dan tidak fair. Si kucing kecewa karena ditipu. Atas kelicikan si tikus, si kucing kehilangan peluang berlomba. Karena itu, si kucing menantang si tikus, mengejar dan hendak memangsanya.

 

Kelicikan harus Dilawan

Kelicikan si tikus terus dilawan dan berlangsung hingga kini. Yang namanya licik, memang harus dilawan. Siapa yang memperoleh kekuasaan, plus kehormatan dan kekayaan dengan niat licik, jalan pintas, harus dilawan, dikejar (dengan senjata hukum).

Nampak bahwa sebelum tikus memainkan niat liciknya untuk memenangkan perlombaan itu, hubungan mereka baik-baik saja. Niat untuk melakukan perlawanan itu, baru ada, setelah si kucing tahu bahwa dirinya ditipu, lagipula, si tikus pun memenangkan perlombaan itu atas cara yang curang.

 

Kekuasaan yang Diperoleh karena Jalan Pintas, tidak Bertahan Lama

Sekalipun niat licik dan jalan pintas si tikus berhasil menobatkan dirinya sebagai panglima, tetapi kekuasaan itu tidak bertahan lama, karena ternyata hanya setahun saja. Hanya sekali saja, dan setelah itu bakal beralih ke pihak lain.

 

Lantas, Bagaimana Relevansinya dengan Kehidupan Kita?

Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang ada pihak tertentu menjadi aktor intelektual di balik setiap peristiwa kehidupan, memainkan niat liciknya, mengorbankan pihak lain untuk meloloskan kepentingannya. Sama seperti si tikus yang memainkan niat liciknya terhadap si kucing dan kerbau demi mendapatkan kursi panglima tahunan itu.

Mental instan pun ditemukan. Seringkali ada pihak yang tidak ingin bekerja keras tetapi mengharapkan hasil yang maksimal, dan karena itu, niat liciknya pun muncul. Proses boleh saja dilanggar, manipulasi boleh dilakukan, yang penting kedudukan, plus kekayaan  diperoleh. Mental seperti ini paling nampak dalam diri para koruptor. Mereka licik, benar-benar mencuri kesempatan untuk meraup hak milik rakyat, sama seperti tikus. Karena itu, tidak heran, kalau julukan “tikus berdasi” dilayangkan terhadap para koruptor.

Praktek jalan pintas pun ditemukan dalam kehidupan bersama. Seringkali, pihak lain diabaikan dan atau dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri.  Sama seperti si tikus, mengabaikan si kucing dan memanfaatkan si kerbau demi kepentingannya.

Prinsipnya, kalau ada mental instant, niat licik, egois, pragmatis dalam tampuk kekuasaan,  harus dilawan. Bedanya ialah kalau si kucing melawan dengan cara melakukan penyerangan terhadap si tikus,  manusia harus menempuh jalur etis, hukum untuk melawan niat licik, egois dan pragmatis.

Ikuti tulisan menarik Yudel Neno lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler