x

cover foto Miss Lu

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 4 Oktober 2020 06:08 WIB

Miss Lu - Perempuan Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik

Miss Lu terpaksa meninggalkan Indonesia karena kecewa dengan pemerintah. Namun nasibnya di Negeri Tiongkok malah lebih menyedihkan. Kecintaannya kepada Indonesia membuatnya mendekati gila. Ketika sang cucu berupaya membantunya untuk berkunjung ke Indonesia, keinginannya untuk kembali tinggal dan mati di Indonesia menggebu. Sayang Miss Lu keburu meninggal. Akhirnya hanya abunya yang berkunjung ke Indonesia. Apakah harus menjadi abu dulu sebelum bisa kembali menjadi bagian dari negeri yang dicintainya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Miss Lu – Putri Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik

Penulis: Naning Pranoto

Tahun Terbit: 2004 (Cetakan kedua)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Grasindo                                                                                                 

Tebal: 260

ISBN: 979-732-242-4

 

Novel ini membahas seorang perempuan tua yang hampir gila karena rindu kepada negeri yang dicintai tetapi sekaligus ketakutan kepada pemerintahnya yang suka menangkap dan menyiksa orang. Miss Lu Tua, demikian nama perempuan tersebut besar di Kembang Jepung di Surabaya dan kemudian tinggal di Malang sebagai pedagang beras. Ia hidup bahagia di Kembang Jepun, sebelum akhirnya pindah ke Malang mengikuti suaminya yang bekerja di pabrik gula. Di Malang ia merintis bisnis beras yang memberikan lapangan kerja kepada orang-orang Jawa yang ada di sekitarnya.

Tetapi karena bisnisnya hancur oleh kebijakan pemerintah melalui PP 10 di tahun 1960-an. Sebab ia tak bisa lagi berdagang di pedesaan. Sementara para pegawainya yang berupaya melanjutkan bisnisnya tak ada yang berhasil. Karena kecewa, ia memilih untuk meninggalkan keluarganya dan pulang ke negeri Tiongkok. Nasip buruk menimpanya. Sebab kepatuhannya kepada Agama Konghucu yang diyakininya saat di Indonesia, dia malah disiksa oleh para pemuda di jaman Revolusi Kebudayaan. Akhirnya ia tinggal di Hong Kong dan kemudian Macau dengan perasaan rindu yang luar biasa untuk kembali ke Indonesia dan dikuburkan di Indonesia.

Namun pada saat yang sama trauma masa lalu, dan khabar bahwa suaminya yang tidak tahu-menahu tentang politik ternyata juga dibunuh karena dianggap PKI, ia menjadi bingung dan terancam menjadi gila. Suami yang ditinggalkannya di Indonesia kemudian menikah lagi dengan seorang Jawa dan pindah ke Boyolali. Di Boyolali itulah dia dibunuh hanya karena dia adalah Cina. Cina sama dengan komunis. Padahal sang suami adalah seorang Tionghoa biasa yang rajin berdagang di desa.

Kerinduan akan negeri yang dicintainya tersebut hampir membuatnya bunuh diri. Namun syukurlah melalui jasa cucunya yang ingin melaksanakan li – perbuatan baik/bakti kepada orangtua, Miss Lu Tua akhirnya bisa dipertemukan dengan keluarga Jawa yang bisa membantunya. Walau akhirnya Miss Lu Tua gagal ke Indonesia karena keburu meninggal, namun abunya berhasil dibawa ke Indonesia untuk mengunjungi Kembang Jepun, Malang dan makam sang suami di Boyolali.

Kisah cerita diawali dari Bandara Schipol di Belanda. Bismo yang sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan kegiatan budaya, bertemu dengan seorang gadis cantik yang meminjam balpoin darinya. Percakapan pendek tersebut membuat Miss Lu Muda berkeinginan meminta tolong kepada Bismo. Sayang karena keburu harus segera naik pesawat maka Bismo tak bisa mengetahui pertolongan apa yang diharapkan darinya oleh si Gadis Cantik tersebut.

Setelah Bismo sampai Jakarta, mereka saling bertilpon. Miss Lu menyampaikan keinginannya untuk meminta bantuan Bismo supaya bisa membawa neneknya ke Indonesia. Upaya untuk membawa nenek Miss Lu Muda ternyata tidak mudah. Sebab selain dari kesibukan Miss Lu Muda, kecemburuan Shinta terhadap keakraban Bismo dengan Miss Lu juga menjadi penyebab.

Akhirnya Bismo yang ditemani oleh ibunya dan calon mertuanya bisa bertemu dengan Miss Lu Tua di Hong Kong. Miss Lu Tua begitu gembira karena bisa bernostalgia tentang Indonesia. Ia bisa menggunakan bahasa Jawa kembali. Percakapan antara Miss Lu Tua, ibunya Bismo, Bismo dan Ibu Utari – calon mertua Bismo berjalan sangat cair dan penuh tawa canda. Sampai suatu saat Ibu Utari menyebut kata “diciduk.” Kata ini langsung membuat Miss Lu Tua menjadi kurang nyaman. Sampai akhirnya berteriak-teriak ketakutan. Miss Lu Tua tak bisa mengontrol diri karena kata “diciduk” tersebut muncul kembali.

Penderitaan Miss Lu Tua berlanjut sampai mati. Keinginannya untuk kembali ke Indonesia dan mati di Indonesia tidak kesampaian. Beliau keburu meninggal sebelum keinginannya ke Surabaya dan kembali tinggal di Malang tergenapi. Namun Miss Lu Muda yang sedang menjalankan li membawa abu jenazah Miss Lu Tua ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi oleh sang nenek.

Hanya setelah menjadi abu dia bisa kembali mengunjungi negeri yang dicintainya.

Dalam novel ini Naning Pranoto bercerita dengan sangat santai. Tidak seperti saat mengisahkan “Mei Merah 1998,” dimana kemarahan terbawa dalam kalimat-kalimatnya, dalam novel “Miss Lu” ini Naning bahkan bisa berlama-lama membahas hubungan cinta antara pemuda Jawa yang berpandangan tradisional dengan kekasihnya yang suka berdagang. Naning menghabiskan lebih dari setengah bukunya untuk mengelaborasi kegalauan seorang pemuda Jawa karena calon istrinya memilih untuk menjadi perempuan mandiri. Shinta, demikian nama calon istri Bismo sang pemuda Jawa, memilih untuk menekuni bisnis roti supaya bisa memiliki penghasilan sendiri. Sementara Bismo merasa galau karena Shinta lebih memperhatikan bisnisnya daripada memperhatikan dirinya. Lelaki Jawa memang tipe yang suka dilayani dan tidak siap mempunyai pasangan yang mandiri.

Naning Pranoto menutup novelnya dengan sesuatu yang mengejutkan, tetapi menurut saya terlalu dipaksakan. Untuk menyelesaikan masalah antara Bismo dengan Shinta, Naning memilih kisah Shinta yang menjadi pacar Nina, teman bisnisnya. Nina adalah seorang lesbian. Dengan bubarnya hubungan Shinta dengan Bismo, pembaca diberi peluang untuk menentukan hubungan Bismo dengan Miss Lu Muda yang cantik jelita tetapi lebih tua dari Bismo.

Karena ditaruh sebagai “alat” menyelesaikan kisah, maka isu lesbian ini tak terlalu terelaborasi. Dalam hal ini Naning mencari cara yang gampang saja. Atau Naning mau mengatakan bahwa di mata orang Jawa, perempuan yang berkarir itu adalah buruk? Itu pun tak terlalu terelaborasi.

 

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler