Mengulik Aksi Pelajar Turun ke Jalan; Melek Politik atau Melek Walang? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Fatimah Azzahra lubis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Oktober 2020

Selasa, 20 Oktober 2020 07:56 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Mengulik Aksi Pelajar Turun ke Jalan; Melek Politik atau Melek Walang?

    Melek walang merupakan istilah bagi orang yang secara fisik membuka matanya, namun tidak mengetahui isu dan keadaan yang sedang terjadi disekitarnya. Artikel ini akan membahas faktor penyebab dari aksi unjuk rasa yang dilakukan pelajar. Benarkah penyebabnya karena minimnya budaya literasi?

    Dibaca : 748 kali

    Melek walang merupakan istilah bagi orang yang secara fisik membuka matanya, namun tidak mengetahui isu dan keadaan yang sedang terjadi disekitarnya. Artikel ini akan membahas faktor penyebab dari aksi unjuk rasa yang dilakukan pelajar.

    ---

    Akhir-akhir ini media sedang diramaikan dengan aksi penolakan omnibus law UU cipta kerja yang dilakukan oleh segenap kalangan mulai dari buruh, mahasiswa, dan juga pelajar dari berbagai daerah. Mereka turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya di depan gedung DPR dan istana negara.

    Ada hal menarik perhatian warga net kala itu, yaitu ketidaktahuan para demonstran atas maksud dan tujuan aksi demo tersebut. Dalam sebuah video yang sedang viral diperlihatkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menemui para demonstran dari kalangan pelajar di Mapolrestabes Semarang, 9/10. Saat ditanya apa yang sedang mereka demokan, para pelajar tersebut tidak bisa menjawab. Mereka mengakui mendapat pesan berantai dari aplikasi Whatsapp  dan terpengaruh untuk ikut berpartisipasi.  

    Ini bukanlah yang pertama kali, pada tahun 2019 saat demo penolakan RUU KUHP hal serupa juga terjadi. kenapa bisa demikian?

    Kurangnya budaya literasi di Indonesia

    Minat baca penduduk Indonesia masih sangat rendah. Masih banyak dijumpai orang-orang yang hanya membaca judul besarnya saja, namun tidak membaca lebih rinci apa isinya. Tidak mau membaca buku petunjuk penggunaan akan tetapi langsung mengajukan komplain dan mengklaim barang yang dibelinya rusak.

    Dengan kata lain, banyak bertanya padahal semua yang ditanyakan sebenarnya sudah tertera jelas. Ini merupakan intepretasi peribahasa malu bertanya sesat dijalan yang salah kaprah.  

    Hal inilah yang memicu kesalahpahaman dalam menyikapi sebuah  fenomena.  Memang boleh jadi tiap orang mempuyai pandangan dan opinimya masing-masing namun jika hal yang dipahami malah keluar dari konteks pembahasan, justru akan membuat orang lain yang mendengar mengernyitkan dahinya.

    Mulai memikirkan aktualisasi diri

    Masa remaja adalah masa-masa peralihan, dari yang sebelumnya hari-hari mereka diwarnai dengan aktivitas bermain dan bereksplorasi, kini menapaki tangga yang lebih tinggi yaitu seorang dewasa yang dituntut untuk berperilaku bijak dan berpikir logis. Maka tak ayal jika mereka ingin sekali mengemban tugas-tugas kedewasaan meskipun belum memperhitungkan kebenaran dari tindakannya.

    Perbuatan yang mereka lakukan merupakan wujud dari rasa ingin diperhatikan, diperhitungkan dan dihargai oleh orang-orang sekitar

    Rasa solidaritas yang tinggi, namun jika terlalu tinggi bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri

    Seperti lagu yang dilantunkan oleh Chrisye “tiada masa paling indah, masa-masa disekolah”  meskipun lirik lagu ini lebih merujuk pada kisah kasih sepasang kekasih, namun tak dapat dipungkiri masa-masa sekolah merupakan masa dimana kita merasakan berbagai macam emosi. Rasa suka dengan lawan jenis, rasa kebersamaan yang kuat dengan teman-teman sejawat, hingga pada titik terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat. Hal inilah yang membentuk rasa solidaritas dan jiwa korsa yang kuat.

    Akan tetapi rasa solidaritas yang tidak diikuti dengan pola pikir yang terbuka (open minded) hanya akan membuat kerugian bagi diri sendiri bahkan orang lain. Dalam ilmu sosial hal ini biasa disebut dengan Groupthink. Anggota dalam sebuah kelompok tidak bisa secara leluasa memberikan pendapat dan pola berpikir kritis tidak berlaku karena adanya tekanan kelompok.  

    Tak menutup kemungkian sebuah kebohongan menjadi kebenaran karena banyak orang yang mempercayainya, begitu pula sebaliknya sebuah kebenaran bahkan bisa menjadi kebohongan karena banyak orang yang tidak mempercayainya.

    Apa yang harus dilakukan?

    Memperbaiki kebiasaan buruk tidak akan sulit jika didukung dengan faktor-faktor berikut: ada kemauan, ada yang memulai, dan mendapat dukungan dari kedua belah pihak. Yang paling utama yaitu adanya kemauan. Akan percuma saja jika kita mengharapkan adanya sebuah perubahan tapi tidak diikuti dengan kemauan dan tekad yang kuat. Kemudian seseorang harus ada yang mengawali dalam mewujudkan perubahan tersebut.

    Dan yang terakhir mendapatkan kesan positif dari pihak internal maupun eksternal sehingga perubahan yang sedang ingin diwujudkan tidak hanya sekedar angin musim yang lewat saja. Namun dapat terus-menerus dilakukan sehingga membentuk sebuah budaya yang baru.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.