Mahasiswa Unej Dorong Branding Digital untuk Solusi Pedagang Kaki-5 Desa Sumbersari di Era Pandemi - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

untuk kkn

Risma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 September 2021

Sabtu, 4 September 2021 06:28 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Mahasiswa Unej Dorong Branding Digital untuk Solusi Pedagang Kaki-5 Desa Sumbersari di Era Pandemi

    Pelaksanaan program KKN BTV III Unej pada tema Pemberdayaan Wirausaha Di Masa Pandemi Covid

    Dibaca : 233 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Desa Sumbersari merupakan salah satu desa yang terdapat di kabupaten Jember yang termasuk dalam kecamatan Sumbersari. Desa sumbersari  memiliki luas daerah dengan total 4,88 km2 dan diduduki oleh 36.071 penduduk. Lokasi desa Sumbersari yang dekat di wilayah kampus Unej dan pusat kota Jember dimanfaatkan penduduk sekitar untuk berprofesi sebagai pedagang. Desa ini juga termasuk dalam mata pencaharian perdagangan tertinggi menurut Badan Pusat Statistik pada Kecematan Sumbersari dalam angka 2020 yakni sebesar 8.098 penduduk.

    Ditengah masa pandemi Covid-19, banyak penduduk yang berprofesi sebagai pedangang terdampak terutama di desa Sumbersari. Pandemi membuat para pedagang kehilangan pelanggan mereka sebab para pelanggan menjadi enggan untuk membeli makanan diluar dan pergi keluar karena takut terkena virus korona. Hal ini menyebabkan pendapatan para pedagang khususnya pedagang kaki lima menjadi menurun. Penurunan pendapantan ini dapat terlihat juga di daerah sekitar kampus dengan kegiatan mahasiswa yang ditiadakan membuat para mahasiswa yang berasal dari luar daerah kembali ke tempat asal mereka sehingga para pedagang kaki-5 disekitar kampus menjadi sepi pembeli.

    Era kehidupan kita di sekarang adalah era serba digital. Semua hal bisa dicari dengan mudah dan cepat melalui smartphone masing-masing. Tak terkecuali dengan belanja online, semua barang hampir bisa dibeli hanya tinggal klik-klik lalu melakukan transaksi online dan barang bisa cepat sampai di rumah. Bagi sebuah penjual, penilaian merek atau brand mereka tentu sangat berarti untuk perkembangan toko mereka. Hal ini dapat diusahakan melalui branding digital.

    Branding digital adalah upaya yang melibatkan kreativitas untuk mengenalkan perusahaan atau merek kepada khalayak umum. Hal ini guna membangun image dan nama besar sebuah brand atau merek. Branding digital adalah salah satu cara untuk solusi para pedagang kaki lima di masa pandemi ini. Melalui program ini, kita bisa melakukan promosi produk melalui media online sehingga pendapatan pedagang mengalami pemulihan. Dengan  kegiatan ini, dapat menjaring lebih banyak pelanggan dan memudahkan pelanggan untuk memesan makanan yang diinginkan.

    Cilok Riski adalah salah satu pedagang kaki lima yang berjualan di wilayah desa Sumbersari. Pemilik usaha, Bapak Yuli, mengeluhkan penurunan pendapatan di masa pandemi Covid 19 ini. Berdasarkan hasil wawancara, Pak Yuli meraup untung sebelum korona rata-rata Rp80 ribu perhari sedangkan karena dampak pandemi ini Pak Yuli hanya meraup untung sebesar Rp30 ribu per hari paling banyak. Bahkan pernah sampai tidak ada pembeli atau untung perharinya 0.

    Dengan program KKN Back To Village 3 Universitas Jember  yang merupakan salah satu program yang dirancang oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) di masa pandemi Covid 19 yang merupakan bagian dari https://unej.ac.id/ . Melalui program ini, mahasiswa diharapkan terjun ke masyarakat untuk mengabdi ke masyarakat. Dengan program ini, saya akan melakukan branding digital milik Bapak Yuli yang memiliki usaha sebagai pedagang cilok yang bernama Cilok Riski dengan cara melakukan promosi usaha Bapak Yuli dengan optimalisasi promosi dan pelatihan creative content  di media sosial seperti instagram dengan branding pembuatan logo dan facebook.

    Hal pertama yang dilakukan untuk memiliki personal branding dari usaha cilok bapak Yuli yaitu bisa dilakukan dengan pembuatan logo agar usaha Bapak Yuli memiliki ciri khas. Sehingga pada nantinya, para pembeli lebih bisa mengenali dan teringat dengan usaha cilok Riski yang dimiliki Bapak Yuli. Dalam pembuatan logo, saya juga mencetak sticker yang ditempelkan di gerobak jualan milik Bapak Yuli agar dapat mudah dikenali dari jauh oleh pelanggan.

    Setelah pembuatan logo sebagai ciri khas usaha Cilok Riski, selanjutnya dapat dibuatkan marketplace online seperti pembuatan akun pada media sosial seperti instagram dan facebook guna menjaring pembeli yang lebih luas. Selanjutnya melakukan promosi di media sosial terkait, dengan menggunakan foto produk yang baik dan bisa mengeditnya menjadi postingan menarik melalui aplikasi Canva. Selanjutnya dapat dilakukan dengan memposting foto-foto produk yang sudah di edit ke akun sendiri ataupun bisa merepost di grup dengan komunitas kuliner yang berada di daerah Jember.

    Dengan adanya branding digital ini, kita dapat lebih menghemat tenaga untuk melakukan promosi karena penyampaiannya lebih cepat, menjaring konsumen yang lebih luas, dan lebih terhubung dengan pelanggan karena dapat secara langsung berkomunikasi.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.