Serius Garap Potensi Biofuel yang Melimpah, Pertamina Gandeng Perusahaan Swiss Clariant - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Jumat, 30 April 2021 07:37 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Serius Garap Potensi Biofuel yang Melimpah, Pertamina Gandeng Perusahaan Swiss Clariant

    Pertamina dan Clariant telah berkolaborasi sejak 2018 lalu, yang awalnya difokuskan pada analisis kinerja tekno-ekonomi dan pengujian tandan buah kosong serta daun kelapa sawit. Kerja sama ini penting, karena Indonesia memiliki potensi biomassa sangat besar yang belum dimanfaatkan, mulai dari tandan buah kosong, hingga daun kelapa sawit yang dapat diubah menjadi etanol selulosa.  

    Dibaca : 421 kali

    Dalam peta masa depan, energi fosil semakin ditinggalkan. Oleh sebab itu perusahan-perusahaan minyak dunia mulai menata rancangan ke depan mereka pada energi baru terbarukan (EBT). Tekanan masyarakat dunia yang begitu besar untuk segera meninggalkan energi fosil telah berdampak serius pada industri ini, termasuk industri otomotif.

     

    Untuk mencapai cita-cita yang sama, Pertamina juga telah melakukan ancang-ancang untuk fokus pada biofuel. Peningkatan kandungan biofuel telah diaplikasi pada solar dengan subtitusi menapai 20% (B20) dan 30% (B30). Ujicoba subtitusi lebih besar sampai 100% juga telah dilakukan, namun belum diaplikasikan secara massal. Guna meningkatkan kualitas biofuel itu, Pertamina bekerja sama dengan perusahaan kimia asal Swiss, Clariant, untuk mengevaluasi dan menguji kelayakan teknologi sunliquid.

     

    Hal itu dilakukan dalam memproses bahan baku (feedstocks) regional yang tersedia di Indonesia menjadi biofuel atau bahan bakar nabati mutakhir. Clariant adalah sebuah perusahaan bahan kimia khusus yang terfokus, berkelanjutan, serta inovatif. Perusahaan ini bekerja sama dengan Pertamina untuk memproses bahan baku yang tersedia di Indonesia menjadi biofuel mutakhir, etanol selulosa.

     

    Sementara sunliquid adalah metode bioteknologi inovatif untuk memproduksi etanol selulosa dari residu pertanian seperti jerami sereal, brangkasan jagung, atau ampas tebu. Dalam proses yang sepenuhnya terintegrasi, biokatalis khusus bahan baku secara optimal menguraikan selulosa dan hemiselulosa dengan hasil tinggi pada kondisi pemrosesan yang stabil menjadi gula yang dapat difermentasi.

     

    "Kami sangat senang bahwa Pertamina, perusahaan energi ternama di Indonesia, telah memilih proses sunliquid kami untuk penilaian teknologi dan bahan baku ini, serta untuk studi desain proses untuk pabrik skala komersial berbasis bahan baku regional," kata Vice President and Head of Business Line Biofuels and Derivatives Clariant Christian Librera, pada Rabu 28 April 2021.

     

    Pertamina dan Clariant telah berkolaborasi sejak 2018 lalu, yang awalnya difokuskan pada analisis kinerja tekno-ekonomi dan pengujian tandan buah kosong serta daun kelapa sawit. Kerja sama ini penting, karena Indonesia memiliki potensi biomassa sangat besar yang belum dimanfaatkan, mulai dari tandan buah kosong, hingga daun kelapa sawit yang dapat diubah menjadi etanol selulosa.

     

    Selama ini pemanfaatan potensi yang sangat besar itu masih diabaikan, sehingga kedua bahan baku tersebut seringkali dibakar begitu saja. Efeknya justru mengakibatkan terjadinya pencemaran udara. Untuk itu solusi teknologi bahan bakar canggih seperti proses Clariant's sunliquid, sangat penting untuk menyesuaikan potensi bahan baku dengan permintaan etanol yang terus meningkat di tanah air.

     

    Peningkatan permintaan etanol diperkirakan terjadi secara dramatis di Indonesia, hal ini terutama dipicu oleh mandat campuran etanol E10 secara nasional. Solusi teknologi bahan bakar canggih, seperti proses Clariant's sunliquid, sangat penting untuk menyesuaikan potensi bahan baku dengan permintaan akan etanol yang terus meningkat di negara ini.

     

    Pertamina dan Clariant telah menyelidiki bagaimana cara menjembatani kesenjangan tersebut sejak tahun 2018. Kolaborasi awalnya difokuskan pada analisis kinerja tekno-ekonomi dan pengujian tandan buah kosong dan daun kelapa sawit. Hasil akhir evaluasi menunjukkan bahwa teknologi sunliquid  berhasil mengubah kedua bahan baku menjadi etanol selulosa sekaligus mencapai hasil konversi yang baik.

     

    Kemudian, dalam studi rekayasa konseptual yang dilakukan baru-baru ini, keseimbangan proses, spesifikasi sistem, dan ekonomi proses dihitung secara rinci. Hal ini menjadi dasar pertimbangan Pertamina untuk terus berinvestasi di fasilitas produksi bahan bakar nabati komersial dalam skala komersial.

     

    “Saat perusahaan minyak internasional lainnya mulai mengarahkan transisi energi, Pertamina telah berkomitmen untuk memainkan perannya dengan mendorong pengembangan energi yang bersih untuk mengurangi emisi karbon global. Komitmen baru dan kuat kami ini didukung oleh penilaian kunci tentang masa depan, bahwa energi bersih adalah kunci keberlanjutan energi", kata Andianto Hidayat, Vice President Downstream Research and Technology Innovation, Pertamina.

     

    Terwujudnya proyek berbahan bakar nabati yang cangih dalam skala komersial berdasarkan bahan baku yang tersedia di berbagai daerah dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dari luar negeri dan mengamankan pasokan energi nasionalnya.

     

    “Oleh karena itu, kami memperkuat portofolio bisnis kami dengan memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan, seperti biodiesel, avtur ramah lingkungan, dan bioetanol yang menggunakan sisa-sisa kelapa sawit yang melimpah di Indonesia. Lebih lanjut, kami menyambut pertumbuhan pesat energi bersih melalui pembangunan dua kilang ramah lingkungan dan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk menjamin kemandirian energi Indonesia," kata dia.

     

    Indonesia telah melangkah ke jalur yang benar dengan ikut memfokuskan diri pada energi yang ramah lingkungan. Dengan komitmen ini, masa depan EBT akan semakin menjanjikan. Dan negara ini akan ikut berkontribusi dalam menanggulangi perubahan iklim yang timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan. Semoga saja.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.