Kilas Balik Kehadiran Pekerja Asing di Tanah Air - Analisa - www.indonesiana.id
x

Meri Ana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Kamis, 1 Oktober 2020 17:34 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kilas Balik Kehadiran Pekerja Asing di Tanah Air

    Keran ekonomi global pertama kali dibuka pada era Soeharto, saat Indonesia bergabung dengan IMF (International Monetary Fund) & PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Pada 1962, Indonesia ikut serta OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries).

    Dibaca : 432 kali

    Publik menilai kehadiran Tenaga Kerja Asing (TKA) mengancam keberadaan pekerja lokal Indonesia. Di sisi lain, tak sedikit yang menilai TKA memberikan manfaat ekonomi bagi negara ini.

    Keran ekonomi global pertama kali dibuka pada era Soeharto, saat Indonesia bergabung dengan IMF (International Monetary Fund) & PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Pada 1962, Indonesia ikut serta OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries).

    Tahun 1989, Indonesia bergabung dengan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) juga berperan sebagai masuknya TKA di Indonesia. Semenjak menjadi anggota APEC, Indonesia mendapat manfaat positif seperti peningkatan total perdagangan, dan meningkatnya human and capacity building lewat APEC sebagai sarana kapasitas sumber daya manusia.

    Tak hanya APEC, keanggotaan Indonesia di WTO (World Trade Organization) & MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) turut membantu perkembangan ekonomi Indonesia melalui pasar global. Semua kerjasama dengan pihak luar negeri ini berujung hadirnya investor. Ketika investor datang, maka tenaga kerja asing akan hadir. Namun, negara tetap selektif agar tercipta transfer of knowledge, skill, maupun technology.

    Jika TKA dianggap membahayakan publik dan negara ini, mari kita lihat dan renungi kembali. Perbedaan antara pekerja asing dengan imigran. Pekerja asing merupakan pekerja kontrak yang bersurat izin secara legal untuk bekerja di suatu negara. Sedangkan imigran, mereka tinggal dan bekerja selama mungkin di negara singgah tanpa adanya legalitas secara resmi. 

    Lantas, apakah pekerja asing membahayakan? Atau malah, Anda tertarik untuk membuka ruang kerjasama dengan mereka? Mari kita renungkan sejenak. Pantaskah antipati terhadap asing (kaum pekerja) kita teriakan secara lantang?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.