x

kegiatan reresik kali komunitas kali kuning parikesit

Iklan

Agung Surya Laksana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Maret 2021

Rabu, 17 Maret 2021 19:18 WIB

Mengenalkan Peradaban Sungai dengan Gerakan Reresik Kali

Mengenalkan Peradaban Sungai dengan Gerakan Reresik Kali, Komunitas Kali Kuning Parikesit Wedomartani menginisisasi gerakan reresik kali dengan melibatkan masyarakat setempat dan dinas - dinas terkait di Kabupaten Sleman.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saya pernah memiliki sebuah buku tentang peta penyebaran candi – candi di wilayah Yogyakarta sampai wilayah Jawa Tengah. Memang betul, candi – candi tersebut diihat dari peta penyebarannya selalu berada pada pinggir aliran sungai atau kali. Mulai dari Gunung Kidul sampai ke Dieng Banjarnegara bisa dilihat penyebarannya selalu di pinggir aliran sungai. Sebut saja candi Prambanan, Candi Sambisari, Candi Kadisoka, yang semuanya dipinggir aliran sungai.

Sejarah peradaban manusia selalu dimulai dari sebuah sungai, karena teknologi sumur belum ditemukan dan masayarakat pada waktu itu mencari sumber air yang paling mudah adalah mencari sungai. Peradaban sungai menjadi berkembang dan besar ini bisa dilihat pada masa Mesir dengan sungai Nil-nya, India yang memiliki eksotisme Sungai Gangga, kemegahan Persia denga sungai Eufrat dan Tigris-nya, kejayaan Britania dengan sungai Thames-nya sampai masa Majapahit yang terkenal dengan sungai Bengawan Solo-nya.

Pemuda Komunitas Kali Kuning Wedomartani memungut sampah - sampah non organik

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Peradaban tertua di Yogyakarta berada dialiran Sungai Oyo Gunung Kidul. Di sepanjang aliran Sungai Oyo banyak ditemukan fosil – fosil dari kehidupan masa lampau oleh warga setempat. Ini mengindikasikan bahwa Gunungkidul merupakan pusat peradaban tertua di Yogyakarta dengan perkiraan umur peradaban 4000 tahun sebelum masehi.

Kali Kuning yang membentang dari hulu di wilayah Kab. Sleman sampai Kab. Bantul memiliki sebuah peradaban sungai salah satunya adalah Candi Kadisoka. Ini perlu dirawat keberadaan sungai Kali Kuning dengan sebuah program yang di inisiasi oleh Komunitas Kali Kuning Parikesit Kalurahan Wedomartani yaitu dengan acara Reresik Kali.

Gerakan reresik kali dengan memungut sampah – sampah non organik, menata aliran sungai dari halangan potongan – potongan kayu yang ikut terhanyut ke sungai, dan juga mengamati ekosistem sungai yang nantinya bisa menjadi rujukan program selanjutnya.

Gerakan Reresik Kali ini dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Muspika Kapanewon Ngemplak, Kodim dan Polsek Ngemplak, pegiat komunitas sungai yang tergabung dalam Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS), Pengurus Karang Taruna Kabupaten Sleman, Saka Kalpataru Sleman, pejabat Kalurahan Wedomartani, dan Komunitas Kali Kuning Parikesit Wedomartani dan masyaarakat sekitar Kali Kuning.

Setelah “reresik sungai” bersama, acara dilanjutkan dengan diskusi, bertutur tentang peradaban sungai dan bagaimana caranya kita menjaga sungai kita agar sejarah peradaban sungai itu tidak hilang tapi tetap lestari. Hampir semua peserta dalam acara ini mengiyakan bahwasanya sungai adalah sebuah ruang, dimensi sebuah peradaban dimulai. Semua peserta merasa rindu sungai-sungai yang bersih,  dimana bisa menjadi ruang bermain ketika mereka mengalami masa anak-anak. Dan ini ingin dihadirkan kembali oleh mereka pada anak – anak kita sekarang.

Bapak Purwoko Sasmoyo ST,MM Kabid Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Sleman

Kamituwa Kalurahan Wedomartani meberikan ulasannya bercerita tentang masa kecilnya. “Dulu saat saya masih kecil, bapak saya mengajarkan kepada saya bagaimana caranya mendapatkan lauk makan dengan menangkap ikan. Aliran sungai dibendung sedikit, ikan – ikan dihalau memasuki bendungan tersebut lalu ditutup. Nah..ikan – ikan yang masuk ke perangkap bendungan kecil dapat diambil. Pesan orang tua saya adalah ambil ikan secukupnya”,  demikian cerita yang disampaikan oleh H. Mujiburokhman S.Ag, MA. Masih banyak cerita lainnya yang terkenang dengan bermain dipinggir sungai.

Lain halnya dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Sugeng Wachyono ST dari P3EJ Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “ Ini gerakan yang bagus. Aksi penyelamatan air yang harus didukung terus. Karena air bagian yang tak terpisahkan dalam semua makhluk. Bahkan air digunakan sebagai sarana pembersihan diri pada ritual peribadatan kita” kata Bapak Sugeng

“Selama gerakan reresik kali merrupakan inisisatif masyarakat, kami dari dinas DLH Sleman akan berusaha memberi dukungan dengan menyiapkan anggaran khusus.” Kata Bapak Purwoko Sasmoyo ST,MM Kabid Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Sleman

Generasi muda yang diwakili oleh Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Sleman Anas Hidayat mengatakan sangat mendukung keterlibatan generasi muda untuk peduli terhadap sungai, dan berharap gerakan ini bisa ditiru oleh karang taruna di desa lainnya.

Forum Komunitas Sungai Sleman juga mengambil peran penting sebagai akselerator bersama DLH Sleman, mendampingi dan memotivasi penggiat – penggiat sungai di wilayah Sleman untuk terus menjaga kelesstarian sungai sebagai bentuk nguri uri peradaban sungai.

 

 

Ikuti tulisan menarik Agung Surya Laksana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu