Merayakan Pandemi Melalui Sila Ke-3; Koalisi Rakyat, Filantrofi dan Parlemen - Pilihan - www.indonesiana.id
x

sumber:pixabay.com

Ahmad Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 November 2020

Senin, 9 November 2020 06:47 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Merayakan Pandemi Melalui Sila Ke-3; Koalisi Rakyat, Filantrofi dan Parlemen

    Artikel ini berisi informasi tentang persatuan dalam menghadapi pandemi covid 19.

    Dibaca : 703 kali

    Pembuka

    Seorang filsuf asal Yunani pernah mengatakan bahwa “keberanian adalah pengertian dalam menghadapi ketakutan dan keyakinan”.1 Bangsa kita telah menghadapi banyak maharana yang kemudian memunculkan ketakutan dan bilur. Peperangan zaman kerajaan dan penjajahan telah menjadi bukti sejarah yang valid. Ketakutan lain yang tak kalah hebat adalah korupsi, bencana alam sampai takut tak bayar hutang. Bangsa kita juga sudah sering menghadapi keyakinan, mulai dari sumpah palapa, sampai Indonesia emas 2045. Dua hal ini menjadi alasan kuat mengapa tulisan ini hadir. Kenapa demikian? Saat ini keberanian kita sedang diterpa. Ketakuan dan keyakinan menjadi dua sisi dalam satu lambang yang mesti digenggam oleh seluruh tangan-tangan manusia. Sebab Covid 19 telah menampakan anggara-nya. Ia menyusupkan ketakuan dan keyakinan dalam setiap benak manusia, dalam benak seluruh penduduk bangsa Indonesia.

    Naif rasanya jika kita tidak peduli, atau menyangkal akan kondisi ini. Jutaan telah terinfeksi (+/-15 Juta) dan ratusan ribu jiwa telah tiada.2 Resesi ekonomi dan lumpuhnya kehidupan sosial terjadi setelahnya. Begitu cepat, tak terduga dan memusingkan banyak kepala. Ini berlaku bagi semua orang, baik pedagang bakso ataupun pemimpin negara. Ini juga berlaku bagi seluruh kawasan, baik negara yang disebelah timur, maupun negara yang disebelah barat. Kita, mereka dan semua terpukul dengan makhluk kecil tak kasat mata, yang bahkan tak terdengar sedikit pun suaranya.

    Beberapa data dan opini akhir-akhir ini juga banyak yang membuat orang khawatir. Misalnya dalam hal kemiskinan, Bank Dunia memperkirakan akan ada 120 juta orang yang jatuh miskin akibat pandemi covid 19 ini.3 Indonesia sendiri diperkirakan akan ada 5,5-8 juta orang yang jatuh miskin.4 Apabila tidak ada bantuan massif dari pemerintah, lonjakan kemiskinan akan sangat signifikan. Belum lagi, penambahan fasilitas kesehatan dan banyaknya tenaga medis yang gugur membuat semuanya semakin buruk.

    Tidak hanya itu, dampak dari pendemi ini juga berlaku pada bidang lain. Misalnya dalam pendidikan, UNESCO menyebutkan bahwa pada bulan April 2020 ada 1,6 milyar pelajar diliburkan dari sekolah dan universitas karena langkah-langkah untuk menekan penyebaran Covid-19.5 Angka tersebut merupakan sekitar 90% dari seluruh populasi siswa di dunia. Begitu pun dengan Indonesia, pelajar akhirnya harus memakai metode online untuk belajar. Apakah tidak ada kendala? Jelas banyak! Tidak semua daerah memiliki jaringan internet yang stabil. Tidak semua siswa memiliki sarana teknologi. Dan tidak semua guru dapat membuat video atau mengajar di rumah dengan baik sebab tidak semua guru memiliki lingkungan yang layak dirumahnya.

    Dampak yang tidak kalah hebatnya adalah mengenai kesehatan mental.6 Bayangkan saja, manusia yang setiap hari menjelajah penjuru bumi harus mengurung diri di rumah selama beberapa bulan. Kondisi ini menjadi sebuah anomali, jalanan-jalanan kota yang biasanya disibukan aktivitas manusia kini menjadi tempat yang bebas dan menyenangkan bagi beberapa hewan liar.7 WHO mengingatkan bahwa krisis kesehatan mental sangat riskan terjadi saat pandemi. Banyak sekali hal-hal yang menyayat hati sekaligus menjadi pembelajaran yang luar biasa bagi umat manusia akibat dampak pendemi ini.

    Hebat memang! Tapi mau ataupun tidak mau, kita tetap harus menghadapi ini semua. Pemerintah Indonesia dengan memenuhi berbagai syarat yang ditentukan oleh WHO akhirnya mensosialisasikan istilah “tatanan hidup baru” atau lebih dikenal dengan sebutan “the new normal” sebagai upaya untuk berdamai dengan covid 19 dan untuk mengurangi dampak dari pendemi.8 Hal ini juga dilakukan oleh banyak negara, sebab apabila diam saja kondisinya semakin buruk.9 Ya, semua memang harus dihadapi dengan keberanian. Tapi apakah itu cukup? Apabila cukup, mungkin perlahan ekonomi negara naik, atau penularan covid 19 semakin turun. Nyatanya tidak demikian, kondisi ekonomi kita saat ini masih belum aman, apalagi jika melihat kondisi di lapangan. Selain itu, saat tulisan ini dibuat ada 1693 kasus penularan baru covid 19 menurut Juru Bicara Pemerintah.10

    Keberanian saja tidak cukup. Kita perlu satu kunci lagi, yakni persatuan! Falsafah negara kita pun mengajarkan persatuan. Termaktub dalam sila ke-3 yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Esai ini akan menjelaskan persatuan seperti apa yang dibutuhkan dimasa pandemi ini. Tentu saja, rincian pembahasannya merujuk pada data sejarah bangsa dan sejarah pandemi dunia yang dapat menjadi wiyata. Ya, pendemi kali ini bukanlah yang pertama kali, mari kita belajar dari fenomena yang ada sebelumnya.

     

    Pembahasan

    Merayakan pandemik melalui sila ke-3, inilah yang mesti disosialisasikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mempertautkan hasrat-hasrat persatuan itu ke dalam kerangka kebangsaan. Soekarno berulang kali menyebutkan “pembentukan suatu bangsa pertama-tama karena adanya kesamaan riwayat (nasib) dan kehendak untuk bersatu”. Dalam hal ini, persatuan tidak hanya mengikat pada bangsa kita sendiri, tapi juga memperluas mengatur pertaliannya dengan negara lain. Inilah yang disebut dengan “E’tat nation, nationale staat, negara kebangsaan”, yang mensyaratkan “kedaulatan ke dalam dan kedaulatan ke luar”. Inilah yang disinggung secara eksplisit oleh Muhammad Yamin.11

    Persatuan Indonesia adalah bentuk persatuan yang sistematis antara rakyat, filantropi, parlemen, dan pemerintah eksekutif. Keberanian dan persatuan dalam menghadapi pandemic covid 19 memang harus terstruktur dan mengikat satu sama lain. Rakyat sebagai elemen dasar bangsa dan sebagai penguasa terbesar negara tidak boleh menyerah dan berpangku tangan begitu saja. Rakyat harus saling menguatkan antar rakyat, harus menguatkan tenaga medis, harus menguatkan pemerintah, dan harus menjadi pelopor dalam membantu sesama dan negara. Persatuan antar rakyat ini akan memberi stimulus positif kepada oknum-oknum yang masih meremehkan covid 19. Misalnya, bila kita berkaca pada Jerman yang cukup sukses menghadapi covid 19 dibandingkan negara-negara Eropa lain yang salah satu faktornya adalah berhasil memisahkan orang sakit/terinfeksi, pasien tanpa gejala dan populasi penduduk sehat. Tanpa ada persatuan dari rakyat Jerman, hal tersebut sangat sulit dilakukan.12

    Pada tahun 1918, Dunia juga pernah mengalami pandemi akibat wabah flu spanyol yang disebabkan virus H1N1. Saat itu, sekitar 500 juta orang terinfeksi (sepertiga penduduk dunia) dan menewaskan 50 juta orang. Wabah ini disebut sebagai pandemi paling mematikan abad 20. Kondisinya pun sama, saat itu belum ada vaksin untuk melindungi dari infeksi virus. Dan cara yang dapat dilakukannya pun sama yakni dengan menerapkan non-pharmaceutical interventions (NPI) atau intervensi nonfarmasi, yakni langkah-langkah yang dimaksudkan untuk mencegah penyebaran virus dengan mengurangi kontak dalam populasi.13

    Lockdown, PSBB atau Isolasi mandiri misalnya. Namun apakah ini dapat optimal dilakukan? Tanpa persatuan sepertinya akan sangat sulit. Contohnya, pelanggaran PSBB atau pengucilan yang dilakukan oleh masyarakat kepada orang yang diisolasi. Contoh tersebut akan berdampak buruk pada psikologis. Hal ini nantinya akan membuat orang tak jujur tentang kondisi kesehatannya. Pemberian nuraga dan empati kepada orang yang positif covid 19 atau dalam pemantauan yang sedang diisolasi akan sangat membantu memutus rantai penularan covid 19. Persatuan antar rakyat adalah kunci utama dalam memerangi covid 19 ini.

    Lembaga filantrofi yang memang umumnya bergerak dibidang kemanusiaan pun membutuhkan rakyat untuk menerima dan memberi. Kekuatan lembaga filantropi tergantung pada kekuatan persatuan rakyat. Rakyat golongan menengah ke atas membantu golongan menengah ke bawah, dan rakyat golongan menengah ke bawah saling membantu sesama dengan menerapkan perilaku-perilaku yang menguatkan ekonomi dan kesehatan. Rakyat yang memiliki waktu dan tenaga membantu menjadi relawan di lapangan, dan rakyat yang memiliki dana lebih membantu menguatkan pendanaan. Rakyat yang membantu dan rakyat yang dibantu bersatu. Maka semakin lengkaplah persatuan antar rakyat.

    Pemberdayaan ekonomi dan kewirausahaan yang dilakukan oleh lembaga filantrofi juga turut membantu membangun ekonomi saat pandemi. Juga mengenai kesehatan dan ketahanan peangan serta gizi yang banyak diberikan oleh relawan filantrofi sangat membantu rakyat dan pemerintah. Filantrofi, pemerintah dan lembaga ilmu pengetahuan juga harus bersatu dalam melakukan penelitian lanjutan mengenai covid 19 ini agar masyarakat memiliki informasi akurat untuk menjaga diri. Bergeraknya relawan dalam membantu masyarakat menjadikan mereka adiwira yang patut kita syukuri. Inilah yang disebut dengan satu ikatan keberanian dan persatuan.

    Begitupun dengan pemerintah, dalam hal ini lembaga eksekutif dan legislative sebagai pelaksana, pengawas, pengatur legislasi serta orang yang mahardhika dan bestari. Seluruh kegiatan dan pemikiran mereka harus berfokus pada negara dan rakyat, terutama dalam mengatasi berbagai dampak pandemic. Dalam skala nasional, pemerintah dan parlemen harus memberikan kepastian dan ketenangan kepada seluruh rakyat Indonesia. Terutama mengenai pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, fasilitas kesehatan dan terobosan pendidikan guna meminimalisir dampak pandemi. Bila semuanya bersatu dan memiliki nasib yang sama dalam kondisi ini, maka dampak-dampak dari pandemic akan memudar. Ini dikarekan kesadaran persatuan telah menumbuhkan kesadaran-kesadaran lain yang membantu meminimalisir pergerakan penularan covid 19 dan juga membantu memaksimalkan pergerakan ekonomi.

    Setelah itu, sebagai bangsa yang besar dan memiliki sejarah panjang yang tidak hanya memikirkan rakyat sendiri, Indonesia harus memiliki peran strategis dalam membantu menstabilkan situasi serta kondisi yang mulai terhuyung-huyung ini. Salah satu yang memiliki kesempatan membawa nama Indonesia untuk menjadi pelopor persatuan bangsa-bangsa dalam meminimalisir buasnya fenomena pandemic secara global adalah mereka yang berada dalam gedung parlemen. Kita tidak bisa terbebas dari pendemi jika hanya memikirkan negara sendiri. Kenapa? Kita ambil contoh Vietnam atau Selandia Baru yang sukses memutus jaringan covid 19 di negaranya. Tapi, apakah mereka terbebas dari pandemi? Tentu saja tidak, karena negara-negara lain yang sibuk dengan covid akan memutus banyak hubungan dengan mereka. Vietnam dan Selandia Baru boleh saja aman dari covid 19, tapi mereka tidak akan aman dari pandemi, karena suatu negera saat ini tidak akan bisa survive tanpa negara lain.

    Itulah yang mesti digaungkan oleh orang-orang yang paham betapa keberanian dan persatuan akan segera menyingkirkan pandemi ini secara perlahan. Persatuan bangsa dan persatuan antar bangsa sangat dibutuhkan saat ini. Negara-negara tidak bisa bergerak sendiri-sendiri, semuanya harus bersatu. Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI memiliki peran strategis untuk mewujudkan persatuan itu. Indonesia pernah menjadi perantara persatuan negara-negara asia-afrika. Kini, sudah saatnya Indonesia menjadi pelopor kembali dalam mewujudkan persatuan itu dan mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia siap menjadi bagian penting dalam menyelesaikan pandemic secara global.

    Kerja sama antar parlemen dunia akan menjadi suryakanta dalam menemukan informasi dan memudahkan banyak hal di segala bidang. Terutama mengenai data covid dan cara menyelesaikannya di suatu negara untuk menjadi contoh bagi negara lain. Juga dapat menekan pihak-pihak yang memiliki kapasitas untuk segera melakukan penelitian lanjut guna memprediksi bagaimana covid 19 ini dapat terhenti. Selain itu, kerja sama juga dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi lain terutama soal dampak ekonomi, kesehatan, sosial dan pendidikan.

     

    Kesimpulan

    Pandemi covid 19 telah mengabarkan betapa keberanian saja tidak cukup untuk menghadapinya. Pandemi mengajarkan bahwa manusia harus memiliki hati yang nirwana dan derana. Pandemi mengharuskan manusia bersatu dalam satu ikatan nasib yang sama. Rakyat harus lebih survive lagi, filantrofi harus lebih bekerja keras lagi, parlemen harus lebih kuat lagi, pemerintah harus lebih bertindak lagi, dan semuanya harus saling menguatkan lagi. Beberapa poin-poin penting dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:

    1. Persatuan antar rakyat dengan rakyat

    2. Persatuan antar rakyat dengan filantrofi

    3. Persatuan filantrofi dengan pemerintah

    4. Persatuan pemerintah dengan rakyat, dan;

    5. Persatuan Indonesia dengan dunia.

    Kuatkan genggaman antar rakyat, antar filantrofi, antar parlemen, antar pemerintah, kemudian ikat semua elemen itu menjadi satu, dan tunjukan pada dunia bahwa Indonesia siap menghadapi pandemi covid 19 dan siap menjadi pelopor untuk mewujudkan persatuan yang lebih besar lagi guna menghentikan pandemi dan dampaknya. Semoga!

     

    Daftar Pustaka

    1 Aristotele, filsuf asal Yunani.

    2 Kompas.com, 22 Juli 2020. Update Virus Corona di Dunia 22 Juli: 15 Juta Orang Terinfeksi | Perang Hoaks WHO soal Covid-19.

    Republika.co.id, 16 Juli 2020. Bank Dunia: 120 Juta Orang akan Jatuh Miskin Akibat Pandemi.

    4 Finance.detik.com, 17 Juli 2020. 8 Juta Oran RI Terancam Jatuh Miskin, Ini Biang Keroknya.

    5 Bbc.com, 13 Juli 2020. Pendidikan anak: Hampir 10 juta anak 'berisiko putus sekolah permanen' akibat pandemi Covid-19, kata badan amal.

    6 Republika.co.id, 14 Mei 2020. WHO: Pandemi Covid 19 Sebabkan Krisis Kesahatan Mental.

    7 Bbc.com, 3 Mei 2020. Virus Corona: Bagaimana Hewan Liar Menikmati Kebebasan Ditengah Lockdown.

    8 Wartaekonomi.co.id, 4 Juni 2020. 6 Syarat New Normal dari WHO, Indonesia Termasuk?

    9 Akseleran.co.id, 12 Juni 2020. Negara-negara Ini Mulia Menjalani New Normal.

    10 Tribunnews.com, 20 Juli 2020. BREAKING NEWS Update Corona Indonesia 20 Juli 2020: Bertambah 1.693, Kini Ada 88.214 Kasus Positif.

    11 Yudi Latif, 2015. Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. h329

    12 Tribunstyle.com, 2 Mei 2020. DUNIA Babak Belur Dirongrong Virus Corona, 5 Negara Ini Sukses Lawan Covid-19, Lihat Rahasianya!

    13 Nationalgeografhic.grid.id, 20 Maret 2020. Belajar dari Flu Spanyol 1918, Cara Ini Bisa Cegah Penyebaran Corona.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.