Definisi Perusahaan Manufaktur - Analisa - www.indonesiana.id
x

Muhamad Ubaidullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Mei 2019

Sabtu, 6 Juni 2020 13:48 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Definisi Perusahaan Manufaktur

    Dibaca : 296 kali

    Muhamad Ubaidullah
    Mahasiswa Akuntansi FE Unissula
    Sri Dewi Wahyundaru
    sridewi@unissula.ac.id


    ”Definisi Perusahaan Manufaktur”


    Apa itu Perusahaan Manufaktur? Saya yakin pasti kalian sudah mengetahuinya Perusahaan Manufaktur, Oke yang belum tahu saya jelaskan. Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang dimana kegiatannya mengolah suatu bahan baku menjadi barang jadi yang telah melalui beberapa proses setelah itu barang jadi tersebut akan dijual. Dalam kegiatan dari Perusahaan manufaktur kita dapat melihat bahwa perusahaan manufaktur sering disebut sebagai perusahaan yang kegiatannya memproduksi.

    Perusahaan manufaktur sebagai serangkaian operasi dan kegiatan yang saling berhubung baik meliputi perancangan, pemilihan bahan, perencanaan, pembuatan, penjaminan mutu, serta pengelolaan dan pemasaran produk.
    Nah di perusahaan manufaktur ada apa sebenarnya? Lanjut baca ya teman....

    Kegiatan dalam perusahaan manufaktur mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dimiliki oleh masing masing satuan kerja. Kegiatan produksi juga kegiatan yang penting disebuah perusahaan. Untuk perusahaan yang bergerak didalam struktur pasar penjual, kegiatan seperti ini menjadi kegiatan yang penting. Karena jelas rencana produksi meliputi perencanaan tentang jumlah produksi agar tingkat penjualan yang telah direncanakan perusahaan sesuai.

    Dan Perusahaan Manufaktur menggunakan siklus akuntansi untuk laporan keuangan. Pada akuntansi manufaktur terdapat beberapa syarat tersendiri. Siklus akuntansi merupakan penyusunan laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sesuai kaidah dan prinsip akuntansi serta segala hal yang dicakup ruang lingkup akuntansi.

    Perusahaan manufaktur memiliki beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan jenis perusahaan lainnya. Ini menyebabkan perhitungan dan metode akuntansi, khususnya metode pengukuran biaya bagi perusahaan manufaktur cukup kompleks. Dalam perusahaan manufaktur harus memperhitungkan biaya bahan baku dan proses sampai menjadi barang jadi yang siap jual. Terdapat dua kategori utama pada metode pengukuran biaya yang terjadi pada perusahaan manufaktur, diantaranya Inventory Cost dan Production Cost.

    A. Inventory Cost

    Dalam pengertiannya dapat diartikan inventory cost adalah biaya persediaan barang (stock) dimana didalamnya terdapat biaya pemesanan inventory, biaya pengiriman inventory, biaya penerimaan inventory dan biaya pembayaran inventory sehingga dapat kita ketahui beberapa total yang akan dikeluarkan dalam keluar masuk arus persediaan barang atau stock di perusahaan manufaktur.

    Metode Akuntansi dalam Inventory Cost terdapat beberapa metode costing yang sering digunakan dalam pengukuran biaya perusahaan manufaktur, sebagai berikut Menurut (Hermawan, 2008) Ada tiga asumsi yang digunakan yaitu :

    1. Metode FIFO ( First in First Out)
    Barang yang pertama kali masuk (dibeli) menjadi barang yang pertama kali keluar (dijual). Masuk pertama keluar pertama Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang dibeli.Metode FIFO merupakan metode penilaian persediaan yang sangat realistis dan cocok digunakan untuk semua sifat produk. Realistisnya terletak pada barang yang pertama kali dibeli, maka barang itulah yang pertama kali dijual. Jika perusahaan menggunakan metode FIFO dalam menilai persediaan dengan asumsi telah terjadi.

    2. Last In First Out (LIFO)
    Barang yang terakhir kali masuk (dibeli) menjadi barang yang pertama kali keluar (dijual). Metode LIFO menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang  awal (pertama) masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah. Metode LIFO bisa saja realistis apabila didukung oleh kondisi fisik produk yang dijual. Produk yang kualitasnya semakin lama disimpan maka semakin bagus, tentu akan cocok menggunakan metode ini. Namun apabila produknya merupakan barang yang cepat rusak seperti pabrik roti, maka menggunakan metode LIFO bukanlah pilihan yang tepat.Metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih besar kalau dihitung dengan metode LIFO. Metode LIFO akan menghasilkan laba tahunan menjadi lebih besar/dan pajak yang semakin besar. Penggunaan metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang paling kecil, harga pokok penjualan yang paling besar dan laba kotor serta laba bersih yang paling kecil.

    3. Metode Rata-rata ( Average)
    Metode ini tidak memperdulikan waktu barang masuk dan keluar. Penentuan harga diperoleh didasarkan pada rata-rata harga perolehan semua barang. Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor. Hasil perhitungan nilai persediaan dengan menggunakan metode rata-rata selalu berada ditengah-tengah antara perhitungan FIFO dan LIFO. Metode rata-rata termasuk metode yang praktis untuk digunakan.

    Next ya teman lanjut baca hehehe......

    B. Production Cost ( Biaya Produksi)


    Seorang bisnis yang Perusahaan manufaktur harus mengetahui biaya produksi karena sangat penting dalam menciptakan dan mempertahankan kelangsungan produksi dan bisnisnya sehingga dapat menguntungkan perusahaan. Nah sebenarnya apa sih dimaksud dengan Production cost, saya akan menjelaskan berdasarkan menurut para ahli.
    Menurut Kuswadi (2005:22), Biaya produksi merupakan biaya yang berkaitan dengan perhitungan beban pokok produksi atau beban pokok penjualan. Biaya produksi atau penjualan terdiri atas biaya bahan baku dan bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
    Disini saya akan menjelaskan beberapa metode yang sering digunakan untuk pengukuran perhitungan Production Cost, diantaranya :


    1. Full Costing
    Metode full costing perhitungan harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya biaya tenaga kerja langsung (BTKL), biaya overhead variabel, biaya overhead tetap, biaya pokok produksi, dengan cara menjumlahkan semua biaya diatas sehingga nanti akan terukur biaya produksinya.Full costing juga dikenal dengan absorption costing. Harga pokok penuh menghasilkan laporan laba rugi yang biaya-biaya disajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.

    2. Variabel Costing
    Metode ini hanya menghitungkan biaya-biaya produksi yang bersifat variabel seperti biaya overhead, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja. Harga pokok variabel merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berprilaku variabel ke dalam harga pokok produksi. Harga pokok variabel merupakan laporan laba rugi yang mengelompokan biaya berdasarkan perilaku biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori biaya variabel dan biaya tetap. Laporan laba rugi tersebut harus disesuaikan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang Berlaku di Indonesia.

    REFERENSI
    https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-biaya-produksi-production-cost-cara-menghitung-biaya-produksi/
    https://www.jurnal.id/id/blog/2018-2-metode-akuntansi-pengukuran-biaya-bagi-perusahaan-manufaktur-berikut-ini/
    https://www.harmony.co.id/blog/accounting/2020/05/26/pengukuran-biaya-perusahaan-manufaktur-dengan-metode-akuntansi
    https://pendidikanmu.com/2020/01/karakteristik-perusahaan-manufaktur.html
    Carter, William K. 2009. Akuntansi Biaya. Buku 1 Edisi 14. Jakarta: Salemba Empat.
    Hery. 2011.Akuntansi Perusahaan Jasa dan Dagang. Bandung: Alfabeta.
    Hermawan, Sigit. 2008. Akuntansi Perusahaan Manufaktur.Yogyakarta: Graha Ilmu.
    Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2008. Standar Akuntansi Indonesia (SAK). Jakarta.
    Mulya, Hadri. 2010. Memahami Akuntansi Dasar. Jakarta: Mitra Wacana Media.
    Muawanah, Umi dan Pernawati. 2008. Konsep Dasar Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
    Bandung : Direktorat Pembinaan SMK Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan:
    Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Saufi Ginting

    12 jam lalu

    LINGLUNG

    Dibaca : 33 kali


    Oleh: medy afrika

    1 hari lalu

    Perbedaan Aset Desa dengan Inventaris Desa

    Dibaca : 89 kali

    DESA, NEWS - Secara umum, aset Desa diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (“UU Desa”) dan lebih rinci diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa (“Permendagri 1/2016”). Aset Desa  : adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Sementara itu, istilah inventaris desa tidak ditemukan dalam UU Desa maupun Permendagri 1/2016.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (“KBBI”) yang terakses dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, inventaris adalah daftar yang memuat semua barang milik kantor (sekolah, perusahaan, kapal, dan sebagainya) yang dipakai dalam melaksanakan tugas.                                                                                      Merujuk pada definisi inventaris desa di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa inventaris desa adalah daftar barang milik desa. Meski demikian, istilah inventarisasi dapat kita temukan dalam Permendagri 1/2016. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan aset Desa. Merujuk pada definisi inventarisasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa inventaris desa adalah hasil aset desa yang didata, dicatat, dan dilaporkan. Yang Termasuk Aset Desa : Aset Desa dapat berupa tanah kas desa, tanah ulayat, pasar desa, pasar hewan, tambatan perahu, bangunan desa, pelelangan ikan, pelelangan hasil pertanian, hutan milik desa, mata air milik desa, pemandian umum, dan aset lainnya milik desa.   Aset lainnya milik desa antara lain: a.  kekayaan desa yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (“APBDesa”); b.    kekayaan desa yang diperoleh dari hibah dan sumbangan atau yang sejenis; c.    kekayaan desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak dan lain-lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; d.    hasil kerja sama desa; dan e.    kekayaan desa yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. Inventarisasi Aset Desa : sekretaris desa selaku pembantu pengelola aset desa berwenang dan bertanggungjawab: a.    meneliti rencana kebutuhan aset desa; b.    meneliti rencana kebutuhan pemeliharan aset desa ; c.    mengatur penggunaan, pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan aset desa yang telah di setujui oleh Kepala Desa; d.    melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi aset desa;dan e.     melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan aset desa.   Petugas/pengurus aset desa bertugas dan bertanggungjawab: a.    mengajukan rencana kebutuhan aset desa; b.    mengajukan permohonan penetapan penggunaan aset desa yang diperoleh dari beban APBDesa dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Desa; c.    melakukan inventarisasi aset desa; d.    mengamankan dan memelihara aset desa yang dikelolanya; dan e.    menyusun dan menyampaikan laporan aset desa.   -Aset desa yang sudah ditetapkan penggunaannya harus diinventarisir dalam buku inventaris aset desa dan diberi kodefikasi. Kodefikasi yang dimaksud diatur dalam pedoman umum mengenai kodefikasi aset desa. -Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Desa melakukan inventarisasi dan penilaian aset Desa sesuai peraturan perundang-undangan. Bisa didefenisikan, aset desa dan inventaris desa merupakan dua hal yang berhubungan. Aset desa merupakan barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Sedangkan inventaris desa adalah daftar barang milik desa, yakni hasil aset desa yang didata, dicatat, dan dilaporkan. Kegiatan inventarisasi aset desa merupakan tugas dan tanggung jawab petugas/pengurus aset desa yang berkoordinasi dengan sekretaris desa. Dasar Hukum: 1.    UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa 2.    Permendagri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa.