Napak Tilas Raden HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansur, Ir. Soekarno dan WR Supratman di Penjara Kalisosok Surabaya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Penjara Kalisosok Surabaya

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 24 Juli 2021 09:34 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Napak Tilas Raden HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansur, Ir. Soekarno dan WR Supratman di Penjara Kalisosok Surabaya

    enjara Kalisosok adalah bekas penjara yang terletak di kawasan utara Surabaya, Indonesia. Penjara ini dibangun pada masa pendudukan Belanda dan pernah digunakan menjadi tempat penahanan sejumlah tokoh kemerdekaan Indonesia. Gedung ini memang lekat dengan sejarah panjang pejuang kemerdekaan. Gedung yang awalnya loji VOC tersebut disulap Daendels menjadi penjara. Sejumlah tokoh kemerdekaan pernah merasakan kurungan dan siksaan di sini.   Di antaranya Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Ir. Soekarno, WR Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya, lalu KH Mas Mansur, santri KH Hasyim Asyari yang kemudian memimpin persyarikatan Muhammadiyah.   Selain menjadi museum, sebagian lahan akan digunakan untuk depo MRT, taman bermain untuk warga Surabaya Utara. Juga akan ada centra ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) (ditjenpas.go.id, 6/8/2014).

    Dibaca : 323 kali

    Oleh : Tatang Hidayat (Pegiat Student Rihlah Indonesia)

    Rabu (26/6/2019) sore itu baru saja kereta api meninggalkan Stasiun Bandung. Sinar matahari yang cerah menuju senja di ufuk barat seolah menemani sepanjang perjalanan saya menuju arah timur Jawa. Perjalanan saya hari itu untuk memenuhi undangan panitia The 4 th Ulumuna Annual International Conference and the 1st Indonesia – USA yang diselenggarakan  UIN Mataram di Lombok. Abstrak yang saya kirim ke panitia seminar menceritakan  perjuangan Asy Syahid KH. Zainal Musthafa dan Perlawanan Sukamanah ternyata diterima untuk dipresentasikan.

    Sebelum keberangkatan mempresentasikan hasil riset sederhana yang telah dilakukan selama 5 tahun lamanya, saya menyempatkan datang ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Bandung. Di sana tersimpan beberapa bukti perjuangan Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa, diantaranya kohkol peninggalan Pesantren Sukamanah, sorban Asy Syahid KH. Zainal Musthafa dan pedang bambu yang digunakan oleh santri-santri Sukamanah dalam melawan Jepang.

    Saya jug melakukan silaturahim terlebih dahulu kepada orang-orang yang memberikan kontribusi terhadap riset ini, yakni guru-guru saya di antaranya bapak Dr. KH. Aam Abdussalam, M. Pd. selaku Ketua Prodi IPAI UPI sekaligus tokoh dari Pesantren Sukahideng Tasikmalaya dan Drs. KH. Anwar Nuryamin selaku ketua BKOSPK Pondok Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah. Silaturahim tersebut saya lakukan dalam meminta do’a restu untuk kelancaran sebuah ikhtiar mengenalkan Nusantara kepada dunia melalui para tokoh pejuang, khususnya para tokoh yang berasal dari Jawa Barat. Setelah do’a dan restu diberikan, saya semakin mantap untuk berangkat ke Lombok Nusa Tenggara Barat, ya negeri yang mendapat julukan negeri 1000 masjid.

    Saya juga menyempatkan menjenguk terlebih dahulu Bapak Ahmad Husna (Pimpinan Majalah Suara Ulama) yang sedang berbaring sakit di Rumah Sakit Advent Bandung. Beliau telah banyak perannya dalam hidup saya terutama dalam membuka literasi biografi ulama-ulama pejuang di Jawa Barat, beliau merupakan jurnalis senior yang tidak sulit dihubungi dan tidak pelit ilmu, bahkan selalu meluangkan waktu jika ada beberapa informasi yang sangat saya perlukan, asbab beliau lah saya mulai menelusuri dengan serius biografi tokoh-tokoh ulama pejuang di Jawa Barat. Tidak lama setelah saya dari Lombok, saya dapat informasi beliau kembali ke rahmatullah setelah berjuang melewati sakitnya. Allohuyarham.

    Di sisi lain, saya meminta do’a restu juga kepada Ust. Yusuf Hazim dan Ust. Acep Wahid selaku cucu dari Asy Syahid KH. Zainal Musthafa yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap naskah yang saya susun. Do’a dan restu yang beliau berikan menambah keyakinan saya untuk mengenalkan Perjuangan Asy Syahid KH. Zainal Musthafa dan Perlawanan Sukamanah kepada dunia. Sepanjang perjalanan malam itu, saya ditemani sebuah buku yang sangat sulit didapatkan namun atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, akhirnya saya bisa mendapatkannya, yakni buku yang berjudul Ulama Ulama Oposan yang didalamnya memuat tentang kisah perjuangan Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa.

    Ketika saya membaca buku ini, tak terasa mata saya mulai berat dan tidak kuat lagi untuk meneruskan membacanya yang tandanya saya harus segera istirahat. Sejenak saya pejamkan mata yang waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB sembari mempersiapkan energi untuk besok hari, ya karena besok pagi saya berniat untuk menelusuri jejak-jejak sejarah perjuangan para tokoh pendahulu Nusantara dan bangunan heritage di Surabaya. Mata saya pun akhirnya terpejam, tidur malam itu saya lalui dengan udara dingin dari AC dan ditemani suara mesin kereta api.

    Kamis (27/6/2019) ketika perjalanan sudah memasuki waktu Shubuh, kereta api sudah sampai di kawasan Jawa Timur, terdengar kumandang adzan bersahutan, saya terbangun dan segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Shubuh dengan menghormati waktu di kereta api. Tak lama setelah melaksanakan Shalat shubuh di kereta api, kemudian dilanjut dengan membaca dzikir pagi dan meneruskan membaca buku tentang biografi Asy Syahid KH. Zainal Musthafa, sinar matahari di ufuk timur mulai menyinari setiap jendela gerbong kereta api melalui kaca-kaca jendela dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB pagi tandanya kereta api akan segera tiba di Stasiun Gebung Surabaya.

    Setibanya di Stasiun Gubeng Surabaya, saya pergi dahulu ke mushola stasiun untuk melaksanakan shalat Qadha Shubuh berhubung tadi melaksanakan Shalat Shubuh untuk menghormati waktu di kereta, begitulah sedikit yang saya pahami menurut  Imam  Syafi'i rahimahullah,  sholat  seseorang  di kendaraan ketika tidak terpenuhi rukun dan syarat sahnya hanya  untuk  menghormati  waktu  sholat (li hurmatil waqti ). Ketika sudah sampai di tempat tujuan, maka  mengulang  sholat  yang  dianjurkan Imam Syafi’i Rahimahullah.

    Shalat li hurmatil waqti ialah shalat yang dilakukan dalam keadaan tidak sempurna (karena tidak memenuhi syarat sah dan rukun) untuk menghormati waktu shalat. Beberapa contoh orang yang shalat li hurmatil waqtipertama, Orang yang bepergian naik kereta api yang menghabiskan lebih dari dua waktu shalat (misalnya 14 jam perjalanan), dan khawatir ketinggalan saat kereta berhenti di suatu stasiun. Kedua, orang yang habis operasi dan bekas operasinya belum boleh terkena air (masih mengandung najis). Ketiga, pendaki gunung yang pakaiannya terkena najis dan tidak membawa pakaian lain yang suci. Keempat, Orang yang berada di tengah hutan yang tidak bisa wudlu karena air tidak terjangkau dan tidak bisa tayamum karena tanahnya lembab. Kelima, Orang yang ditahan di tempat najis. Keenam, Orang yang tidak bisa menghadap kiblat padahal ia tahu arah kiblat. Masih banyak contoh yang lainnya (Hilmi Abedillah dalam tebuireng.online, 6/1/2018).

    Shalat li hurmatil waqti adalah shalat yang sah dan menggugurkan kewajiban. Namun, masih diwajibkan i’adah (mengulangi) setelah keluar dari keadaannya menurut madzhab Syafi’i, sebab udzur yang langka. Jadi, andaikan seseorang meninggal sebelum keluar dari keadaannya, ia sudah tidak punya dosa tanggungan shalat. Karena ini shalat yang sah, maka harus dilakukan semampu mungkin. Bukan berarti saat kita shalat li hurmatil waqti kita bisa menghadap ke mana saja. Selama mampu menghadap kiblat, ya harus menghadap kiblat. Selama mampu bersuci, ya harus bersuci. (Nihayatul Muhtaj, II, 36; V, 15). Shalat li hurmatil waqti merupakan ciri khas Madzhab Syafi’i. Begitu juga dalam pewajiban i’adah (Hilmi Abedillah dalam tebuireng.online, 6/1/2018).

    Setelah selesai shalat, perut mulai terasa keroncongan, saya menyempatkan sarapan terlebih dahulu sembari menikmati indahnya suasana pagi di kota yang mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan. Sarapan pagi di Surabaya banyak macamnya, teman-teman bisa menikmati berbagai macam makanan khas Surabaya, namun saat itu saya lebih memilihi makan soto ayam yang ditemani dengan teh manis hangat.

    Untuk melakukan perjalanan menelusuri jejak-jejak sejarah perjuangan para pendahulu Nusantara di Surabaya, teman-teman bisa menggunakan berbagai macam alat transportasi. Namun untuk memudahkan perjalanan, biasanya saya lebih memilih memesan transportasi online yang selalu menemani perjalanan ketika mendatangi beberapa kota di Indonesia.

    Ini merupakan perjalanan kedua saya menginjakkan kaki di tanah pahlawan, pada kunjungan kali ini saya berencana untuk mengunjungi beberapa titik yang belum saya kunjungi ketika perjalanan pertama ke Surabaya waktu tahun  2018, saat itu saya menyempatkan ke Makam Sunan Ampel, Museum  10 November 1945, Monumen Tugu Pahlawan, Rumah H.O.S Tjokroaminoto dan beberapa tempat sejarah lainnya di Surabaya. Untungnya pagi itu ada pengendara ojek online sangat baik bahkan mengantar saya ke beberapa tempat, karena sebelumnya kami melakukan berbagai macam obrolan dan ternyata pengendara ojek online itu memiliki hobi yang sama sering mendatangi beberapa tempat sejarah ketika berkunjung ke beberapa kota.

    Pagi itu akhirnya saya diantarkan ke beberapa titik tempat yang memiliki nilai sejarah perjuangan para pendahulu oleh pengendra ojek online saya diantar  ke Museum Galeri Nasional Dr. Soetomo, Penjara Kalisosok tempat dimana KH. Mas Mansur, Ir. Soekarno, W.R. Supratman dan beberapa tokoh lainnya di penjara, Jembatan Merah, Pelabuhan Lama, hingga akhirnya berhenti di Gedung Siola yang didalamnya ada Museum Kota Surabaya.

    Museum Dr. Soetomo (Galeri Nasional Indonesia)

    Museum Dr. Soetomo adalah museum khusus yang menampilkan riwayat hidup Dr. Soetomo, tokoh pergerakan sekaligus salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo. Diresmikan oleh walikota Surabaya Tri Risma Harini pada November 2017, museum ini bertempat di kompleks Pendopo Gedung Nasinal Indonesia Jalan Bubutan No. 85-87 Kota Surabaya. Museum Dr. Soetomo memiliki 328 koleksi yang berupa alat-alat kesehatan dan juga foto-foto. Selain itu, di sana juga terdapat makam Dr. Soetomo. Fasilitas yang tersedia :Parkir Area – Publich Space (Pendopo_ - Toilet – AC (bappeko.surabaya.go.id)

    Penjara Kalisosok Surabaya

    Penjara Kalisosok adalah bekas penjara yang terletak di kawasan utara Surabaya, Indonesia. Penjara ini dibangun pada masa pendudukan Belanda dan pernah digunakan menjadi tempat penahanan sejumlah tokoh kemerdekaan Indonesia. Gedung ini memang lekat dengan sejarah panjang pejuang kemerdekaan. Gedung yang awalnya loji VOC tersebut disulap Daendels menjadi penjara. Sejumlah tokoh kemerdekaan pernah merasakan kurungan dan siksaan di sini.   Di antaranya Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Ir. Soekarno, WR Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya, lalu KH Mas Mansur, santri KH Hasyim Asyari yang kemudian memimpin persyarikatan Muhammadiyah.   Selain menjadi museum, sebagian lahan akan digunakan untuk depo MRT, taman bermain untuk warga Surabaya Utara. Juga akan ada centra ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) (ditjenpas.go.id, 6/8/2014).

    Sejak Belanda hengkang dari Indonesia setelah kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Para kolonial tersebut masih menyisakan kisah pilu dari bangunan-bangunan bersejarah termasuk penjara Kalisosok yang berada di Surabaya. Sebuah penjara yang kini dijadikan sebagai cagar budaya tersebut memang tampak tidak terawat, di mana akar berjalar serta tumbuhan menyelimuti kokohnya dinding penjara ini. Semasa aktif dulu, penjara Kalisosok digunakan Belanda untuk menyiksa para pahlawan termasuk Soekarno dan memasukan mereka ke penjara bawah tanah (Tentry Yudvi dalam okezone.com, 18/8/2017).

    Kisah miris pun terungkap di penjara bawah tanah tersebut. Ruangan ini begitu gelap, pengap dan juga lembab, dan hanya bisa digunakan untuk 20 tahanan. Tetapi, hati dingin Belanda memasukan 90 tahanan ke ruangan ini, di mana begitu menyiksa bagi para Pahlawan. Sebelum digunakan sebagai penjara, ruangan kecil tersebut dulunya digunakan sebagai tempat penyiksaan para tahanan. Entah bagaimana cara penjajah menyiksa tahanan, tak ada satu pun yang mengetahuinya. Apalagi tempat tersebut sudah lama dibangun sejak Belanda masuk ke Indonesia (Tentry Yudvi dalam okezone.com, 18/8/2017).

    Penjara ini dibangun sekitar tahun 1808 dengan mencucurkan dana 8.000 gulden oleh Gubenur Herman Williem Daendels yang menjadi Gubenur Hindia Belanda yang ke 36. Sejak didirikan, penjara bawah tanah ini menjadi tempat terseram bagi narapidana, tak ada yang bisa membayangkan hidup di ruangan kecil tanpa adanya oksigen cukup (Tentry Yudvi dalam okezone.com, 18/8/2017).

    Para Pahlawan di antaranya ada Soekarno hingga Kyai Haji Mas Mansur pernah mendekap di penjara tersebut ketika tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia antara 1942-1943. Pendiri sekaligus Ketua Pertama Sarekat Islam, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto tercatat pernah mendekam di Penjara Kalisosok. Bahkan, tokoh Marhaenis dan pejuang rakyat Surabaya Doel Arnowo pun pernah mendekam selama sembilan bulan. Belanda saat itu memang sering memenjarakan orang yang menebar kebencian terhadap pemerintahnya, dan membuat orang pribumi pun menolak kehadiran mereka. Namun, sejak merdeka, penjara ini sudah tidak lagi digunakan sebagai penjara dan dibiarkan begitu saja hingga dijadikan cagar budaya. Tetapi, kini penjara tersebut menjadi tempat singgah para preman dan tempat istirahat Truk. Sungguh menyedihkan, padahal bangunan bisa menjadi bekal yang baik untuk generasi penerus jika dibenahi dengan baik (Tentry Yudvi dalam okezone.com, 18/8/2017).

    Penjara Kalisosok juga menyimpan cerita heroik. Oktober 1945, ketika berita kemerdekaan berhasil menyelinap masuk penjara, para tahanan pun membentuk 'Laskar Pendjara'. Pimpinan laskar ini adalah seorang tukang becak bernama Mayor Dollah. Sebagaimana ditulis Bung Tomo dalam bukunya, Kisah Perang 10 November, yang terbit tahun 1950, pemberontakan dalam penjara ini berhasil menjebol tembok penjara sisi utara (Aan Haryono dalam sindonews.com, 28/1/2018).

    Pada saat perjuangan anti-fasisme, Penjara Kalisosok juga menjadi saksi penangkapan para aktivis anti-fasis seperti Pamudji, Sukayat, Sudarta, dan Asmunanto. Bahkan, tokoh utama gerakan anti-fasis saat itu, Amir Syarifuddin juga ditangkap dan dipenjara di sini.
    Ketika Sekutu mendarat di Surabaya, Kalisosok menjadi saksi sejarah keberanian rakyat Surabaya melawan pasukan Inggris. Pada 26 Oktober 1965, pasukan Inggris dibawah pimpinan Kapten Shaw menyerbu Penjara Kalisosok untuk membebaskan seorang perwira Belanda, Kolonel Huiyer (Aan Haryono dalam sindonews.com, 28/1/2018).

    Di zaman Orde Baru, Penjara Kalisosok juga menjadi tempat ditahannya para tapol Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Banyak di antara mereka, sebelum dibuang ke Pulau Buru atau Nusakambangan, harus mendekam di Kalisosok. Mohammad Sholeh, Aktivis Pro Demokrasi di pengujung kekuasaan Orde Baru, pernah merasakan dinginnya lantai Kalisosok. Ia menjadi penghuni di penjara legendaris yang terkenal dengan tahanan politiknya selama 1,5 tahun (Aan Haryono dalam sindonews.com, 28/1/2018).

    Di ruangan penjara berukuran 1,5x2,5 meter, nalar politik dan gerakan yang dibawanya tak luntur. Kebiasaannya membaca buku masih bisa disalurkan di dalam penjara. Ia termasuk beruntung masih bisa menempati Blok E Penjara Kalisosok. Di blok tersebut, ia tak dijadikan satu dengan kumpulan penghuni penjara lainnya. Sebab, ia termasuk tahanan politik, sehingga pengajuannya untuk menempati Blok E diizinkan oleh sipir penjara (Aan Haryono dalam sindonews.com, 28/1/2018)..

    Jembatan Merah

    Jembatan Merah dibentuk atas kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC sejak 11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda. Sejak saat itu, daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan satu-satunya yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu (eastjava.com)

    Jembatan Merah berubah secara fisik sekitar tahun 1890an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu. Di sekitar jembatan, terdapat beberapa bangunan peninggalan Belanda lainnya yang masih difungsikan dan terletak di selatan Jembatan Merah. Selain itu, terdapat pula pusat perbelanjaan yang terkenal di Surabaya yaitu, Jembatan Merah Plaza (eastjava.com).

    Jembatan Merah pernah menjadi saksi hidup dari tentara Indonesia, khususnya pahlawan-pahlawan Surabaya yang berjuang melawan kolonialisme Belanda. Oleh karena itu, tidak peduli kondisi yang mungkin terjadi hari ini, Jembatan merah adalah warisan penting bagi sejarah Indonesia. Jembatan Merah merupakan pahlawan yang masih hidup dan akan terus hidup melawan waktu (eastjava.com).

    Pelabuhan Lama Kalimas

    Pelabuhan Rakyat Kalimas yang berada di Surabaya telah berdiri beberapa abad yang lalu. Ia lahir pada abad ke-14. Pada masa kini, pelabuhan ini bukan lagi menjadi pelabuhan utama sejak pelabuhan Tanjung Perak dibangun pemerintahan kolonial. Meskipun begitu, peran pelabuhan ini masih penting bagi para pelayar kecil di Surabaya. Pada masa lampau, kapal-kapal dagang berukuran besar hanya bisa berlalu di Selat Madura saja. Minimnya akses parit menuju kota Surabaya membuat kapal-kapal besar terpaksa menepi ke wilayah selat dekat Surabaya. Tongkang maupun kapal kecil kemudian akan menghampiri kapal besar tersebut dalam melakukan proses bongkar muat (jalurrempah.kemdikbud.go.id, 25/2/2021).

    Setelah kapal-kapal tersebut memuat barang, mereka dengan gesitnya menelusuri Sungai Kalimas hingga mencapai pelabuhan utama Surabaya. Kala itu, Pelabuhan Rakyat Kalimas merupakan jantung perdagangan kota Surabaya. Suatu tempat di mana rempah hilir mudik ini juga meninggalkan beberapa jejaknya. Kapal-kapal pinisi berjajar rapi di pinggir dermaga. Buruh angkat dan awak kapal sibuk hilir mudik mengurusi proses bongkar muat. Maka tak heran mulai terlihat kanal-kanal sebagaimana banyak ditemukan di Negeri Tulip. (jalurrempah.kemdikbud.go.id, 25/2/2021).

    Gedung Siola

    Bangunan yang berada di area Jalan Tunjungan ini dahulunya adalah bekas dari berbagai jenis bangunan yang dialihfungsikan. Akan tetapi Pemerintah kota (PemKot) Surabaya kini sudah menetapkan fungsinya sebagai Museum Surabaya. Mengutip dari berbagai sumber, kisah mengenai Gedung Siola bermula pada 1877, yaitu ketika investor berkebangsaan Inggris bernama Robert Laidlaw  membangun gedung tersebut untuk dijadikan tempat bisnisnya. Saat itu, ia menamakan pusat perkulakan di gedung itu Het Engelsche Warenhuis. Ia bahkan sempat menjadi pengusaha tekstil terbesar saat itu dan memiliki usaha bernama Whiteaway Laidlaw (Wiwin Fitriyani dalam surabaya.liputan6.com, 28/8/2019).  .

    Masa kejayaan keluarga Laidlaw berakhir di sektor perdagangan pada 1935.Ini terjadi setelah pemiliknya meninggal. Setelah Jepang masuk, gedung tersebut dibeli oleh pengusaha asal Jepang. Pengusaha itu mengubah nama gedung menjadi ’Toko Chiyoda’. Di toko itu, banyak yang menjual aneka tas dan juga koper. Saat itu, tas dan koper populer sehingga mendorong orang-orang untuk menjual barang tersebut. Setelah Sekutu datang ke tanah Surabaya, Jepang tunduk kalah kepada Sekutu, lantas gedung menjadi kosong tak berpenghuni. Pada 1945, bangunan ini menjadi gedung pertahanan masyarakat Surabaya untuk menghindari serangan Sekutu yang datang dari utara, sehingga pantas disebut gedung perjuangan pemuda Surabaya (Wiwin Fitriyani dalam surabaya.liputan6.com, 28/8/2019).  .

    Pertempuran yang dahsyat tersebut membuat pejuang membumihanguskan gedung itu. Selanjutnya, pada 1960 yaitu ketika masa kemerdekaan telah diraih, gedung itu direnovasi dan namanya diganti menjadi toko Siola. Nama tersebut diambil dari singkatan nama kongsi pemiliknya antara lain Soemitro-Ing Wibisono-Ong-Liem-Ang. Ketika itu, Toko Siola mulai dibuka dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya (Wiwin Fitriyani dalam surabaya.liputan6.com, 28/8/2019).  .

    Jadi, bisa dikatakan kalau Siola adalah mal pertama yang ada di Surabaya. Singkat cerita, pada 1998 Gedung Siola ditutup lantaran tidak mampu bersaing dengan tempat perbelanjaan modern saat itu seperti Pasar Atum, Pasar Turi, Plaza Surabaya, dan Tunjungan Plaza. Akan tetapi, setelah gedung tersebut mengalami perubahan fungsi, nama, dan juga sering gagal dijadikan tempat bisnis, akhirnya gedung itu dikembalikan kepada Pemkot Surabaya (Wiwin Fitriyani dalam surabaya.liputan6.com, 28/8/2019).  .

    Pada 2015, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) beserta jajarannya menjadikan gedung tersebut sebagai museum yang bernama Museum Surabaya. Museum Kota Surabaya ini berisi 1.000-an benda-benda bersejarah dalam kaitan perjalanan Surabaya yang berada di lantai I Gedung Siola. Koleksi di museum ini mulai dari arsip kependudukan sejak 1837, baju Dinas Pemadam Kebakaran sejak zaman Belanda, alat transportasi seperti dua becak yang berwarna biru dan putih. Kisah mengenai Gedung Siola ternyata panjang dan rumit ya, serta sangat mempunyai nilai historynya yang tinggi (Wiwin Fitriyani dalam surabaya.liputan6.com, 28/8/2019).  

    Di Gedung Siola siang itu, saya diberikan kesempatan untuk memasukinya. Oh ia teman-teman bisa memasukinya dengan gratis dan jangan lupa mengisi buku tama ya. Saat itu, saya mempelajari beberapa referensi yang menjelaskan tentang sejarah berdirinya Surabaya dan perjuangannya yang dikenal dengan pertempuran 10 November dengan Bung Tomo sebagai sosok utamanya. Di Museum Kota Surabaya masih banyak tersimpan beberapa artefak masa lalu yang masih utuh dan bisa kita nikmati. Setiap tempat dan benda yang ada di Museum Kota Surabaya satu persatu tidak saya lewatkan untuk dibaca dan dihayati, seolah saya sedang diajak menembus ruang dan waktu ke masa lalu, layaknya saya sedang ikut dalam peristiwa 10 November itu.

    Saking asyiknya mempelajari berbagai artefak yang ada di museum itu, tidak terasa adzan Dzuhur berkumandang, artinya saya harus segera menyelesaikan kegiatan di museum, dan segera menuju masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur secara qashar dan shalat Ashar jama takdim qashar. Siang itu saya diberikan kesempatan untuk melaksanakan shalat di salah satu masjid bersejarah di Surabaya, yakni masjid Kemayoran yang dijadikan pusat markas Hizbullah pada pertempuran 10 November. Di sisi lain, ba’da Dzuhur saat itu ternyata bertepatan dengan adanya seorang warga yang meninggal dan akan dilaksanakan shalat jenazah, tanpa pikir panjang para jama’ah ikut menshalatkan jenazah tersebut.

    Masjid Kemayoran

     

    Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur memiliki banyak bangunan bersejarah. Tiap  bangunan  menyimpan nilai histori meski tidak semua orang tahu ceritanya. Satu di antaranya adalah Masjid Kemayoran. Tempat ibadah umat Islam  yang  berada  di  Jalan  Indrapura  tersebut  memiliki  nilai sejarah karena dibangun pada era penjajahan Belanda. Masjid yang sebetulnya bernama Roudhotul Musawwaroh itu didirikan pada 1772. Usut punya usut, ternyata, Masjid Kemayoran atau Roudhotul Musawwaroh tidak dibangun di Jalan Indrapura. Mulanya, masjid itu berada di depan kantor gubernur Jatim atau di Jalan Pahlawan. Tepatnya di area Tugu Pahlawan. Subhan, salah seorang takmir Masjid Kemayoran, mengatakan bahwa keberadaan Masjid Roudhotul Musawwaroh dipermasalahkan  oleh  pemerintah kolonial Belanda saat itu. Pemerintah Belanda merasa terganggu keberadaan masjid tersebut. Mereka risi kalau di depan kantor mereka terdengar suara pengajian atau azan. Pemerintah Belanda pun meminta semua kegiatan warga di masjid itu dihentikan. Keinginan tersebut tentu saja  langsung  ditolak  masyarakat. Bahkan, masyarakat marah. Akibatnya, terjadi pertempuran pada 1750. Subhan  menuturkan  bahwa  pertempuran itu dipimpin oleh Kiai Badrun. Dia memaparkan bahwa Kiai Badrun merupakan kerabat Paku Alam V dari Kasunanan Surakarta. Jadi beliau masih memiliki keturunan ningrat (jpnn.com, 31/5/2015).

    Dalam pertempuran tersebut, Kiai Badrun gugur karena tertembak oleh pasukan  Belanda.  Sebagai  bentuk penghargaan atas kepemimpinannya melawan Belanda, masyarakat sekitar memberinya gelar Mbah Sedo Masjid. Meski demikian, konflik yang terkait dengan  pemindahan  masjid  belum berhenti. Masyarakat terus melakukan perlawanan. Akhirnya, usaha itu membuahkan hasil. Belanda tidak lagi melarang  aktivitas  di  Masjid  Roudhotul Musawwaroh asal lokasi masjid dipindah. Jadi bisa dikatakan semacam dilakukan tukar guling tanah (jpnn.com, 31/5/2015).

    Masjid Kemayoran memiliki disain dan arsitektur yang unik.  Masjid ini bangunan intinya seluas sekitar 400 m2, di dalam ruang berbentuk hexagonal dengan ruang saling terhubung tembok berbentuk kubah, ditopang empat pilar utama.  Bangunan inti berdinding marmer, berlantai keramik, langit flafon tinggi dan kusen pintu ukuran tebal dan tinggi (sebagaimana ciri bangunan lama).  Disain interior sudah berkesan modern, dengan warna kehijauan muda, tetap mempertahankan mimbar beserta tongkat untuk khotib (Iwan Nugroho dalam kompasiana.com, 17/6/2018).

    Di luar bangunan inti, atau berfungsi asalnya sebagai serambi, memiliki ruang yang lebih luas.  Serambi ini juga untuk tempat sholat, dengan dua taman terbuka yang menambah kesejukan suasana masjid.  Lantai serambi berlantai tegel lama, menyimpan kesan kuno.  Plafon serambi dibuat tinggi menyesuaikan bangunan inti masjid, dengan disain persegi sederhana. Di serambi ini terletak beduk berdiameter 1.5 m dan masih berfungsi baik. Masjid Kemayoran merupakan masjid tertua di Surabaya, selain masjid Ampel.  Masjid ini dibangun tahun 1772 oleh pemerintah Belanda. Bukti ini tertulis pada suatu prasasti berhuruf Jawa dan latin berbahasa Jawa, yang diletakkan pada dinding serambi masjid (Iwan Nugroho dalam kompasiana.com, 17/6/2018). 

    Masjid Kemayoran juga menjadi saksi sejarah perjuangan Kemerdekaan.  Posisinya sempat menjadi markas laskar Hizbullah menjelang pertempuran 10 Nopember 1945.  Nilai-nilai perjuangan membebaskan dari penjajahan adalah implementasi nilai-nilai keagamaan sepanjang masa.  Posisi masjid punya peran penting pada saat itu. Masjid Kemayoran kini bukan lagi masjid terbesar di Surabaya.  Posisinya di tengah kota terjepit oleh lembaga pendidikan Takmiriah (di sebelah Timur), SMP Negeri 2 (sebelah utara) dan pemukiman padat kampung Kemayoran (di sebelah Barat), dan jalan Indrapura (di sebelah Selatan).  Masjid tidak punya lahan parkir, sehingga kendaraan diparkir di jalan Indrapura.  Rasanya agak sulit mengupayakan perluasan masjid (Iwan Nugroho dalam kompasiana.com, 17/6/2018).

    Saat sedang berada di Masjid Kemayoran, saya menghayati dalam-dalam dan mencoba untuk kembali ke masa lalu tentang berbagai kejadian di masjid ini, tidak terasa dalam lamunan kala itu diri saya seolah sedang menggembung khayali diajak menembus ruang dan waktu, nampak terasa nyaman hati ini, entah lah ada suasana sejuta rasa bahagia,sedih, haru dan kecewa yang tidak bisa diceritakan ketika saya melakukan napak tilas ke berbagai tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah perjuangan tokoh-tokoh yang saya cintai, begitulah cinta akan memberikan nilai terhadap tempat yang sederhana bahkan kadang tak dilirik orang menjadi bermakna dan istimewa. Saat saya dengan menghayati suasana di dalam masjid,  tak terasa matahari mulai semakin tergelincir dan tandanya saya harus segera berangkat ke pelabuhan Tanjung Perak karena jadwal kapal yang menuju Lombok akan segera tiba pukul 14.00 WIB.

    Bersambung…



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.