Komedi, Kebebasan Berpendapat, dan Ke-Baper-an Nasional yang Sedang Menjangkit - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Komedian legendaris, Kasino juga pernah mengalami penyakit yang menyeramkan ini. Anggota grup Warkop DKI itu juga sempat menjalani perawatan kemoterapi. Namun, kondisinya terus menurun, dan meninggal dunia pada 18 Desember 1997 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. dok.TEMPO/Syafrial Arifin

Candra Adam

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Juni 2020

Kamis, 25 Juni 2020 19:30 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Komedi, Kebebasan Berpendapat, dan Ke-Baper-an Nasional yang Sedang Menjangkit

    Dimanakah sebenarnya batasan sensitivitas dalam Dunia Komedi? Pada jaman Orde Baru dulu pelawak sangat berhati-hati terhadap pemerintah yang sensitif. Tapi, sekarang pelawak juga dihadapkan kepada publik yang juga kadang tak kalah bapernya. Apalagi netizen +62 yang terkenal militan tapi juga terkenal akan ke-baper-annya. Mudah-mudahan kita semua tidak sedang terjangkit oleh yang namanya Ke-Baper-an Nasional.

    Dibaca : 2.408 kali

    WARKOP DAN SENSITIVITAS DALAM KOMEDI

    Beberapa dari Anda dan saya bisa jadi sangat setuju dengan label legenda yang disematkan kepada group komedi yang bernama Warkop DKI. Di awal dekade 70an (sebelum mereka masuk ke industri perfilman) mereka sudah menggaungkan banyolan dan celetukan-celetukannya lewat udara.

    Lawakan khas anak kampus dengan bahasa prokemnya saat itu cukup akrab di telinga para pendengar Prambors Radio di awal hingga Akhir 70an.

    Nereka juga mengambil lawakan khas orang-orang kampung dan orang pinggiran dengan bahasa yang kadang terdengar "norak" bagi orang-orang kota dan orang-orang kaya pada saat itu. Lawakan mereka juga banyak memuat gejala dan kondisi sosial pada saat itu.

    Belum lagi kritik yang satir dan kadang juga muncul sarkasme dalam lawakan Warkop, tentunya kritik mereka ditujukan kepada pemerintah Orde Baru yang saat itu sedang sangar-sangarnya. Itulah yang membuat group lawak Warkop (yang saat 70an masih bernama Warkop Prambors) begitu spesial dalam dunia penyiaran dan komedi pada waktu itu, dan bahkan bisa dikatakan hingga saat ini.

    Hanya sedikit orang-orang atau kelompok yang berani mengkritik atau bahkan menyindir pemerintah Orde Baru pada saat itu. Apalagi untuk orang-orang yang berkecimpung dalam dunia penyiaran tentu akan sangat berhati-hati dalam menyusun diksi atau bahkan banyak yang lebih memilih untuk tidak nyerempet-nyerempet menyindir pemerintah Orde Baru.

    Salah satu dari sedikit orang-orang yang berani "bertaruh nyawa" pada saat itu adalah Warkop, dengan Formasi Rudi Badil, Kasino, Nanu, dan Dono (personel awal Warkop Prambors) yang juga seorang aktivis di Universitas Indonesia pada waktu itu, tentu menjadi salah satu alasan kenapa mereka berani mengusung tema-tema sosial dalam lawakan-lawakannya.

    Bahkan, Ketika Malari terjadi di tahun 1974, mereka ikut serta bersama aktivis-aktivis lainnya dalam demonstrasi yang cukup besar dan bersejarah itu, dan yang kemudian sangat disayangkan malah menjadi sebuah kerusuhan yang besar dan tercatat dalam sejarah panjang konflik vertikal dan horizontal di Republik ini.

    Terlepas dari polemik kerusuhan Malari 74, nyatanya warkop (yang kemudian berubah formasi menjadi DKI: Dono, Kasino, Indro) sudah dan akan selalu tercatat dalam sejarah dunia komedi dan penyiaran Indonesia. Mereka dikenal sebagai group lawak yang berani bersuara atas nama kebebasan berpendapat di dalam situasi dan kondisi negara yang dibelenggu oleh otoritarianisme.

    Tapi kenapa Warkop dengan lawakan-lawakan kritisnya relatif tetap "aman" dan tetap "hidup" di dunia komedi dan penyiaran di era otoritarianisme waktu itu?

    Sudah barang tentu Warkop juga tetap menggunakan batasan-batasan dalam mengeluarkan sebuah lawak yang kental dengan unsur kritik terhadap pemerintah. Apalagi dengan latar belakang intelektualitas para personelnya, mereka tidak hanya peka terhadap gejala sosial yang mereka amati, tapi juga peka dan tentunya waspada akan sensitivitas pemerintah saat itu dalam menghadapi suara-suara kritis termasuk lawakan-lawakan yang penuh sindiran.

    Warkop nyaris selalu berhasil dalam memilih dan menyusun diksi untuk banyolan-banyolan mereka yang berbau kritik terhadap pemerintah. Mereka seperti selalu punya akal untuk menyelipkan kritik sosial dalam banyolan-banyolannya agar tetap aman.

    Bahkan mereka juga punya tim riset atau orang-orang yang bertugas untuk menyusun materi-materi lawakannya, salah satunya adalah Miing Bagito (Dedi Gumelar), yang kelak membentu grup lawak Bagito bersama Unang dan Didin. Mereka seperti sudah paham bagaimana membatasi lawakan-lawakan kritisnya agar pemerintah tidak sampai kelewat baper.

    Dan seiring berkembangnya waktu dan zaman, ketika otoritarianisme dianggap sudah "angkat kaki" dari republik ini yang diawali dari gerakan Reformasi 98 yang terkenal itu, kemudian bermunculanlah pelawak dan grup lainnya yang juga kerap menyelipkan tema-tema sosial dan kritik-kritik. Ini terjadi terutama di dunia ;awak tunggal (stand up comedy) yang di pertengahan 2000an hingga sekarang banyak digandrungi publik.

    Kemudian bermunculan juga talenta-talenta luar biasa dalam dunia lawak tunggal yang membawa atau setidaknya menyelipkan tema-tema sosial dalam materi lawakan mereka. Tentunya di era demokrasi yang sedang berkembang di negeri ini, kritik sosial dan kritik-kritik terhadap institusi atau organisasi-organisasi sudah jamak terjadi di era sekarang, dimana manusia-manusia di Bumi Pertiwi ini sudah diberi kebebasan untuk berpikir dan berpendapat.

    Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi, maka muncullah sosial media, dan platform-platform informasi berbasis online lainnya, yang membuat orang-orang zaman sekarang seakan dimanjakan oleh derasnya arus informasi sekaligus dipusingkan oleh filter informasi dalam menghadapi berbagai hokasyang yang beredar deras di dalam gadget-gadget mereka.

    Singkatnya, kemudian lahirlah Undang-undang ITE, yang menurut beberapa orang berisi pasal-pasal karet yang jg akan sangat beresiko terhadap keberlangsungan kebebasan berpendapat di media online. Tapi disini kita tidak sedang membahas atau membedah UU ITE, karena saya juga bukan pakar hukum.


    KOMEDI DAN SENSITIVITAS PUBLIK DI ERA SEKARANG

    Dengan berkembangnya zaman, tidak hanya teknologi informasi saja yang berkembang, tapi juga tingkat pengetahuan dan pendidikan warga negara Indonesia jugaakan terus berkembang. Dampaknya berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakatnya, karena dengan adanya perkembangan pengetahuan, pendidikan, dan informasi sangat mempengaruhi pola pikir masyarakatnya. Ini sudah kita rasakan sekarang, dimana banyak norma-norma sosial erubah.

    Apalagi kebanyakan orang sekarang tidak hanya punya kehidupan di dunia yang nyata, tapi juga di dunia mMaya lewat gadget-gadget mereka. Lewat informasi dan pengetahuan yang begitu deras dan pesat, tidak bisa dipungkiri ini juga akan dan sedang berdampak pada kehidupan sosial kita yang nyata, bukan kehidupan sosial di dunia maya.

    Padahal dalam sebuah informasi di sosial media akan selalu memunculkan banyak interpretasi dari para netizen yang mengaksesnya. Terkadang dalam sebuah informasi di sosial media, lewat narasi dan redaksi yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan sudut pandang dan pemikiran si empunya akun. Bahkan kadang tidak memperdulikan ke-faktualan-nya, maka setelah informasi tersebut diposting kemudian muncullah gelombang komentar yang mengomentari informasi tersebut, kolom komentar seolah menjadi arena kebebasan untuk berpendapat.

    Bahkan terkadang dalam sebuah berita atau informasi tertentu, hanya dengan video amatir dan caption dari si pemilik akun, akan muncul beragam komentar di kolom komentar. Tak jarang ini menimbulkan polemik baru, dan ini jamak terjadi sekarang, kita mudah menemukan itu lewat gadget-gadget kita.

    Seolah-olah dunia maya adalah sebuah kebebasan tersendiri bagi orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Bahkan juga bagi orang-orang yang tidak memahami batasan-batasan dalam kebebasan berpendapat.

    Jika kita bicara batas-batas kebebasan berpendapat maka kita seperti sedang membicarakan sebuah garis imajiner yang tak nampak secara visual. Walaupun dalam hukum kita juga ada undang-undang yang mengatur tentang ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan bahkan perbuatan tidak menyenangkan dalam bersosial, yakni UU ITE. Namun nyaris tidak ada undang-undang yang secara eksplisit mengatur tentang batas-batas dalam kebebasan berpendapat.

    Lantas bagaimana dengan orang-orang yang sudah banyak "kepleset lidah" baik dalam keadaan sedang berbicara atau bahakan dalam keadaan melawak? Bagaimana mereka memahami kebebasan berpendapat?

    Dan apa saja yang menyebabkan mereka viral karena "kepleset lidah" atau dianggap "kepleset lidah" oleh beberapa kelompok? Karena kebebasan berpendapat tidak hanya mencakup hubungan vertikal antara masyarakat dengan pemerintah tapi juga hubungan horizontal antar masyarakat.

    Ada perkembangan sensitivitas dalam kehidupan dan norma sosial yang kadang orang tidak memperhatikan itu, sehingga muncullah fenomena orang-orang yang "kepleset lidah" atau dituduh "kepleset lidah", padahal sudah dibahas sebelumnya bahwa berkembangnya pengetahuan, informasi, dan pendidikan juga berdampak pada perubahan kehidupan sosial, pola pikir, dan bahkan yang paling ekstrim adalah perubahan norma-norma sosial dalam masyarakat.

    Sensitivitas dalam sosial masyarakat di zaman sekarang akan berbeda jika kita bandingkan dengan masa lalu, atau setidaknya sebelum Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan kawan-kawannya "menyerang" dan "memaksa" kita untuk membuat sebuah kehidupan sosial yang baru di dunia Maya.

    Bapernya orang jaman dulu dengan bapernya orang jaman sekarang sangatlah berbeda. Contohnya dalam dunia penyiaran dan komedi, seperti yang sudah saya jelaskan diatas dimana Warkop sering "menyentil" pemerintah yang otoriter waktu itu. Warkop juga sering mengangkat "ke-norak-an" dan "ke-katrok-an" orang-orang dari berbagai macam suku, agama, dan ras yang hidupnya diluar lingkaran ibukota negara yang identik dengan kampungan untuk menjadi sebuah dagelan yang lucu. Bahkan orang-orang jadi sering menertawakan diri sendiri terhadap ke-norak-annya persis seperti lawakan-lawakan yang Warkop bawakan.

    Saya selalu ingat dagelan yang dibanyolkan alamarhum Kasino dalam kaset-kaset rekaman warkop. MIslanya, seperti kisah seorang temannya dari Ambon yang dengan ke-katrok-annya memukul TV ketika menonton film action karena jengkel dengan alur cerita film yang ditontonnya.

    Kemudian guyonannya tentang seorang Arab yang mengolesi balsem di kemaluannya agar larinya kencang. Ada juga cerita tentang seorang mantri sunat yang diluar profesinya sebagai mantri juga membuat tas dari kumpulan kulit kemaluan yang disunat.

    Ada juga cerita lawakan dari almarhum Nanu tentang bagaimana kehidupan orang Batak yang dianggap lekat dengan dunia angkutan transportasi dan bahkan dunia per-copet-an. Belum lagi kumpulan banyolan dan cerita-cerita dari Indro dan almarhum Dono yang jugasering membanyol dengan cerita-cerita yang menyentuh kesukuan, agama, profesi, dan rasial yang dimasa sekarang dianggap cukup sensitif.

    Di era modern ini, ada banyak orang-orang yang sengaja atau tidak "berbenturan" dengan sensitivitas yang ada di kehidupan sosial masyarakat, tentunya lewat pernyataan-pernyataannya yang tersebar di media sosial. Contohnya, belum lama ini kita mendengar tentang "apesnya" seorang komedian dalam sebuah talk show di televisi, dimana komedian tersebut dianggap menghina Nabi Muhammad karena celetukan yang dia buat.

    Kemudian tidak sedikit para komika/pelawak tunggal yang bersinggungan dengan ormas, dewan adat, dan profesi tertentu, karena lawaknya yang dianggap sangat sensitif atau bahkan menyinggung golongan tertentu.

    Ini seperti menjadi sebuah tantangan baru bagi pelaku komedi dan hiburan serta pengguna sosial media pada umumnya, dimana mereka harus memahami sensitivitas-sensitivas yang ada dalam kehidupan sosial di luar lingkaran kehidupan mereka.

    Apalagi dengan adanya polarisasi yang tercipta akibat dari fanatisme politik yang kerap terjadi disekitar kita, menambah sensitivitas yang terjadi di kehidupan sosial menjadi lebih kompleks. Ini membuat seseorang semakin sulit menentukan batasan-batasan dalam berbicara dan menyampaikan pendapat, bahkan pula dalam sebuah lawakan.

    Anda tentu ingat tagline warkop yang berbunyi "tertawalah sebelum tertawa itu dilarang". Ya, tentunya itu adalah sindiran terhadap pemerintah yang dianggap terlampau otoriter, karena banyaknya orang-orang yang dibungkam ketika menyerukan kritiknya waktu itu, sehingga Warkop pun waspada jika sampai ada larangan untuk tertawa.

    Sekarang tagline tersebut memang sudah tidak terlalu dianggap "ngocol" di era demokrasi seperti sekarang, walaupun banyak orang menganggap pemerintah sekarang seperti ingin kembali ke zaman otoriter. Hal itu dikarenakan banyak juga teror dan fitnah oleh buzzer-buzzer yang dianggap pro pemerintah terhadap orang-orang yang bersuara atas keresahannya, seperti halnya yang terjadi kepada salah seorang komika belum lama ini.

    Tapi yang menjadi kekhawatiran saya adalah, sampai kapan sensitivitas dalam kehidupan sosial masyarakat ini akan berkembang tak berarah? Hal itu menyebabkan untuk melucu dan tertawa saja harus lebih berhati-hati karena yang dihadapi adalah sesama masyarakat yang rentan akan sensitivitas dalam kehidupan sosialnya.

    Atau jangan-jangan, sensitivitas tersebut sengaja diciptakan oleh orang-orang yang tidak menyukai persatuan dan kerukunan, sehingga lawakan dan banyolan saja bisa dipermasalahkan dan dilaporkan ke pihak berwajib? Misalnya, seperti banyak kasus yang sering terjadi sebelumnya. Semoga saja tidak lah.

    Tapi yang jelas, jika pelawak dulu sangat berhati-hati terhadap pemerintah yang sensitif, sekarang pelawak juga dihadapkan kepada publik yang juga kadang tak kalah bapernya. Apalagi netizen +62 yang terkenal militan tapi juga terkenal akan ke-baper-annya.

    Mudah-mudahan kita semua tidak sedang terjangkit oleh yang namanya Ke-Baper-an Nasional.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.