Baliho Nyapres di Tengah Tekanan Pandemi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 6 Juli 2021 20:14 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Baliho Nyapres di Tengah Tekanan Pandemi

    Urusan pelik politik tidak perlu jadi beban pikiran pebisnis, yang perlu dipikirkan ialah bagaimana mendekati para politisi ini agar bisa mendapat proyek membuat baliho, billboard atau videotron, yang cukup menjanjikan. Setidaknya dalam tiga tahun ke depan bisnis ini berpeluang semakin moncer, karena ada kebutuhan yang meningkat dari para politisi untuk mempromosikan diri sejak saat ini. Tak peduli sedang musim Corona.

    Dibaca : 1.127 kali

     

    Banyak bisnis terombang-ambing oleh perubahan situasi yang serba mendadak akibat pandemi dengan kasus yang melonjak, lalu turun, lalu melonjak lagi. Siapapun yang ingin bertahan dalam bisnis harus berusaha menemukan jalan keluar agar dapur tetap ngepul dan karyawan tetap bekerja. Sekalipun untuk itu, mereka harus banting stir.

    Nah, bagi yang berpikir untuk banting stir, bisnis baliho, billboard, hingga videotron bisa menjadi alternatif. Mungkin masih ada juga media promosi lain yang bisa dilirik: menyusun buku biografi politik, merancang website, pokoknya segala macam media yang menunjang promosi politik menuju perhelatan pemilihan presiden 2024.

    Bukankah terlalu dini berbicara promosi untuk pilpres, lagi pula situasi masih diliputi pandemi? Bila kita perhatikan baik-baik, tampak sejumlah politisi sudah bermain dalam arti merintis jalan menuju pilpres itu. Mereka membutuhkan media promosi. Contohnya: pengurus pusat Golkar sudah menginstruksikan seluruh kader untuk mulai memasang baliho untuk mempromosikan Airlangga Hatarto, Ketua Umum Golkar yang dicalonkan partai ini untuk mengikuti pilpres. Bulan Juni lalu, media mengabarkan banyak baliho Puan bertebaran di Jawa Timur.

    Nah, siapapun yang ingin mengumpulkan cuan banyak, ada bisnis yang kelihatannya bakal semakin moncer hingga pemilihan presiden 2024 nanti. Lumayan, ada waktu sekitar tahun untuk meraup keuntungan dari perhelatan politik tahun itu. Semakin banyak politisi yang berminat mencalonkan diri, semakin besar peluang bisnis baliho musiman ini. Bagaimana mungkin, bukankah pilpres baru akan berlangsung tiga tahun lagi?

    Betul, pilpres masih tiga tahun lagi, tapi mesin-mesin partai dan individu yang berminat tampaknya sudah mulai melakukan pemanasan. Siapapun tahu, tidak ada mesin yang bisa langsung tancap gas, melainkan harus dihangatkan dulu hingga cukup panas untuk bisa berlari kencang. Survei-survei politik sudah dilakukan dan nama-nama sudah dimunculkan, publik pun tahu siapa yang populer dan siapa yang belum populer.

    Bagi politisi yang menyimpan minat untuk maju ke gelanggang pilpres 2024, terlampau sering berada di urutan bawah survei jelas dianggap kurang baik. Hasil-hasil survei itu berpotensi memengaruhi persepsi calon pemilih sehingga bisa saja hasil survei itu akan terbukti nanti saat pilpres digelar. Karena itu, sebagian politisi melangkah lebih dini untuk mempromosikan diri.

    Sebagian politisi sudah melangkah duluan, mirip mencuri start walaupun tidak juga, sebab kompetisi resminya belum dimulai. Mungkin politisi ini berpikir bahwa jika mereka tidak segera melangkah, popularitas mereka tidak akan terdongkrak, dan ini berbahaya bagi pencalonan nanti.

    Politisi yang sedang memegang jabatan publik memiliki keuntungan [advantage] tersendiri. Lewat kegiatan formal sebagai pejabat publik, mereka punya kesempatan untuk tetap dikenal oleh masyarakat melalui kunjungan ke daerah-daerah, walaupun belum tentu membuahkan hasil yang bagus dalam survei. Beberapa nama yang diproyeksikan menjadi capres saat ini sedang memegang jabatan publik, meski begitu popularitas mereka berada di urutan bawah, sebutlah misalnya Ketua DPR Puan Maharani dan Menko Perekonomian Airlangga Hatarto. Sebagian lainnya sukses menempati urutan atas, di antaranya Menhan Prabowo Subianto serta dua orang gubernur, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.

    Puan pernah menyindir Ganjar sebagai pejabat yang gemar bermain medsos. Namun agaknya kegemaran itu punya efek bagus untuk mendongkrak popularitas Gubernur Jawa Tengah itu. Medsos sudah pasti menjadi pilihan bagi para politisi yang ingin meningkatkan popularitas atau menjaga tingkat popularitas yang sudah dipunyai. Ganjar tahu benar soal ini, sedangkan Puan barangkali kurang akrab.

    Politisi yang sedang menjabat sebenarnya memperoleh keuntungan berkat liputan pemberitaan media massa, khususnya televisi dan media online. Namun, mereka tidak selalu mampu memanfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya. Model baliho dan sejenisnya itu mungkin memang membuat figur politisi lebih dikenal oleh rakyat, walau hanya dikenal wajah. Namun, apakah itu mencukupi untuk melapangkan jalan menuju pilpres nanti? Apakah baliho, billboard, ataupun videotron sudah dianggap cukup oleh politisi maupun partai, tanpa perlu bertemu langsung dengan rakyat untuk mendengar sendiri aspirasi rakyat dan melihat sendiri kehidupan rakyat?

    Jarang sekali ada ketua umum partai yang menemui rakyat secara teratur. Sejumlah ketua partai yang sedang menjabat menteri sibuk luar biasa dan tidak sempat menjalankan fungsi ketua partai dalam menyerap aspirasi rakyat secara langsung. Bahkan ketua partai yang bukan pejabat publik pun jarang yang menemui rakyat, kecuali di hari-hari kampanye. Itupun sekedar lewat, melambaikan tangan, memasang senyuman, lalu sedikit beradegan menyapa rakyat untuk dipotret jurnalis. Inilah wujud kepemimpinan yang berjarak dengan rakyat. Bukan hanya berjarak fisik karena jarang bertemu, tapi juga berjarak hati dan pikiran.

    Urusan pelik semacam itu memang tidak perlu jadi beban pikiran pebisnis yang ingin terjun ke bisnis baliho dan sebagainya. Yang perlu dipikirkan ialah bagaimana mendekati para politisi ini agar bisa mendapat proyek membuat baliho, billboard atau videotron, yang kelihatannya cukup menjanjikan. Setidaknya dalam tiga tahun ke depan bisnis ini berpeluang semakin moncer, karena ada kebutuhan yang meningkat dari para politisi untuk mempromosikan diri. Tak peduli sedang musim Corona. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.