Kasus Corona Terus Meningkat, Menunggu Realisasi Pesan Terbaru Presiden - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Jokowi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 14 Juli 2020 09:27 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kasus Corona Terus Meningkat, Menunggu Realisasi Pesan Terbaru Presiden

    Dibaca : 743 kali


    Menyelesaikan masalah dengan serius, sering kali tak berhasil, apalagi bila dengan main-main. (Supartono JW.13072020)

    Kasus positif corona di Indonesia terus mengalami kenaikan, seiring dengan itu, masyarakat malah semakin terlihat menjalani kehidupan secara normal, bukan normal baru seperti yang diharapkan karena masih tingginya tingkat kasus Covid-19 ini.

    Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menyoroti kenaikan kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia dalam beberapa hari terakhir karena penambahan kasus harian di Indonesia di pekan lalu mengalami lonjakan cukup tinggi.

    Terlebih pada Rabu (8/7/2020), jumlah kasus baru dalam 1 hari kembali memecahkan rekor kasus tertinggi di Indonesia yaitu bertambah 2.657 kasus.

    Memang pada hari berikut, laporan kasus kembali menurun, namun tetap saja kasus baru bertambah dikisaran 1.500.

    Atas kondisi ini pun Jokowi lalu bersikap. Seperti saya lansir dari bisnis.com, Senin (13/7/2020), Presiden Jokowi meminta para menteri tidak hanya memberikan laporan dalam rapat terbatas (ratas) percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/7/2020) dan meminta laporan tersebut tidak bertele-tele.

    “Nanti saya harap yang disampaikan bukan laporan, tapi apa yang harus kita kerjakan, problem lapangan apa dan pendek-pendek. Kita ingin segera bergerak di lapangan,” kata Presiden membuka rapat.

    Dalam ratas tersebut, ada tiga pesan yang disampaikan Jokowi antara lain:

    Pertama, berkaitan dengan memasifkan testing, tracing, dan treatment. Untuk itu, Jokowi mendorong penambahan jumlah laboratorium dan laboratorium mobile untuk meningkatkan jumlah pemeriksaan dan menargetkan jumlah pemeriksaan mencapai 30 ribuspesimen per hari.

    Kedua, pengendalian wilayah perbatasan dan transportasi  antar wilayah juga menjadi perhatian pemerintah. Sehingga tidak ada kasus yang dibawa dari luar ke Indonesia. "Ini betul-betul harus kita jadikan perhatikan lagi karena imported case dari luar negeri juga kita lihat meningkat," ungkap Jokowi.

    Ketiga, penekanan untuk melakukan komunikasi yang partisipatif. Termasuk menggunakan basis keilmuan yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.

    Saat ini gerakan disiplin protokol kesehatan disampaikan Jokowi telah menurun. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan untuk memasifkan kembali hal tersebut.

    Dari tiga pesan yang disampaikan presiden, pesan kedua dan ketiga memang selama ini menjadi biang kerok mengapa perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia menjadi terkesan seperti benang kusut. Pasalnya, tak seriusnya pemerintah menangani corona sejak awal, hingga melaporkan data-data kasus yang tidak valid ke hadapan masyarakat menjadi bumerang hingga kasus corona terus tak terkendali.

    Simalakamanya, andai data-data laporan kasus yang kini signifikan meningkat ini benar sesuai fakta, masyarakat sudah telanjur kecewa dan tak percaya dengan laporan tersebut.

    Setali tiga uang, ketika berbagai pemerintah daerah berupaya menangani corona dengan berbagai model seperti PSBB dan lainnya, pemerintah pusat melalui para menteri dan pembantu presiden, justru mengacaukan berbagai peraturan yang dibuat sendiri dan membingungkan masyarakat. Di sisi lain memperketat aturan, di sisi lain melonggarkan aturan. Di satu pihak bikin peraturan A, pihak lain bikin peraturan B, cenderung tidak nyambung dan bertentangan.

    Lebih dari itu, adanya pengakuan dari stakeholder terkait bahwa memang data pelaporan Covid-19 dari gugus tugas tidak valid, serta adanya ungkapan mengapa hal itu dilakukan demi masyarakat tidak panik, benar-benar sudah "meracuni" pikiran masyarakat yang menjadi benar-benar tak percaya dengan laporan pemerintah selama ini.

    Sehingga pesan kedua dan ketiga Jokowi, bila benar-benar akan dilaksanakan, tidak ada lagi kekacauan peraturan yang tumpang tindih. Tidak ada lagi laporan data yang direkayasa.

    Yang pasti, sejak awal corona hadir di Indonesia, meski telah dibuat peraturan ini dan itu, namun karena semuanya justru membuat rakyat tak percaya, maka masyarakat justru telah hidup normal sejak pandemi ini terjadi. Sebab, masyarakat akhirnya hanya berpikir bahwa hidup mati urusan Allah. Dan, toh saat mereka kelaparan, bantuan dari pemerintah juga tidak seperti harapan, plus banyak salah sasaran dan tidak tepat.

    Kira-kira apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan pesan kedua dan ketiga Pak Presiden?

    Apakah pemerintah akan kembali membuat peraturan yang tegas, namun tidak simpang siur dan tidak saling berbenturan baik antar kementerian dan pemerintah daerah, sehingga membuat rakyat tidak bingung, pun patuh dan disipilin.

    Kira-kira, cara masif seperti apa yang dapat membuat masyarakat kembali percaya kepada pemerintah karena laporan kasus corona terlanjur dicap dan dianggap sandiwara dan rekayasa. Terlebih juga dianggap menjadi kendaraan beberapa pihak untuk mendapatkan "anggaran".

    Semoga, pesan Bapak Presiden tidak berhenti dalam ratas, namun akan teraplikasi hingga membuat masyarakat sadar, tertib, disiplin, dan terutama kembali percaya kepada pemerintah. Jangan sampai, pesan Presiden hanya berhenti sebagai pesan, seperti pesan Presiden mereshuffle kabinet, namun juga hanya masih wacana.

    Yang pasti, kini masyarakat justru sebagian besar sudah hidup normal, lho. Padahal, saat kasus corona di Indonesia terus dilaporkan meningkat, lalu bahwa laporan itu benar atau rekayasa, saat bersamaan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru mengakui temuan para pakar dari 32 negara bahwa virus corona menyebar melalui udara.

    Sehingga, WHO pun meluncurkan protokol kesehatan baru sesuai temuan yang baru ini. Sementara, berbeda dengan negara lain, masyarakat Indonesia justru semakin abai terhadap corona. Selain karena sebab yang sudah saya utarakan, masyarakat pun butuh makan, yang dalam hal ini pemerintah pun tak dapat menggaransi rakyat tak kelaparan, karena bantuan yang diturunkan pun selain tak tepat sasaran, juga jauh dari kecukupan.

    Kira-kira, akan sampai kapan kisah pandemi corona berakhir? Terlalu banyak hal yang "dipelintir". Terlalu sering masyarakat mendengar rekayasa yang "tak asing".

    "Menyelesaikan masalah dengan serius, sering kali tak berhasil, apalagi bila dengan main-main."







    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.