Kisah Negara-negara yang Masih Bebas Kasus Covid-19 - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Palau Hotel di Palau

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 9 September 2020 10:47 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kisah Negara-negara yang Masih Bebas Kasus Covid-19

    Diantara negara-negara di dunia, ada beberapa yang mengklaim belum terkena paparan pandemi Covid-19. Data mereka masih nol kasus positif, seperti ditunjukkan dalam laman WHO, hari ini. Kalangan akademis dan otoritas kesehatan dunia skeptis dengan klaim tersebut. Pasalnya, beberapa negara terbukti pernah menyembunyikan fakta seputar wabah. Sementara di negara-negara kecil yang masih steril kasus positif, tak bisa menghindar dari dampak pegebluk sejagat ini. Bacalah kisahnya.

    Dibaca : 629 kali

    Diantara negara-negara di dunia, ada beberapa yang mengklaim belum terkena paparan pandemi Covid-19. Data mereka masih nol kasus positif, seperti ditunjukkan dalam laman covid.who.int. Sedangkan 185 negara/teritorial lain telah melaporkan temuan kasus Covid-19 di wilayah mereka.  Saat ini sudah 27 juta kasus positif Covid-19 yang terdata di WHO, diantaranya 891 ribu lebih meninggal dunia, data per 8 September. 

    negara mana sajakah yang mengklaim masih bebas Covid-19 alias pandemi corona ini? Daintaranya adalah Korea Utara, Turkmenistan, Palau, dan lain-lain. Namun klaim ini tak sepenuhnya dipercaya berbagai kalangan, karena negara-negara tersbeut dikenal sangat tertutup.

    Laman katadata.co.id menulis, di beberapa negara yang tertutup itu terjadi beberapa kematian yang proses penguburannya dilakukan sesuai standar Covid-19. Juga muncul penyakit yang gejalanya mirip kasus Covid-19. Toh, otoritas masing-masing negara itu selalu berkelit dna tak mengaku cirus asal Wuhan itu telah bertandang ke wilayah mereka.

    Negara Asia Tengah Turkmenistan, misalnya, saat ini belum melaporkan satu pun kasus corona terjadi di sana. Banyak kalangan mencurigai klaim tersebut, negara pimpinan Gurbanguly Berdymukhamedov terkenal sebagai negara paling tertutup di dunia.

    Salah satu yang skeptis dengan klaim itu adalah Martin McKee, Profesor dari London School of Hygiene and Tropical Medicine. Dia telah mempelajari sistem kesehatan di Turkmenistan. "Statistik kesehatan resmi pemerintah Turkmenistan terkenal tidak bisa diandalkan. Kami juga mengetahui pada tahun 2000 mereka menutupi bukti dari serangkaian penyebaran penyakit termasuk wabah,” kata dia.

    Turkmenistan adalah negara yang berbatasan darat dengan empat negara lain, yakni Iran, Kazakstan, Uzbekistan, dan Afganistan.  Semua negara itu sudah mencatatkan kasus corona di wilayah masing-masing.

    Menteri Luar Negeri Turkmenistan membantah tudingan mereka menyembunyikan fakta. “Bila ada satu kasus terkonfirmasi kami akan segera menginformasikan,” kata dia, pada April lalu. 

    Bagaimana dengan Korea Utara? Anda percaya negeri ini masih steril dari virus Covid-19 seperti klaim penguasa setempat?

    Saat menilik data di laman WHO memang masih belum ada laporan kasus positif di negeri pimpinan Kim Jong Un ini. Mereka percaya diri masih aman meski negara tetangganya, Tiongkok dan Korea Selatan, sudha mencatatkan puluhan ribu kasus.

    Media pun berusaha mengulik lebih jauh. Daily NK  -- media yang berbasis di Korea Selatan dan fokus pada pemberitaan soal Korea Utara – menemukan adanya kasus kematian tentara dan sipil karena gejala yang mirip corona. Pada Februari lalu mereka menulis ada lima orang meninggal karena Covid-19 di Sinuiju. Ini adalah kota hub perdagangan yang berbatasan dengan Tiongkok.

    Katadata.co.id juga menulios bahwa surat kabar Korea Selatan Chosun Ilbo juga pernah melaporkan soal dua orang yang diduga terinfeksi corona di kota yang sama.

    Masih ada kasus lainnya. Pada bulan Maret ada 180 tentara meninggal karena gejala mirip Covid-19. Berita ini berdasarkan informasi dari sumber militer di Korea Utara. Laporan lain menyebutkan bahwa otoritas telah melaukan memerintahkan rumah sakit militer melakukan disinfeksi terhadap area karantina dari para tentara yang sakit.

    Entah kenapa di dunia yang sudah sangat terbuka ini para penguasa masih berusaha menutupi keadaan. Wajar, kalaun kalangan akademisi dan otoritas kesehatan seperti WHO kencang menyoroti hal itu. Sebab ketertutupan hanya mempersulit penuntasan pagebluk.

    Sementara itu negara-negara lain di kepualauan Pasisifk juga mengklaim belum terpapar Covid-19. Negara-negara itu adalah Solomon Islands, Vanuatu, Samoa, Kiribati, Micronesia, Tonga, the Marshall Islands Palau, Tuvalu, dan Nauru. Berdasar pengecekan di laman WHO hari ini, Palau, misalnya, memang belum ada laporan kasus positif di negeri yang memiliki pantai-pantai indah tersebut.

    Tetapi ironi pun terjadi. Karena betapa pun mereka bisa menghadang virus Covid, tapi tak bisa menyatop dampak pandemi.

    Mari kita tengok Palau sebuah negeri yang pada tahun 1982 membuka hotel yang merupakan tempat penginapan satu-satunya di sana. Seperti ditulis Tempo.co, sejak pembukaan hotel itu pariwisata setempat mengalami lonjakan.

    Pada tahun 2019, sebanyak 90 ribu pelancong datang ke Palau. Ini angka yang besarnya lima kali lipat dari total populasi. Sektor pariwisata belakangan menyumbang 40% dari Produk Domestik Bruto negara itu.

    Namun, itu semua sebelum dunia dilanda pandemi virus corona. Kini keadaan berubah. Sejak Maret lalu perbatasan Palau sudah ditutup. Industri pariwisata macet. Akibatnya restoran-restoran kosong, toko-toko suvenir tutup.

    Dan bagaimana Hotel Palau? Satu-satunya tamu hotel itu adalah adalah warga setempat yang melakukan karantina!

    Brian Lee, manajer dan salah satu pemilik Hotel Palau, kini berusaha mempertahankan 20 stafnya.  "Saya mencoba memberi pekerjaan untuk mereka - mulai dari pemeliharaan, renovasi, dan sebagainya," katanya.

    Namun, hotel yang tidak dihuni tidak bisa dipertahankan dan direnovasi selamanya. "Saya hanya bisa bertahan setengah tahun lagi," kata Brian. "Lantas, saya mungkin harus menutupnya."

    Presiden Palau pernah mengumumkan, negara tersebut akan membuka kembali penerbangan mulai 1 September untuk perjalanan "penting". Bagi Brian, hal itu tidak semudah yang dibayangkan. "Saya pikir mereka harus mulai membuka kembali  kerjasama wisata dengan Selandia Baru dan negara-negara lain," katanya. "Kalau tidak, tidak ada yang bisa bertahan di sini."

    Melintasi Samudera Pasisifk yang luas menuju Timur, kira sampai di Kepulauan Marshall yang juga dinyatakan bebas Covid-19. Namun, dampaknya yang menyakitka tak bisa dihindarkan.

    Pada Maret lalu pemerintah telah menutup perbatasan. Akibatnya, industri wisata lumpuh. Diperkirakan secara nasional negeri ini akan kehilangan lebih dari 700 pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 258 pekerjaan berasal dari sektor hotel dan restoran.

    Selain wisata, masalah lebih besar adalah industri perikanan. Akibat lockdown kapal-kapal yang berasal dari negara yang terjangkit, dilarang memasuki pelabuhan kota itu. Sedangkan kapal lain, termasuk kapal tanker bahan bakar dan kapal kontainer, harus menghabiskan 14 hari di laut sebelum masuk pelabuhan.

    Dampaknya sangat jelas, ekspor ikan dari Kepulauan Marshall turun hingga 50%. Pengiriman tuna sashimi di pantai turun dalam jumlah yang sama. Industri perikanan lainnya mengalami penurunan 30% sepanjang tahun.

    Singkatnya, Anda dapat mencegah masuknya virus, tetapi Anda tidak bisa mengalahkannya.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.