Generasi Pemutus Rantai HOAX

Rabu, 25 November 2020 20:32 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Berita bohong atau berita palsu (hoax) meresahkan bangsa. Menimbulkan krisis kepercayaan publik terhadap media. Mari menjadi generasi pemutus rantai hoax.

Hoax dibaca ‘hoks’ merupakan berita bohong atau berita palsu yang direkayasa sedemikian rupa atau informasi tidak benar yang sengaja dibuat seolah benar. Dampak dari hoax menyebabkan krisis kepercayaan publik pada media. Terdapat banyak sekali motif bagi para pembuat atau penyebar hoax, di antaranya adalah menipu, menjatuhkan saingan, sarana untuk promosi, menghasut (agitasi), mempropaganda atau menggiring opini publik, mencari sensasi, menaikan rating, mengharapkan simpati dari publik, bahkan ada yang hanya sekadar untuk bersenang-senang, dan banyak lainnya. Nampak sekali bahwa pada era ini segala cara “dihalalkan” demi sebuah “eksistensi” atau mendapatkan kepuasan pribadi.

Tak sedikit beredar informasi hoax di media sosial ataupun surat kabar. Beberapa contohnya seperti berita hoax lowongan pekerjaan di Puskesmas Sananwetan, Blitar (Kompas.com 20/11/2020); hoax link telegram yang janjikan saldo Gopay gratis (liputan6.com 19/11/2020); buta gegara radiasi gadget saat belajar online. Dokter mata: hoax! (health.detik.com); Beredar kabar Hercules jatuh di Papua, TNI: Hoax, itu 2016 (detik.com 09/11/2020), dan banyak lagi lainnya. Seiring semakin marak peredaran informasi atau berita hoax, dengan fitur terbaru Whatsapp pun juga berinisiasi mengambil langkah untuk mengurangi hoax karena sering sekali penyebaran informasi atau berita hoax terjadi melalui platform tersebut sebagai pesan berantai.

Faktanya memang tak sedikit generasi sekarang yang belum benar-benar menyaring informasi dengan baik dan langsung saja menyebarkan secara berantai berita atau informasi yang ia terima tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Hal tersebut terjadi entah untuk mendapatkan kesan paling tahu akan sesuatu ataupun memang sekadar ingin membuat posting-an di media sosial untuk memenuhi feed-nya.

Lantas bagaimana cara mengetahui hoax? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah sebuah informasi atau berita benar adanya atau hanya sekadar hoax belaka, yaitu jangan mudah terprovokasi dengan hanya membaca judul atau headline dari sebuah berita atau infomasi tanpa mengetahui isi sebenarnya; mengecek substansi atau isi dari informasi tersebut; mengecek kesesuaian data dan gambar atau ilustrasi yang tersaji dengan isi informasi; mengecek sumber informasi apakah kredibel ataukah tidak; dan lainnya.

Terdapat beberapa cara dalam rangka menghentikan penyebaran rantai hoax sesuai yang disampaikan pada kanal youtube edukator milenial, di antaranya adalah:

  1. Tumbuhkan rasa ingin tahu atau curiositydengan sering membaca buku atau berita terkini karena membuka pikiran dengan perbanyak pengetahuan itu menyenangkan.
  2. Perkaya wawasan dengan mengikuti berbagai diskusi publik, seminar, focus group discussion(FGD), dan lainnya.
  3. Pastikan terlebih dahulu validitas sebuah data atau sumber informasi sebelum mem-forwardatau membuatnya menjadi pesan berantai.
  4. Jangan sungkan untuk bertanya atau mengajak diskusi orang yang ahli tentang suatu hal jika memang pengetahuan kita tentang hal tersebut masih sangat minim
  5. Senantiasa belajar dan rajin meng-update informasi terkini, khususnya keluar dari zona nyamanmu atau ranah yang biasa ditekuni (multidisiplin).
  6. Ketika sudah mengetahui bahwa ada informasi atau berita yang tidak benar dan masih saja tersebar luas, sebarlah informasi yang benar tentangnya disertai dengan data yang kredibel dan alasan yang logis setelah mengulas informasi yang tidak benar itu terlebih dahulu.
  7. Gunakan pendekatan yang sesuai dengan masing-masing tipe penerima pesan/informasi. Jangan menyamaratakan semua apalagi dilihat dari segi usia. Biasanya penerima pesan atau informasi dari kalangan usia senior memiliki pola pikir yang masih old fashiondan gagap teknologi (gaptek).

Mulailah dari diri sendiri untuk menjadi generasi pemutus rantai hoax. Lalu ajak orang lain dari lingkungan terdekat untuk juga memiliki pemikiran seperti ini dalam rangka meminimalisir penyebaran hoax, juga bisa manfaatkan kekuatan media yang ada untuk merangkul lebih luas generasi bangsa. Membuat atau membantu penyebaran hoax sama saja artinya dengan membantu menyebarkan kesalahpahaman atau hal yang tidak benar dan menyesatkan. Mari menjadi generasi pemutus rantai HOAX. Putus rantai penyebaran hoax dan cerdas dalam menyaring informasi atau berita.

Oleh: Nurul Fauziyyah

Bagikan Artikel Ini
img-content
Nurul Fauziyyah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua