Kisah Tiga Generasi Habaib di Kota Malang - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih saat haul Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih

Muhammad Musleh

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 24 November 2020 10:08 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kisah Tiga Generasi Habaib di Kota Malang

    Habib Abdullah dan Habib Alwi yang merupakan generasi kedua setelah Habib Abdul Qadir seakan berbagi peran di dua lapisan dakwah. Bila Habib Abdullah mengajar di pesantren dan menghadiri kajian ilmiah, Habib Alwi berdakwah ke khalayak yang lebih luas. Kota Malang pun menjadi pusaran dakwah habaib, tentu bersama Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai sesama pelestari ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).

    Dibaca : 1.655 kali

    Sebelum saya lahir tahun 1985, di Kota Malang sudah terkenal seorang ulama yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW bernama Habib Alwi bin Salim Alaydrus. "Ustadz Alwi," begitu orang biasa menyapa pengajar Madrasah Attaraqqie, Embong Arab, yang kemudian mendirikan Majelis Taklim Al-Islami, kelompok pengajian keliling dengan puluhan ribu jamaah yang tersebar di seantero Malang Raya.

    Bapak saya yang merupakan salah seorang pengikutnya sering bercerita tentang pengajian Habib Alwi yang selalu dipenuhi banyak orang. Baik ketika mengajar di Masjid Agung Jami' Malang setiap Rabu malam Kamis, sampai pengajian Ahad pagi di rumah beliau di Jl. IR Rais No. 7 Malang (sekitar 1 km dari Masjid Jami') yang pesertanya meluber sampai ke jalan-jalan di sekitarnya. Belum lagi jika Majelis Taklim Al-Islami mengadakan pengajian umum di suatu desa, konvoi kendaraan akan mengular mengikuti kemanapun Habib Alwi berdakwah.

    Habib Alwi belajar ke banyak guru. Namun yang paling istimewa adalah saat nyantri ke Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, seorang mubaligh dari Hadramaut, Yaman, yang lama bersafari dakwah dari kota ke kota di Hindia Belanda sampai akhirnya menetap di Malang. Di kota ini  Habib Abdul Qadir mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah, beberapa bulan sebelum Republik Indonesia merdeka.

    Habib Abdul Qadir adalah pakar hadits yang juga wali quthub. Bersama putra tunggal yang kemudian meneruskan mengasuh pesantren selepas beliau wafat, yakni Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, Pesantren Darul Hadits menjadi pusat kajian hadits terkemuka hingga Al-Imamain juga diminta mengajar di institusi negara seperti IAIN dan IKIP. Habib Abdullah bahkan memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, lalu diangkat sebagai Profesor di Jamia Lahore Al-Islamia, Pakistan, dan Darul Uloom Nadwatul Ulama, Lucknow, India.

    Habib Abdullah dan Habib Alwi yang merupakan generasi kedua setelah Habib Abdul Qadir seakan berbagi peran di dua lapisan dakwah. Bila Habib Abdullah mengajar di pesantren dan menghadiri kajian ilmiah, Habib Alwi berdakwah ke khalayak yang lebih luas. Kota Malang pun menjadi pusaran dakwah habaib, tentu bersama Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai sesama pelestari ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).

    Aswaja berwatak moderat. Ketika akhir 1970-an dunia Islam bergolak karena seruan revolusi oleh pemimpin Syiah, Ayatullah Rohullah Khomeini, yang sukses menggulingkan tirani Shah Iran di negerinya, ulama Aswaja tidak terprovokasi. Demikian juga saat demonstrasi menolak asas tunggal Pancasila yang dipaksakan rezim Orde Baru berubah menjadi tragedi berdarah di Tanjung Priok, Jakarta, pada 1984, habaib di sini tidak serta merta menyatakan permusuhan ke pemerintah yang berkuasa.

    Dalam sebuah haul Habib Abdul Qadir Bilfaqih tahun 1980-an, Pesantren Darul Hadits bahkan memajang potret Presiden Soeharto di dekat mimbar penceramah. Habib Abdullah pun menulis risalah Mengapa Umat Islam Menerima Pancasila, mirip yang dilakukan PBNU yang menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas partai politik dan organisasi masyarakat masa itu.

    Habib Alwi juga memilih berkompromi dengan penguasa dengan sering mengundang pejabat sipil dan militer untuk mengikuti kegiatan Majelis Taklim Al-Islami. Saya ingat dulu Habib Alwi berpose dengan Pangdam V/Brawijaya Mayjen Imam Utomo, dikelilingi sebuah kelompok pencak silat lokal yang di dalamnya termasuk bapak saya, yang selama ini menjadi pengawal Habib Alwi saat berdakwah.

    Sikap habaib, juga ulama NU, yang tidak berkonfrontasi dengan pemerintah perlahan membuahkan hasil dengan perubahan sikap Presiden Soeharto yang kemudian lebih memperhatikan aspirasi umat Islam. Kompilasi Hukum Islam diterima dalam sistem hukum negara, SDSB yang sarat permainan judi dihapuskan, Pegawai Negeri Sipil dan siswi sekolah negeri diperbolehkan mengenakan jilbab, dan seterusnya. Puncaknya ketika Presiden Soeharto menunaikan ibadah haji ke Makkah, Arab Saudi, pada 1991 lalu berganti sebutan dari Jenderal (Purnawirawan) Soeharto menjadi Haji Muhammad (HM) Soeharto.

    Habib Abdullah wafat pada 1991 disusul Habib Alwi empat tahun kemudian (1995). Keduanya dimakamkan tak jauh dari makam Habib Abdul Qadir di TPU Kasin, Malang. Kemangkatan kedua ulama besar itu sama-sama ditangisi ribuan orang pengantarnya. Tidak sampai setengah dekade, Kota Malang kehilangan dua habib berkarakter tegas dalam sikap tapi santun dalam penyampaian.

    Seperti pepatah, mati satu tumbuh seribu, generasi penerus Habib Abdullah dan Habib Alwi pun bertumbuhan dari dzuriyah yang beranjak dewasa dan santri yang berkembang ilmunya. Dan di antara para penerus itu ada satu orang yang bisa jadi mewakili keduanya, yakni Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus, yang tak lain keponakan Habib Alwi dan juga menantu Habib Abdullah.

    Habib Sholeh adalah alumni Ma'had Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Beliau produktif menulis kitab, di antaranya yang terkenal adalah kitab Asy-Safiyyah, Fi Bayani Ishthilahati Al-Fuqaha'i Asy-Syafi'iyyah yang banyak dijadikan rujukan di pesantren bahkan sampai ke Timur Tengah. Setelah Habib Alwi tiada, Habib Sholeh diamanahi takmir Masjid Jami' untuk melanjutkan pengajian Rabu malam Kamis. Habib Sholeh juga tetap mengajar di Pesantren Darul Hadits bersama putra-putra Habib Abdullah lainnya, di antaranya Habib Abdul Qadir bin Abdullah Bilfaqih dan Habib Muhammad bin Abdullah Bilfaqih.

    Meskipun menerima warisan amanah yang sebelumnya dimiliki kedua habib besar, Habib Sholeh ternyata juga mendirikan majelis taklim sendiri, yakni Majelis Taklim wad Dakwah di rumahnya di Jl. Bareng Kartini Gg. 1 No. 2 Malang, tak jauh dari rumah keluarga Habib Alwi. Habib Sholeh juga mengadakan haul ayahandanya, yakni Habib Ahmad bin Salim Alaydrus yang pernah lama menjabat Kepala Madrasah Attaraqqie, secara besar-besaran, tak kalah meriah dari haul Al-Imamain, Habib Abdul Qadir Bilfaqih dan Habib Abdullah Bilfaqih, di Pesantren Darul Hadits, juga haul Habib Alwi Alaydrus di Majelis Taklim Al-Islami. Sekarang ketiga haul akbar itu menjadi agenda rutin habaib yang ramai dikunjungi setiap tahunnya. Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad..



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.