Soal Pengorbanan dan Pengabdian dalam Film There Was A Father - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Zakiyyatunnisa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 September 2021

Rabu, 22 September 2021 10:40 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Soal Pengorbanan dan Pengabdian dalam Film There Was A Father

    There Was A Father merupakan salah satu film yang diproduksi ketika masa Perang Dunia II. Yasujiro Ozu penulis sekaligus suradara dalam film ini menulis naskah pertama kali pada tahun 1937, tetapi naskah belum sempat diselesaikan karena Ozu harus menjalani wajib militer di Angkatan Darat Jepang pada September 1937.

    Dibaca : 901 kali

    There Was A Father menceritakan satu keluarga kecil tentang Shuhe Horikawa seorang ayah yang berjuang untuk memberikan pendidikan terbaik untuk putranya yang bernama Ryohei. Shuhei ialah seorang guru matematika di Sekolah Menengah dan paling dihormati oleh semua muridnya. Kisah ini bermula ketika Shuhei mengajak para muridnya melakukan perjalanan sekolah ke beberapa tempat, ketika sedang beristirahat di sebuah rumah istirahat beberapa murid terlihat kabur pergi ke danau untuk menaiki perahu, padahal sebelumnya Shuhei sudah memberikan peringatan pada muridnya untuk tidak pergi ke danau.

    Hal yang tak diinginkanpun terjadi, salah satu murid yang menaiki perahu tenggelam dan sudah tak bisa diselamatkan. Shuhei menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan tersebut dan merasa bersalah karena tidak bisa menjaga muridnya dengan baik, atas penyesalannya Shuhei berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang guru.

    There Was A Father merupakan salah satu film yang diproduksi ketika masa Perang Dunia II. Yasujiro Ozu penulis sekaligus suradara dalam film ini menulis naskah pertama kali pada tahun 1937, tetapi naskah belum sempat diselesaikan karena Ozu harus menjalani wajib militer di Angkatan Darat Jepang pada September 1937. Setelah kembali dari tugasnya,Ozu lebih memilih menulis naskah baru yang berjudul The Flavor of Green Tea Over Rice, tetapi gagal di produksi karena adanya beberapa perubahan oleh sensor militer yang dia tidak setujui. Pada akhirnya Ozu kembali melanjutkan naskah There Was A Father dan memproduksi filmnya hingga rilis pada tahun 1942.

    There Was A Father

    Meskipun film ini di produksi saat masa Perang Dunia II, film ini sama sekali tidak membahas tentang perang. Melainkan membahas mengenai kisah seorang ayah dan putranya. Film ini  secara tak langsung menampilkan sisi mengenai pengorbanan dan pengabdian terhadap tugas serta tanggung jawab yang paling utama dibanding keluarga. Shuhei tak ingin putranya seperti dia yang lalai akan tugasnya ketika ia masih menjadi seorang guru. Sang ayah ingin putranya sukses akan karir yang sudah dicapai. Karena menurut Shuhei, ketika mendapatkan suatu tugas dan amanah, maka harus dilakukan dan dikerjakan dengan baik hingga tuntas, tidak ada pengecualian sama sekali.

    Film ini sangat sederhana, nyaris tanpa plot dan konflik sama sekali. Selama 94 menit dialog yang muncul hanya sedikit, banyak adegan yang memfokuskan pada beberapa tempat dan pemain. Tapi, dari situlah film ini terlihat hidup. Ozu dengan ciri khasnya bisa menampilkan alur yang hidup meskipun dialog yang diberikan hanya sedikit.

    Sedikit membahas sang sutradara, Yasijuro Ozu merupakan salah satu sutradara Jepang yang memiliki ciri khas ketika memproduksi semua filmya. Ozu sering disebut sebagai sutradara paling “Jepang” karena selalu membuat film tentang kehidupan menengah masyarakat Jepang dan selalu berfokus pada nilai-nilai keluarga yang sederhana. Selain itu, Ozu terkenal dengan teknik kamera yang unik yaitu dengan mengambil gambar dengan kamera yang dipasang setinggi tiga kaki dari tanah, hal tersebut dilakukan Ozu untuk memperlihatkan ciri orang Jepang ketika duduk di atas tikar tatami Jepang di lantai rumah tradisional.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.