Melatih Kreativitas Siswa dengan Mind-Mapping - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

mindmapping

Ahmad Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 November 2020

Sabtu, 7 Mei 2022 18:56 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Melatih Kreativitas Siswa dengan Mind-Mapping

    Artikel ini membahas tentang metode belajar mindmapping serta praktik dan manfaatnya bagi siswa

    Dibaca : 484 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulis: Ahmad Hidayat, M.Pd

    Guru SDN Tugu Selatan 03 Jakarta Utara

     

    Metode belajar bagi siswa sejatinya sangat beragam. Tinggal, bagaimana caranya guru meracik dan meramu dalam bentuk konsep belajar yang kreatif, bermakna dan menyenangkan di kelas. Ketika sudah berbicara konsep, maka metode hanya akan jadi satu bagian dari seluruh bagian konsep belajar. Salah satu metode belajar yang cukup menarik adalah mind mapping. Bagi yang belum tahu, mind-mapping adalah satu cara baru yang dipopulerkan oleh Tony Buzan untuk mencatat ide atau gagasan yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan berpikir (Anggen; 2015). Konsep mindmapping dalam konteks pembelajaran adalah cara belajar dengan pendekatan optimasi otak kiri dan kanan secara bersamaan (Miftah, dkk: 2021). Hal tersebut terjadi karena pada prosesnya mindmapping memadukan analisa, angka, logika dan detail dengan kreativitas, imajinasi, gambaran besar dan konseptual.

    Definisi lain disampaikan oleh Rahman (2018) yang menyebut mindmapping sebagai metode belajar dengan menerapkan cara berpikir runtun terhadap suatu permasalahan bagaimana bisa terjadi termasuk ke dalam penyelesaiannya. Pengajarannya membentuk skema yang memiliki hubungan sebab akibat dan saling berpengaruh. Metode ini mampu meningkatkan analisis dan berpikir kritis siswa sehingga memahami sesuatu secara keseluruhan dari awal sampai akhir.  sebuah metode belajar yang fokus pada kata-kata kunci yang ditata dalam bentuk peta pikiran. Dengan cara ini, siswa tidak perlu diajarkan untuk menghafal materi yang banyak. Cukup dengan mengetahui kata kunci berupa informasi penting yang terkait dengan tema atau judul.

    Mind mapping dapat melatih kreativitas. Kreativitas sendiri adalah produk dari berpikir kreatif. Lebih luasnya adalah keterampilan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan konsep atau gagasan tertentu. Menurut (Sunaryo: 2004) unsur-unsur yang terkandung dalam kreativitas adalah pengetahuan, imajinasi dan evaluasi. Bagaimana Mindmapping dapat melatih kreativitas anak? Pertama yang harus dipahami adalah seorang anak disebut kreatif jika ia menunjukkan ciri-ciri berikut ini; (a) Anak yang kreatif cenderung aktif, (b) Bereksplorasi, bereksperimen, memanipulasi, bermain-main, mengajukan pertanyaan, menebak, (c) Menggunakan imajinasi ketika bermain peran, bermain bahasa, bercerita, (d) Berkonsentrasi untuk tugas tunggal dalam waktu cukup lama, (e) Menata sesuatu sesuai selera, (f) Mengerjakan sesuatu dengan orang dewasa, (g) Mengulang untuk tahu lebih jauh, (Putri dalam Mulyati&Amalia, 2013).

    Kemudian beberapa ciri anak kreatif yang lainnya antara lain; (a) Lancar berpikir, (b) Fleksibel dalam berpikir, (c) Orisinil (asli) dalam berpikir, (d) Elaborasi, (e) Imaginatif, (f) Senang menjajaki lingkungannya, (g) Banyak ajukan pertanyaan, (h) Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, (i) Suka melakukan eksperimen, (j) Suka menerima rangsangan baru, (k) Berminat melakukan banyak hal, (l) Tidak mudah merasa bosan, (Putri dalam Mulyati&Amalia, 2013).

    Proses pembuatan mindmapping memberikan pengalaman belajar berbasis pengetahuan dan imajinasi sekaligus. Pengetahuan yang dimaksud adalah pemahaman akan butir-butir kata yang dijadikan point pada mindmapp tersebut. Sementara itu untuk imajinasinya adalah tentang bentuk, struktur, alur dan konsep mindmapp yang siswa buat. Prosesnya diyakini penuh dengan pemikiran yang orisinil, penuh stimulus, rasa ingin tahu untuk bereksperimen, memiliki minat dan tidak mudah bosan. Yang berarti, hal ini dapat melatih kreativitas siswa dan dapat meningkatkan kreativitas siswa. Apalagi kalau misalkan dipadukan dengan presentasi atau kegiatan lain yang dapat melatih kemampuan lanjutan.

    Sebagai penguat, berikut adalah manfaat dari metode mindmapping bagi siswa menurut Femi Olivia dalam bukunya yang berjudul gembira belajar dengan mindmapping  (2008):

    1. Membantu untuk berkonsentrasi dan lebih baik dalam mengingat.
    2. Meningkatkan kecerdasan visual dan keterampilan observasi.
    3. Melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikasi.
    4. Melatih inisiatif dan rasa ingin tahu.
    5. Meningkatkan kreativitas dan daya cipta.
    6. Membuat catatan dan ringkasan pelajaran dengan lebih baik.
    7. Meningkatkan kecepatan berpikir dan mandiri

     

    Berikut adalah contoh mindmapp yang dibuat siswa sekolah dasar, bagaimana lebih menarik bukan?

    sumber pribadi

     

    Mind mapping sangat cocok diajarkan kepada siswa karena metode ini sangat mudah sekali di aplikasikan baik tingkat sekolah dasar ataupun menengah. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Tony Buzan pada tahun 1974 sebagai bentuk atau cara untuk memaksimalkan potensi pikiran menusia dengan menggunakan otak kanan dan otak kirinya secara simultan.

    Konsep yang pernah saya pakai untuk metode mindmapping adalah sebagai berikut:

    Langkah 1: Persiapkan diri siswa untuk belajar. Cara ini dikenal dengan apersepsi, sangat penting bagi seorang guru untuk mengkondisikan siswanya dalam kondisi yang benar-benar siap untuk belajar. Dapat dengan memberikan stimulus berupa motivasi atau ice breaking, dapat juga dengan cara-cara lain yang menghibur dan membuat siswa nyaman untuk memulai harinya dalam belajar.

    Langkah 2: Sebutkan tujuan pembelajaran. Siswa perlu mengetahui tujuan mereka belajar, agar secara sadar siswa paham bahwa apa yang mereka lakukan punya maksud dan tujuan tertentu.

    Langkah 3: Elaborasi. Seperti yang sudah disampaikan di awal, bahwa mindmapping hanyalah satu dari macam metode atau model belajar dari keseluruhan konsep belajar. Pada elaborasi, guru dapat mengkolaborasikan penyampaian materi dengan berbagai macam pendekatan, strategi, ataupun model belajar secara umum. Diharapkan pada proses ini siswa mendapatkan point-point penting pembelajaran.

    Langkah 4: Penggunaan metode mindmapping. Saya menjadikan mindmapping sebagai alat untuk merangkum, memetakan, dan mempertajam analisis siswa. Itulah mengapa saya menempatkan mindmapping dibagian pertengahan akhir sebelum evaluasi. Dalam mindmapping.com ada beberapa yang dapat kita lakukan dalam membuat atau mengajarkan mindmapping, yaitu:

    1. Menulis ide pokok atau topik utama materi. Buatlah tulisan atau gambar di tengah tentang topik materi.
    2. Buat banyak cabang yang berhubungan dengan topik. Cabang-cabang ini dapat merujuk pada definisi materi, jenis-jenis, contoh-contoh, manfaat, tujuan, dan semua yang sekiranya penting.
    3. Gunakan gambar atau warna yang sesuai saat membuat mindmapping, hal ini dapat membuat kita memahami materi yang dipelajari.

    Adapun menurut Anggen (2015) langkah-langkah dalam membuat mindmapping adalah sebagai berikut:

    1. Tema besar ditulis di bagian tengah kertas (tema utama)
    2. Tiap judul ditulis di cabang, gunakan warna yang berbeda untuk tiap cabang.
    3. Sub judul ditulis di ranting.
    4. Gunakan satu kata atau satu frasa saja.
    5. Semakin rimbun cabang dan rantingmu, semakin banyak hal yang ditemukan pikiranmu.

     

    Daftar Pustaka

    Miftah Mohamad, dkk. 2021. Sistem informasi manajeman pendidikan; buku. Banyumas: Zahira Media Publisher.

    https://www.mindmapping.com/

    Monica Anggen. 2015. Yakin selamanya mau dipojokan; 50 cara menjadi pribadi yang semakin eksis dan penuh karya. Jakarta: Grasindo

    Olivia, Femi. 2008. Gembira belajar dengan mindmapping. Jakarta: Elex Media Komputindo

    Rahman, Taufiqur. 2018. Aplikasi model-model pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas. Semarang: CV Pilar Nusantara

    Sri Mulyati dan Amalia Aqmarina Sukmawijaya. 2013. Meningkatkan Kreativitas pada Anak. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, vol 2: Universitas Islam Indonesia

    Sunaryo, 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.