Lika Liku Perfilman Indonesia di Tahun 90-an - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Zakiyyatunnisa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 September 2021

Minggu, 21 November 2021 17:41 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Lika Liku Perfilman Indonesia di Tahun 90-an


    Dibaca : 212 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perfilman Indonesia mulai terlihat sukses pada tahun 1950, di awali dengan berdirinya perusahaan film pertama milik Indonesia yaitu Perfini  (Perusahaan Film Nasional) dengan merilis film perdananya yaitu Darah dan Do’a (1950) yang disutradarai oleh Usmar Usmail. Film tersebut sukses menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia, karena film ini adalah film lokal pertama yang semua pihak produksi dikerjakan oleh orang Indonesi. Suksesnya film tersebut pastilah tidak luput dari latar belakang sejarah serta perjuangan para pegiat film dalam menyukseskann karir film di Indonesia. Mereka harus bersaing terlebih dahulu dengan orang asing yang terus menguasai pasar film di Indonesia.  

    Sebelum Perfini didirikan atau ketika tahun 1900-an, perfilman di Indonesia seluruhnya dikuasai oleh orang asing, hal tersebut terlihat dari banyaknya perusahaan studio film yang didirikan oleh orang-orang asing. Dan perlu diketahui bahwa perusahaan film pada masa tersebut banyak dikuasai oleh orang China dan Belanda, kebanyakan dari mereka hanya menjadikan Indonesia sebagai latar dalam film atau hanya mengambil ide cerita yang berasal dari Indonesia, seperti tentang kebudayaan dan kisah-kisah yang melegenda di Indonesia.

    Contohnya adalah film yang berjudul Loetoeng Kasarung (1926), film yang menceritakan tentang lengenda Sunda dan film ini tercatat sebagai film pertama yang diproduksi di Indonesia. Film ini merupakan film dengan model trans-nasional pertama karena terlibatnya kerjasama antara Indonesia dan Belanda, L. Heuveldrop dan G.Kruger yang berasal dari Belanda yang memproduksi film tersebut dan para pemain Loetoeng Kasarung ialah berasal dari Indonesia, selain itu Bupati Bandung pada saat itu juga turut serta menjadi bagian dalam pembuatan film Loetoeng Kasarung sebagai penyunting film dan penanggung jawab sinematografi. Film ini dibuat berdasarkan cerita pantun dengan judul  'Si Lutung yang Tersesat', dan saat itu masih populer di masyarakat Sunda, dengan tokoh utama yang menyerupai sekor lutung.  Selain mengisahkan tentang legenda kisah Sunda, film ini juga secara tidak langsung memperkenalkan budaya Indonesia seperti menunjukkan seni wayang, sandiwara dan kesenian Sunda lainnya.

    Setelah kesuksesan film Loetoeng Kasarung, pada tahun 1930 mulai muncul berbagai jenis film yang diproduksi oleh orang-orang asing dengan menggunakan latar Indonesia, selain itu juga beberapa film memasukan unsur-unsur lokal budaya seperti musik-musik yang biasanya digunakan dalam pertunjukan seni panggung di Indonesia.

    Masuk tahun 1940-an orang-orang Indonesia diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari produksi film seperti sutradara dan lainnya, hal tersebut dilakukan karena melihat kesuksesannya film Loetoeng Kasarung, dimana beberapa orang Indonesia juga ikut andil dalam pembuatan film tersebut. Tapi hal tersebut mulai dibatasi kembali karena pada tahun 1941 Jepang mulai menguasai Indonesia, mereka mengambil alih seluruh perusahaan film dan memproduksi film dokumenter sebagai media propaganda perang. Untungnya hal tersebut tidak bertahan lama, karena setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan film tersebut direbut kembali oleh Belanda, dan kembali memproduksi fil yang berjudul Djauh Dimata (1948) dan Gadis Desa (1948) dengan latar tempat Indonesia. Dari film-film tersebutlah yang membuat Usmar Ismail dikenal dan yang akan dikenal menjadi pelopor Gerakan film nasional.

    Setelah dikenalnya Usmar Ismail, pefilman Indonesia terlihat cerah kedepannya, dibuktikan dari film Darah dan Doa pada tahun 1950 dan film Dosa Tak Berampun pada tahun 1951 yang semakin menyukseskan Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Nasional. Tak berlangsung lama, sekitar tahun 1957 muncul golongan kaum komunis PKI atau golongan kiri yang saat itu ingin menguasai dunia film. Hal tersebut membuat perfilman di Indonesia pecah menjadi dua golongan, golongan Usmar dan golongan kiri. Pada tahun 1961 liris sebuah film yang berjudul Pagar Kawat Beruri, dan pada saat itu golongan kiri menuntut agar film tersebut ditarik dari peredaran karena mengganggap film tersebut membela orang Belanda dan membuat orang yang menontonnya bersimpati pada Belanda. Namun, pada akhirnya film ini dilarang ditanyangkan di bioskop pada saat itu. Setelah golongan kiri sudah tidak ada keberadaanya, pada tahun 1967 perfilman di Indonesia mulai kembali cerah, terlihat dari banyaknya sutradara yang mulai memproduksi film-film nasional yang terhitung sukses dipasaran.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.