Wisata Ziarah atau Sekadar Rekreasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sepanjang jalan menuju makam kyai raden santri yang di padati dengan aneka macam toko oleh-oleh

Khoirunnisa R. S

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 16:23 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Wisata Ziarah atau Sekadar Rekreasi

    Dibaca : 171 kali

    Wisata religi atau wisata ziarah kini semakin diminati kalangan masyarakat. Khususnya di Negara Indonesia dengan mayoritas penduduknya ialah beragama muslim. Berdasarkan penelitian, dalam kurun waktu lima tahun terakhir mencapai kenaikan hingga 165% atas perjalanan wisata yang didasarkan pada keyakinan diri atau wisata religi.

    Berdasarkan data Organisasi Turis Dunia (UNWTO) ada sekitar 330 juta wisatawan global atau 30 persen dari total keseluruhan wisatawan global melakukan kunjungan situs-situs religi di dunia. Baik berdasarkan motif spiritual ataupun kognitif. Motif spiritual ialah dengan adanya tindakan melakukan ibadah ritual untuk mendapatkan ketenangan atau bentuk spiritualitas diri. Sedangkan motif kognitif dilandasi oleh alasan untuk mendapat pengalaman saja.

    Dari banyak keanekaragaman wisata di Indonesia, ada beberapa potensi yang dapat digali, diperkuat dan di optimalkan salah satunya yaitu wisata ziarah maupun wisata religi. Indonesia berpeluang meningkatkan pendapatan pariwisata lewat wisata ziarah ataupun wisata religi itu. Indonesia pun memiliki banyak tempat dengan makanan halal yang menjadi daya tarik bagi wisatawan negara-negara islam atau penduduk muslim.

    Saat ini traveling atau wisata sudah menjadi hobi yang diminati masyarakat. Selain wisata alam, wisata religi tampaknya menjadi destinasi yang juga banyak digandrungi wisatawan. Oleh sebab itu, kini wisata ziarah atau wisata religi telah menjadi tren di kalangan masyarakat. Akan tetapi tren tersebut mengalami perubahan paradigma pariwisata dari “sun, sand and sea” menjadi “serenity, sustainability and spirituality”.

    Hal ini terbukti dengan membanjirnya para wisatawan religi seperti makam-makam para ulama ataupun makam para walisongo. Namun kedatangan para wisatawan itu tak hanya dilatar belakangi oleh niat untuk pergi berziarah tetapi ada pula motivasi ingin berwisata atau hanya sekadar pengalaman wisata religi. Hal tersebut dikarenakan adanya motivasi wisatawan religi yang juga memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas wisata non-religi seperti berjalan-jalan ke tempat wisata, berbelanja dan menikmati kuliner khas suatu Negara (Albayrak dkk, 2018:2).

    Tak bisa dipungkiri bahwa wisata religi berkembang di masyarakat, sedikit banyak memiliki wisata dalam arti “wisata hiburan”. Hal ini bisa kita jumpai di sejumlah wisata religi yang juga tersedia wisata belanja atau wisata kuliner yang sudah akrab dengan lokasi wisata religi, salah satunya yaitu di tempat wisata religi pada Makam Kyai Raden Santi Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Meglang. Para wisatawan bisa berbelanja aneka souvenir atau oleh-oleh kepada kerabat atau saudara dirumah di pusat perbelanjaan yang ada di kiri dan kanan anak tangga menuju Makam Kyai Raden Santri tersebut.

    Sejatinya wisata ziarah dan wisata religi itu diidentifikasikan sebagai sebuah kegiatan wisata yang sama, tetapi Albayrak dkk (2018:2) menyatakan bahwa keduanya memiliki perbedaan aktivitas. Dalam melaksanakan aktivitas wisata religi, wisatawan tidak harus memiliki keterikatan secara langsung dengan agama yang mereka percayai, bahkan orang yang tidak memiliki agama sekalipun dapat melakukan wisata religi dengan mengunjungi objek wisata religi.

    Sebaliknya, wisata ziarah lebih menekankan terhadap adanya ritual keagamaan yang harus dilakukan oleh wisatawan yang melakukan ziarah ke suatu tempat yang dianggap suci. Realitas wisata religi yang ada tentu mengandung sisi positif dan negatif, sehingga kita yang harus lebih bijak menghadapinya. Tujuan wisata religi yang sejatinya mentadaburi perjuangan para ulama atau para wali dalam menyebarkan agama tentu harus jadi prioritas utama dalam sebuah perjalanan wisata religi


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.