Kiprak Dokter NIAS - Djakarta Ika Daigaku - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Kiprah Dokter NIAS - Ika Daigaku

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 14 Mei 2020 07:09 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kiprak Dokter NIAS - Djakarta Ika Daigaku

    Peran politik dan profesi para dokter NIAS lulusan Djakarta Ika Daigaku.

    Dibaca : 2.768 kali

    Judul: Kiprah Dokter NIAS – Djakarta Ika Daigu

    Penulis: Indropo Agusni

    Tahun Terbit: 2016

    Penerbit: Airlangga University Press                                                                    

    Tebal: xii + 186

    ISBN: 978-602-0820-86-6

     

    Kedatangan Jepang membuat sekolah kedokteran terhenti. Sekolah Kedokteran yang ada di Jakarta dan di Surabaya berhenti karena dilarang oleh Jepang. Baru pada tanggal 1 April 1943, Jepang memprakarsai sekolah kedokteran di Jakarta. Sekolah kedokteran itu bernama Djakarta Ika Daigaku. Profesor Utjiama dan Profesor Tanaka adalah dua orang Jepang yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan perkuliahan. Bukan hanya mahasiswa kedokteran dari Jakarta yang bergabung ke Ika Daigaku, tetapi juga para mahasiswa yang sekolah di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya. Atas desakan dari para mahasiswa sekolah kedokteran di Jakarta dan Surabaya, maka perkuliahan memakai Bahasa Indonesia (Rushdy Hoesen, dkk. 2019. Melintasi 100 Tahun Ilmu Bedah Indonesia).

    Meski hanya beroperasi secara singkat, yakni dari Bulan April 1943 – April 1945, Ika Daigaku berhasil meluluskan 3 angkatan. Banyaknya lulusan ini disebabkan banyak mahasiswa dari sekolah kedokteran Jakarta dan Surabaya sudah mencapai tahap akhir kuliahnya saat sekolah kedokteran Hindia Belanda dihentikan oleh Jepang.

    Buku karya Indropo Agusni ini berisi biografi singkat dari para dokter lulusan NIAS. Dalam bagian pertama buku ini, Agusni menulis tentang dokter-dokter asal NIAS yang lulus melalui Ika Daigaku. Sedangkan di bagian kedua, ia menulis tentang dokter-dokter yang lulus di NIAS sebelum NIAS tutup pada tahun 1942. Agusni menyebutkan bahwa NIAS meluluskan lebih dari 600 dokter. Namun yang berhasil didokumentasikan biografi pendeknya baru 24 dokter saja. Keduapuluhempat dokter itu, 10 berasal dari masa Ika Daigaku dan 14 dari masa sebelum tahun 1942.

    Seperti banyak literatur menyampaikan bahwa para lulusan Ika Daigaku menjadi dokter militer Jepang atau PETA, demikian juga dengan buku ini. Namun buku ini mengungkap peran politik para dokter asal NIAS ini secara lebih mendalam. Agusni mengungkap peran para mahasiswa NIAS di Jakarta tahun 1942-1945 dalam persiapan dan saat Proklamasi Kemerdekaan.

    Para mahasiswa asal NIAS ini indekost di Jalan Prapatan nomor 10. Di asrama inilah para mahasiswa tersebut aktif melakukan perjuangan kemerdekaan, di sela-sela kuliahnya. Karena mereka terkumpul dalam satu asrama, maka perjuangan mereka menjadi lebih solid.

    Peran besar dalam politik itu bahkan sampai melakukan back up pembacaan Proklamasi. Eri Soedewo membacakan Proklamasi 10 menit setelah Sukarno – Hatta membacakan Proklamasi di Peganggaan Timur. Pembacaan naskah Proklamasi ini dilakukan oleh Eri Soedewo di Asrama di Jalan Prapatan nomor 10. Tujuan pembacaan naskah Proklamasi oleh Eri Soedewo adalah sebagai cadangan jika proklamasi yang dilakukan oleh Sukarno-Hatta gagal.

    Selain membuat proklamasi cadangan, para mahasiswa NIAS yang dipimpin oleh Eri Soedewo juga berhasil membujuk Sukarno-Hatta untuk melakukan Rapat Samudra pada tanggal 19 September 1945 di Lapangan IKADA. Rapat ini adalah tonggak penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia mendukung sepenuhnya Proklamasi yang dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta.

    Para lulusan Ika Daigaku tidak hanya berperan dalam Proklamasi. Mereka juga berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dari serangan Belanda yang kembali ke Indonesia. Pada periode 1945 – 1949, banyak dari para dokter ini yang ikut bergerilya melawan Belanda. Eri Soedewo bergerilya di Jawa Barat dan kemudian di Jogjakarta. Dokter Soemartono bergerilya di Gombong dan sekitar Solo. Dokter Tachmat bergerilya di Garut bersama Pasukan Siliwangi. Oesmar Asnar di Blitar. Dokter  Soebandi bahkan gugur diberondong peluru di Jember saat menolong rekannya Letkol M Soeradji yang tertembak.

    Selain dari perannya di bidang politik dan perang mempertahankan kemerdekaan, para dokter lulusan Ika Daigaku pada umumnya meniti karier sebagai dokter militer dan memimpin rumah sakit militer di berbagai wilayah di Indonesia.

    Dalam buku ini Agusni juga menulis tentang dokter perempuan lulusan Ika Daigaku. Dokter Soeharti Pala Brotodiwirjo berkarya di luar negeri. Beliau mendampingi sang suami yang berkarier di UNESCO, sampai menjadi deputi direktur UNESCO. dr. Soeharti membuka klinik mata di Belanda.

    Berbeda dengan lulusan Ika Daigaku, para deokter lulusan NIAS sebelum kedatangan Jepang rata-rata memiliki karier yang berhubungan dengan keilmuan kedokteran.  Meski mereka juga berkarier di bidang militer, tetapi tidak banyak yang terlibat langsung dengan kegiatan praktis (berdemonstrasi dan bergerilya), seperti adik-adiknya yang lulus di masa Ika Daigaku. Peran mereka lebih banyak sebagai dokter kemanusiaan di masa perang. Hanya sedikit dari angkatan sebelum Jepang yang terlibat dalam kegiatan praktis. Salah satunya adalah dr. Aloei Sabu yang ikut mengusir Belanda dari Gorontalo saat kedatangan Jepang, memimpin penyerbuan markas tentara NICA dan melakukan mosi pembubaran Negara Indonesia Timur dan mendorong kembali menjadi bagian dari NKRI.

    Iboe Soetowo yang lulus pada tahun 1940 meniti karir sebagai dokter di Sumatra. Ibnoe Soetowo berkarier di bidang militer dan sebagai dokter. Dalam karirnya sebagai dokter, Ibu Sutowo pernah merawat orang-orang Belanda yang menjadi tawanan Jepang. Ibnu Sutowo juga dipercaya untuk mengelola Pertamina ketika perusahaan minyak ini diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dari Belanda. Presiden Suharto bahkan mempercayainya untuk menjadi Menteri Pertambangan Gas dan Minyak Bumi.

    M. Soetopo yang lulus pada tahun 1924 menjadi dokter di berbagai wilayah dan dipercaya sebagai Menteri Kesehatan pada “Zaken Kabinet Halim.” M. Soetopo juga ikut berperan dalam pendirian Universitas Gajahmada.

    Selain dari M. Soetopo, dr. Gerrit Augustinus Siwabessy adalah lulusan NIAS yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan. Dokter kelahiran Saparua ini diangkat menjadi Menteri Kesehatan pada tahun 1966 sampai tahun 1978. Saat menjadi Menteri Kesehatan, Siwabessy mengembangkan Asuransi Kesehatan dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Badan Tenaga Atom Nasional, sehingga dinobatkan sebagai Bapak Atom Indonesia.

    Dokter Kariadi yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Semarang adalah dokter yang terbunuh saat memeriksa reservoir air yang diracun oleh Jepang. Saat melakukan inspeksi inilah dokter yang pernah menjadi asisten dr. Soetomo tersebut ditembak oleh Jepang. Dokter yang lulus dari NIAS pada tahun 1931 ini pernah bertugas di Manokwari.

    Dokter Wasito lulus pada tahun 1935. Selain menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), beliau juga berjasa dalam mengembangkan Program Keluarga Berencana.

    Dokter Soeharso yang berasal dari Boyolali lulus sebagai dokter pada tahun 1939. Karya terbesar beliau adalah dalam mengembangkan program rehabilitasi fisik korban perang. Beliau mempelopori pembuatan prothesa kaki dan tangan bagi penderita cacat akibat perang. Upayanya ini kemudian mendorong berdirinya Rumah Sakit Orthopedi (RSOP) di Solo. Dokter Soeharso diangkat menjadi Pahlawan Nasional.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.