Menilik Keteladanan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Lukisan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Sumber : instagram.com/jogja_gallery

Kartika Putri Pinilih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Juni 2021

Kamis, 10 Juni 2021 18:28 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Menilik Keteladanan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Lukisan


    Dibaca : 448 kali

    Siang itu, di tengah teriknya matahari, aku dan temanku beranjak untuk menyusuri Kota Yogyakarta. Dengan sepeda motor kami mulai melaju menembus padatnya jalanan menuju suatu tempat di timur laut alun-alun utara.Ya, tempat itu Jogja Gallery. Sebuah galeri seni yang sering digunakan untuk mengadakan suatu pameran.

    Jogja Gallery dari depan

     

    Pertama kali ke Jogja Gallery, mungkin kalian tidak mengira bangunan ini adalah galeri seni. Karena sekilas dari depan terlihat seperti rumah pribadi. Berarsitektur seperti rumah jawa, tempat ini seperti rumah di lingkungan Keraton Yogyakarta. Aku dan temanku pun tidak mengira bahwa tempat ini memiliki banyak ruang dan sangat luas. Bangunan yang memiliki dua lantai ini memang sering digunakan untuk acara pameran seni semacam ini.

    Hari itu, saat kami kesana, sedang diadakan sebuah pameran seni lukis oleh seorang seniman dan sejarawan Bapak Sri Margana. Acara pameran karya seni lukis ini bernama Tahta Untuk Rakyat : Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Semua lukisan yang dipamerkan menceritakan kehidupan mulai dari sebelum kelahiran Gusti Raden Mas Darodjatoen (nama kecil Sri Sultan Hamengku Buwono IX) sampai akhir kehidupan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Beliau adalah Raja atau Sultan dari  Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang menjabat pada tahun 1940-1988.

    Sebelum memasuki pameran seni lukis ini, pengunjung diminta untuk melakukan reservasi secara daring melalui loket.com. Hari, tanggal, dan jam kedatangan harus diisi secara lengkap untuk dapat mencetak bukti reservasi. Walaupun pengunjung tidak diminta untuk membayar sepeserpun, hal ini bertujuan untuk mengatur jumlah pengunjung yang datang karena pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. 

    Tiket Masuk Pameran

     

    Sultan HB IX merupakan salah satu sosok sultan yang menjadi idola dari semua rakyat di Yogyakarta saat itu bahkan sampai saat ini. Dan aku merupakan salah satunya. Kemurahan hati dan juga keteladanan yang pernah diperlihatkan Sri Sultan HB IX sebagai orang paling berkuasa di Yogyakarta saat itulah membuat semua orang terkagum-kagum dengan beliau. Melalui pameran seni ini pula, aku baru tahu jika saat masih muda beliau memiliki paras yang rupawan dan juga berkharisma sampai tua sekalipun. 

    Lukisan Gusti Raden Mas Dorodjatoen karya Sigit Raharjo

     

    Mungkin banyak yang mengira jika pameran seni lukis ini akan membosankan seperti pada pameran seni lainnya. Hanya berisikan lukisan-lukisan yang hanya bisa dinikmati orang-orang yang paham akan seni lukis. Tetapi hal menakjubkannya, pameran seni ini sangat atraktif dan bisa dinikmati semua orang. Bahkan terdapat beberapa instalasi yang tidak akan pernah terpikirkan untuk dipertunjukkan dalam pameran seni. Aku akan menceritakan beberapa ruangan yang menurutku memiliki kesan tersendiri saat aku mengunjungi pameran seni lukis ini.

    Lukisan-lukisan disini ditata pada ruang-ruangan berdasarkan periode-periode tertentu. Dimulai dari saat sebelum kelahiran, saat kelahiran beliau, bagaimana beliau dibesarkan, saat bersekolah di Belanda, dan juga beberapa peristiwa penting dalam kehidupan beliau. Memang tidak semua masa diceritakan secara mendetail, hanya pada beberapa saja yang dianggap dapat mewakili kehidupan yang Sri Sultan HB IX lalui dan memiliki sejarah yang berarti. Gaya seni yang terdapat pada setiap lukisan berbeda-beda, akan tetapi umumnya pada satu ruangan memiliki gaya lukisan yang sama.

    Ruangan pertama yang akan ditemui yaitu menceritakan bagaimana kejadian-kejadian penting  sebelum beliau lahir tentang firasat para leluhurnya. Sedangkan pada bagian dua, menceritakan ketika kelahiran beliau. Terdapat salah satu lukisan yang menarik bagiku. Lukisan ini berlatarkan tulisan-tulisan yang setelah ku ketahui itu merupakan harapan-harapan kepada calon sultan ketika besar nanti. Memang tidak terlalu jelas apa saja yang tertulis karena ditulis menggunakan pensil dan bergaya tulisan bersambung. Di lukisan itu juga terdapat alat tulis berupa buku dan pena yang melambangkan kepandaian dan kecintaan Sri Sultan HB IX terhadap ilmu pengetahuan.

    Lukisan Dorodjatoen dan Bunga Rumput Ilalang karya Dyan Anggraini

    Jika aku menceritakan setiap lukisan yang dipamerkan mungkin tidak akan cukup, akan kuceritakan beberapa yang memiliki kesan tersendiri saat aku mengunjunginya. Di suatu sudut ruangan yang menceritakan ketika beliau mulai menjabat, terdapat sebuah headphone tergantung pada tembok berdampingan dengan lukisan Langit Biru di Atas Kraton Jogjakarta. Ternyata headphone tersebut bisa digunakan dan terdapat alunan musik yang tersimpan didalamnya. 

    Ini merupakan alunan musik yang tidak akan pernah terlupakan olehku. Alunan itu merupakan karya dari Dimawan Krisnowo Adj yang telah dimodifikasi.  Sensasi saat musik dimulai, dengan memejamkan mata, aku membayangkan sedang menelusuri jalanan di Malioboro dan memutari Alun-Alun Utara Yogyakarta menggunakan delman. Iringan gamelan dan juga bunyi hentakan kaki kuda yang disatukan langsung membuatku serasa sedang menaiki delman. 

    Lagu ini dapat membawa ketenangan kepada pendengarnya apalagi dinikmati sambil memejamkan mata, nuansa Yogyakarta sangat tergambar di dalamnya. Baru pada bagian pertengahan terdapat sebuah pidato yang dibacakan oleh narator. Pidato saat beliau dilantik menjadi Sultan dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dengan pembawaan suara rendah dan berat, pidato yang dibacakan ulang tersebut mampu membuat pendengarnya terbawa pada tahun 1940 saat sultan baru dilantik. Alunan tersebut berhasil merepresentasikan Yogyakarta pada saat pelantikan sultan.

    Lukisan Langit Biru di Atas Kraton Jogjakarta karya Bambang Heras

     

    Hal menarik selanjutnya yaitu saat aku memasuki suatu ruangan yang ada di pojok kiri bangunan. Berupa ruangan audio visual yang memiliki ukuran mungkin hanya sekitar 2 x 5 m². Untuk masuk ke dalam ruangan, pengunjung harus didampingi oleh seorang pemandu. Tanpa adanya pemandu, dapat dipastikan pengunjung tidak mengetahui makna dan filosofi dari karya tersebut.Ruangan ini merupakan ruangan favoritku sejauh ini. 

    Terdapat lukisan dinding yang dilukis secara bertumpuk yang memiliki filosofi dibaliknya. Dalam ruangan ini juga diputarkan instrumen lagu Jogja Istimewa karya Jogja Hiphop Foundation yang dipadukan dengan pembacaan Teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno.  Karya ini dapat dinikmati dengan bantuan dari sinar uv dari lampu yang  disorotkan pada lukisan. 

    Saat semua lampu dipadamkan maka akan terlihat gambar Keraton Yogyakarta, karena dilukis menggunakan cat yang dapat menyala saat gelap. Setelah lampu uv dinyalakan terlihat Lukisan Sri Sultan HB IX beserta Keraton Yogyakarta, lalu setelah lampu biasa dinyalakan, akan terlihat Ir. Soekarno beserta Drs. Moh Hatta. Makna dibalik karya lukisan ini yaitu dibalik perjuangan dari Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta, terdapat peran dari Sri Sultan HB IX dan Keraton Yogyakarta sendiri. 

    Lukisan ilusi Tahta Untuk Indonesia karya Galam Zulkifli

     

    Peranan tersebut berupa bantuan moral dari pernyataan sikap dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat untuk bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia saat setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan. Selain itu Sri Sultan HB IX menyumbangkan sejumlah uang dari keraton untuk dijadikan sebagai modal awal dari kemerdekaan Indonesia. 

    Menurut cerita dari pemandu yang membantu menjelaskan di ruang tersebut, jika dirupiahkan jumlahnya dapat mencapai milyaran rupiah pada saat itu. Sungguh bantuan dari Sri Sultan HB IX dan juga Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat saat itu tak terhitung jumlahnya.

    Mulanya aku dan temanku bertanya-tanya bagaimana bisa semua ruangan tersusun sesuai dengan periode waktu tertentu. Kami Pun bertanya kepada salah seorang pemandu disana. “Sebelum lukisan dibuat, Bapak Sri Margana telah menarasikan terlebih dahulu kehidupan Sri Sultan HB IX. Lalu setelah itu baru pelukis-pelukis yang diajak untuk berkolaborasi dalam acara seni ini diminta untuk melukis untuk suatu bagian tertentu. Itulah mengapa gaya seni pada setiap ruangannya memiliki gaya yang berbeda dan  juga media lukis yang berbeda”, begitulah penuturan dari pemandu yang kami temui.  

    Sayangnya pameran ini hanya berlangsung pada tanggal 20 Maret sampai 25 April 2021 saja. Akan tetapi aku akan membagikan beberapa lukisan menarik yang aku tangkap melalui kamera telepon selulerku. 

     

    Lukisan The Man Who Hold The World karya Suroso Isur dengan instalasi gramophone dan vinyl

    Lukisan Pater Patriae karya Nano Warsono


    Foto-foto Gusti Raden Mas Dorodjatoen

     

    Mungkin setelah mengunjungi pameran seni ini, kalian akan terkagum-kagum tentang banyak hal. Bukan hanya mengenai bagaimana keteladanan yang telah ditunjukkan oleh Sri Sultan HB IX, tetapi juga dengan bagaimana apiknya konsep yang dipamerkan dalam pameran seni lukis ini. Tidak hanya penuh makna, tetapi penuh dengan pengalaman yang tidak terlupakan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.