Pejabat dan Pebisnis, Mana Gula Mana Semut? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 3 Agustus 2021 11:09 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pejabat dan Pebisnis, Mana Gula Mana Semut?

    Sebagai gula yang menebarkan aroma manis, ia mengerti benar bahwa semut-semut akan berdatangan dan berkerumun di sekeliling dirinya. Sebagai pejabat, ia menyadari bahwa kursi yang ia duduki dapat mengarahkannya kepada pintu-pintu bisnis.

    Dibaca : 1.387 kali

     

    Kritik unsur-unsur masyarakat terhadap pejabat publik merupakan hal yang lumrah sebagai upaya mengingatkan. Misalnya saja bila ada pejabat yang terkesan memberi endorsement pemakaian suatu produk. Bila pejabat tidak menyebut-nyebut produk bermerek tertentu, tidak secara khusus menganjurkan pemakaiannya, dan tidak menceritakan pengalamannya memakai produk itu alias memberikan testimoni, maka masyarakat tidak akan mengritik. Tidak ada asap bila tidak ada api.

    Pejabat publik memang mengurus banyak unsur masyarakat, termasuk membantu para pelaku bisnis agar dapat menjalankan aktivitas bisnisnya dengan nyaman, tapi ia melakukan hal itu secara umum kepada pebisnis manapun sesuai dengan tugasnya. Kalau pejabat berseru: “Ayo kita cintai produk dalam negeri.” Maka ia melakukan hal yang wajar, bahkan seharusnya memang begitu, sebab ia harus mendorong warga masyarakat untuk mencintai produk buatan dalam negeri. Namun ia tidak boleh menyebut satu merek tertentu dengan tujuan agar masyarakat memilih merek itu, sebab dengan cara seperti itu ia telah mengabaikan prinsip non-diskriminasi alias telah memihak.

    Mengapa hal semacam itu dapat terjadi? Ini bukanlah hal baru, sebab sejak lama relasi antara bisnis dan kekuasaan memang sukar dipisahkan. Hanya sedikit pengusaha yang tidak mau memanfaatkan kekuasaan orang lain untuk keuntungan bisnisnya. Begitu pula hanya sedikit penguasa atau orang berpengaruh yang tidak mau memanfaatkan wewenangnya untuk membantu atau bekerjasama dengan pelaku bisnis agar dirinya sendiri juga memperoleh keuntungan.

    Seorang pejabat publik semestinya memang tidak ikut mengambil peran dalam aktivitas bisnis tertentu, kecuali sebagai pembuat aturan atau regulator, pengawas, atau penyelesai sengketa bisnis. Normatifnya begitu. Namun, di hadapan pebisnis, seorang pejabat publik tampak bagaikan gula manis, yang sangat sayang bila dilewatkan. Lewat penciuman yang tajam, para pebisnis akan mencari dari mana aroma manis berasal—pebisnis berperilaku layaknya semut-semut yang mencari gula. Di mana ada gula, ke tempat itu semut akan datang. Di mana ada kekuasan dan pengaruh, ke situlah pebisnis akan berkerumun.

    Untuk sampai kepada sumber aroma manis itu, ada pebisnis yang menyukai jalan-jalan yang sunyi dan gelap, sehingga tidak banyak yang lewat di situ, serta tidak banyak yang tahu maupun melihat ada apa di situ dan apa yang terjadi di jalan itu. Penciuman semut-semut ini umumnya demikian tajam. Mereka tahu mana manis yang asli dan mana yang memakai perisa. Manis yang asli menandakan pengaruh yang kuat, sedangkan yang perisa seolah-olah kuat padahal sebenarnya hanya nebeng pengaruh.

    Meskipun terkesan pasif, alias terlihat seolah-olah hanya menerima kedatangan para semut, gula-gula itu sesungguhnya menyadari bahwa ia memiliki daya tarik khusus bagi semut-semut. Sebagai gula yang menebarkan aroma manis, ia mengerti benar bahwa semut-semut akan berdatangan dan berkerumun di sekeliling dirinya. Sebagai pejabat, ia menyadari bahwa kursi yang ia duduki dapat mengarahkannya kepada pintu-pintu bisnis. Ia juga tahu bagaimana memainkan peran dan jabatannya.

    Karena kesadaran tentang betapa kursinya beraroma manis, bapak yang duduk di kursi ini pun belajar bagaimana membuka diri agar semut-semut pebisnis mendekatinya. Mula-mula, ia mungkin akan terlihat malu-malu menerima tawaran atau ajakan pebisnis, yang sebenarnya sudah punya info segala sesuatu tentang si bapak: apa yang disukai, apa yang dibenci, apa hobinya, siapa saja kerabat dekatnya, apa kebutuhannya, apa koleksi kegemarannya, kapan pensiunnya, dsb. Mereka tahu melalui titik mana mereka harus memasuki kehidupan pejabat ini.

    Biasanya pejabat akan bersikap menahan diri manakala ada semut mendatanginya. Ia akan menyapanya dengan ramah, tapi tidak serta merta secara verbal mengatakan membuka diri untuk bekerja sama. Walaupun, dengan menerima kunjungan pebisnis, sama saja ia telah menyatakan membuka diri. Bila pertemuan itu sudah terjadi, langkah selanjutnya akan lebih mudah. Inilah momen yang akan membuka pintu terjadinya simbiosis mutualistis antara orang yang tengah memegang jabatan publik dan pebisnis yang tengah membesarkan pundi-pundinya. Tidak mengherankan bila ada pejabat publik yang juga pebisnis, bahkan ada pejabat publik yang dengan bangga mengatakan di muka umum bahwa perusahaannya baru saja meluncurkan produk barunya.

    Tak semua pejabat publik yang sedang mengemban amanah kekuasaan mau membuka diri untuk menerima tamu pebisnis. Jenderal Polisi Hoegeng, umpamanya, mengerti benar bila ada pebisnis yang ingin mendekatinya, ia harus waspada. Ia tidak ingin dimanfaatkan oleh pebisnis yang melihat dirinya sebagai jalan untuk mendapatkan kemudahan, fasilitas, dan sejenisnya. Ia tidak mau diperlakukan sebagai ‘gula’ untuk diisap oleh ‘semut’. Ia tahu bila rasa manisnya sudah habis, semut-semut itu akan meninggalkannya dan mencari gula-gula yang lain. 

    Hoegeng menjaga diri agar tugasnya sebagai Kapolri, waktu itu, tidak tercemari oleh konflik kepentingan antara jabatan publiknya dengan kepentingan pribadi dan keluarga. Untuk menghindari konflik ini, Pak Hoegeng bahkan meminta isterinya menutup toko bunganya. Ia tidak ingin ada konflik kepentingan, tidak ingin ada fitnah, dan tidak mau tergoda untuk memanfaatkan jabatannya sebagai orang nomor satu di kepolisian. Sebagai pejabat publik, Pak Hoegeng tahu benar batas-batas normatif yang harus ia penuhi dan ia tidak mau melanggarnya, bahkan jika diminta hanya untuk meng-endorse suatu produk tertentu. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.