Kenapa Sebaiknya Kawasan Industri Didominasi Tenaga Kerja Lokal? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar para pekerja di kawasan industri Morowali. Sumber foto: daerah.sindonews.com

Sri Kandhi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2020

Kamis, 23 September 2021 06:48 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kenapa Sebaiknya Kawasan Industri Didominasi Tenaga Kerja Lokal?

    KIPI Bulungan sedang dalam tahap pembangunan. Bupati Bulungan, Syarwani, mengatakan nantinya kawasan industri ini akan mencontoh kawasan industri IMIP yang berada di Morowali, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja lokal.

    Dibaca : 501 kali

    Dukung penulis indonesiana

     

    Indonesia semakin gencar mengerjakan proyek-proyek yang masuk dalam agenda Proyek Strategis Nasional (PSN). Salah satu yang sedang digarap adalah pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning - Mangkupadi di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bulungan.

    Dalam tahap pembangunannya, Bupati Bulungan, Syarwani, mengaku menjadikan kawasan industri IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park) sebagai tolok ukur, baik dari segi kisaran UMK hingga penyerapan tenaga kerja lokal. 

    Industri masih memiliki stigma negatif terkait pekerja dan dibumbui dengan desas-desus bahwa pekerja asinglah yang masih merajai di kuota pekerja industri di Tanah Air. Padahal, hal seperti itu bukanlah fakta sebenarnya yang ada di lapangan. 

    Indonesia dan daerah-daerah industri mempunyai kebijakan tentang serapan pekerja, yakini 80 persen tenaga kerja lokal dan 20 persen tenaga kerja asing. Nantinya jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan diperkirakan sebanyak 50.000 orang, di antaranya terdiri 45 ribu tenaga lokal dan 5.000 lainnya tenaga kerja asing.

    Sementara untuk UMK atau upah minimum kabupaten, jika di IMIP sudah menyentuh Rp3,8 juta maka Bulungan yang berada di angka Rp2,4 juta ingin mematok angka yang sama dengan IMIP untuk pekerjanya. Cara agar daerah bisa meningkatkan pendapatan daerah salah satunya bisa melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

    Bupati Bulungan kembali menunjuk IMIP sebagai contoh. Di IMIP dana desa saat ini bisa mencapai Rp7 miliar. Ditambah, ada lagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Melansir dari TribunKaltara.com, PT IMIP juga turut membantu berkontribusi untuk PAD sebesar Rp270 miliar dari galian C per tahunnya dari target Pemda Morowali sekitar kurang lebih Rp5,2 miliar per tahun. Itupun belum termasuk kontribusi dari sektor-sektor lainnya.

    IMIP di Morowali yang dijadikan percontohan dalam kawasan industri tidak serta-merta terbentuk secara instan. Dulunya, tepat di desa Bahodopi di mana PT IMIP berada, daerah tersebut masih terisolir, belum ada penerangan di jalan-jalan sehingga pada malam hari tidak banyak warga beraktivitas di luar rumah.

    Setelah hadirnya PT IMIP, Kecamatan Bahodopi seolah hidup, banyak gemerlap cahaya dari lampu-lampu yang telah dialiri listrik. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Bupati Bulungan Syarwani mengenai perkembangan di Morowali.

    “Memang sangat luar biasa dan dengan waktu yang relatif singkat sejak dari tahun 2016 itu mulai dari nol, dan hari ini perkembangannya sangat luar biasa sudah dapat menghasilkan produk seperti nikel,” ujarnya.

    Selain itu, Bupati Bulungan Syarwani pun turut berpesan agar berbagai pihak yang ada di Bulungan dapat memulai untuk mempersiapkan diri di proyek KIPI Tanah Kuning - Mangkupadi. Hal ini pun bertujuan agar bisa memanfaatkan peluang dan perputaran ekonomi yang besar. 

    Ia juga berharap dengan adanya pembangunan KIPI ini bisa turut memberikan dampak yang baik terhadap Bulungan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.