x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 1 Juli 2021 12:16 WIB

Pilih Jabatan atau Akal Sehat?

Kaum cerdik-cendekia memiliki keunggulan dalam hal berpikir dan bertindak secara sadar dibandingkan orang kebanyakan. Mereka diharapkan mampu dan mau membimbing masyarakatnya menuju cita-cita dengan melewati jalan yang benar. Apabila mereka mengarahkan masyarakatnya melewati jalan yang salah, maka ia telah menjerumuskan masyarakatnya menuju kehancuran peradaban.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Adanya orang-orang yang mengingkari akal sehat dan kecerdasannya demi memperoleh jabatan tertentu adalah cerita klasik. Sudah ada sejak zaman dulu kala, bukan hal baru. Dalam kisah-kisah masyarakat masa lampau, kita dapat menjumpai sosok-sosok yang sanggup menggadaikan kecendekiaannya demi menjadi pembesar. Karakter sosok seperti ini senantiasa ada dari zaman ke zaman, di banyak tempat, tak terkecuali di negeri ini.

Pujangga Ronggowarsito [1802-1873] yang hidup di lingkungan keraton Surakarta menangkap suasana seperti itu pada masa hidupnya. Ia menyaksikan orang-orang yang sanggup melakukan apa saja demi memperoleh jabatan, sekalipun mengingkari nalar sehat mereka. Dalam syairnya yang kerap dikutip, Ronggowarsito melukiskan kerisauannya akan situasi yang ia sebut ‘zaman edan’. Dalam Bahasa Indonesia, kira-kira bunyinya seperti ini:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

hidup di zaman edan,

serba susah untuk bertindak,

ikut edan tidak akan tahan,

kalau tidak ikut (edan),

tidak mendapat bagian,

akhirnya kelaparan,

namun telah menjadi kehendak Allah,

betapapun bahagianya orang yang lalai,

lebih berbahagia orang yang tetap sadar dan waspada

Ucapan Ronggowarsito itu masih sangat relevan dengan situasi kekinian manakala banyak orang sanggup melakukan apa saja untuk memperoleh jabatan maupun, apa lagi, mempertahankan jabatan. Orang-orang cerdik cendekia dari kampus perguruan tinggi terkemuka pun tidak malu-malu untuk ikut memperebutkan jabatan walaupun harus mengingkari nalar sehat akademiknya—dalam ungkapan Ronggowarsito ingkar terhadap nalar sehat agar ‘tetap sadar dan waspada’.

Akal sehat, nalar, serta berpikir adalah ciri yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Di dalam berpikir itu terdapat unsur kesadaran, sebab jika naluriah belaka, makhluk lain pun punya kecerdasan naluriah. Keunggulan manusia terletak pada kemampuan berpikir secara sadar, mengambil keputusan secara sadar, serta bertindak juga secara sadar. Manusia bukan tidak memiliki naluri, melainkan naluri itu dikendalikan oleh kesadaran.

Kaum cerdik-cendekia, baik yang aktif di dalam kampus maupun di luar, memiliki keunggulan dalam hal berpikir dan bertindak secara sadar dibandingkan orang kebanyakan. Lantaran itulah, mereka diharapkan dapat dan mau membimbing masyarakatnya menuju cita-cita dengan melewati jalan yang benar. Karena kecendekiaannya, diminta atau tidak, di bahu mereka melekat tanggungjawab untuk menjadi suluh bagi masyarakatnya.

Apabila suluh itu mengarahkan masyarakatnya melewati jalan yang salah, maka ia telah menjerumuskan masyarakatnya menuju kehancuran peradaban. Bagi kaum cerdik cendekia, tanggungjawab untuk membawa masyarakat di jalan yang benar bukan hal yang layak ditawar. Cerdik cendekia yang, meminjam istilah Ronggowarsito, ‘ikut edan’ agar mendapat bagian—bisa berupa jabatan, kekuasaan, wewenang, akses kepada berbagai sumberdaya, maka sebenarnya ia telah menyesatkan masyarakatnya.

Sebagai cendekiawan, seorang akademisi perguruan tinggi maupun peneliti di lembaga riset mesti berbicara tentang kebenaran, sebab kebenaran itulah inti dari cahaya terang yang memancar dari suluh atau obor; kebenaran itulah yang mestinya menerangi masyarakatnya. Ketika ia memburu jabatan, kuasa, kewenangan, kehormatan dari sesama manusia, dan untuk itu ia melepas tanggungjawabnya untuk menjadi cahaya bagi masyarakatnya, maka ia telah mengingkari kebenaran dan kecerdasannya sendiri. Ia telah mengingkari keilmuannya, kecendekiaannya, ke-doktor-annya, maupun ke-gurubesar-annya.

Dengan melakukan apa saja agar bisa memperoleh dan mempertahankan jabatan, berarti ia telah mempertukarkan dengan sangat murah kecendekiaannya. Ia telah meletakkan serendah-rendahnya ke-empu-an yang telah menempatkan dirinya di tempat terhormat—sebagai ulil albab. Bila demikian, masih layakkah ia menyebut diri seorang cerdik cendekia, akademisi, ilmuwan, peneliti, apa lagi membanggakan jabatan guru besarnya? Sebab, pada dasarnya ia sendirilah yang telah mengingkari esensi jabatan guru besar, yaitu pengakuan atas ke-empu-an dalam mencari, menemukan, dan menegakkan kebenaran. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler