Kegigihan Anna Wardiyati Kembangkan PKBM Cemerlang Secara Mandiri - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Senin, 11 Oktober 2021 06:09 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kegigihan Anna Wardiyati Kembangkan PKBM Cemerlang Secara Mandiri

    SEPERTI halnya anak muda pada umumnya, Anna Wardiyati semula bercita-cita bekerja di kantoran. Karena itu, setelah berhasil meraih gelar sarjana akuntansi, Anna bekerja di sebuah bank BUMN. Belakangan panggilan jiwanya tidak di perbankan. Anna akhirnya terjun ke dunia pendidikan.

    Dibaca : 477 kali

    Dukung penulis indonesiana

    SEPERTI halnya anak muda pada umumnya, Anna Wardiyati semula bercita-cita bekerja di kantoran. Karena itu, setelah berhasil meraih gelar sarjana akuntansi, Anna bekerja di sebuah bank BUMN.  Belakangan panggilan jiwanya tidak di perbankan. Anna akhirnya terjun ke dunia pendidikan. 

    Tapi Anna tidak mendirikan sekolah mewah dan mahal,  ia justru mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Lembaga ini merupakan pendidikan berbasis kemasyarakatan yang bertujuan untuk membantu warga yang tidak punya akses ke pendidikan formal. Alasannya karena miskin, jauh dari sekolah, umurnya sudah melewati usia sekolah, dan sebagainya.

    Anna mendirikan PKBM  Cemerlang. Lokasinya di Jalan Dieng Km.4 Sibunderan, RT5/RW4 Krasak, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

    PKBM ini terletak di sebuah gang yang relatif sempit. Ada sebuah papan nama kecil bertuliskan PKBM Cemerlang untuk menunjukkan jalan ke arah sekolah. Pertama kali melihat, orang bisa salah paham dengan PKBM ini karena lokasinya masuk gang kecil.

    Setelah memasuki kawasan PKBM, orang baru sadar bahwa ini sebuah kawasan pendidikan berbasis masyarakat yang keren. Selain ada tempat belajar, di sana juga terdapat tempat usaha yang memproduksi berbagai macam produk kuliner lokal Wonosobo. Pengelolaannya antara lain para lulusan PKBM Cemerlang yang kebanyakan adalah ibu-ibu.

    Kombinasi antara sekolah dan  bisnis ini menjadi model PKBM yang mandiri. Para siswa, yang di PKBM disebut warga belajar, tidak perlu membayar uang sekolah.  

    Inspirasi dari Ibu

    Mengapa Anna banting setir dari pegawai bank menjadi seorang pendidik dan pebisnis? Semua ini  berawal dari kepergian Ibunda tercinta untuk selamanya.

     "Titik balik saya berawal saat melihat jasad ibu dimasukkan ke liang lahat. Saya terhenyak, bahwa harta dan pencapaian apapun semasa di dunia tak akan dibawa saat dipanggil Sang Pencipta. Hanya amal ibadah yang mampu menolong menuju surga," katanya.

    Ia mendirikan PKBM dengan harapan bisa membalas budi orang tua. Andai Tuhan memberikan pahala atas apa yang ia lakukan ini, Anna memohon pada-Nya agar dialirkan  untuk orang tua. "Insyaallah saya dedikasikan seluruh hidup saya dari awal hingga akhir. Semoga menjadi ladang ibadah untuk saya dan seluruh masyarakat yang terlibat, Aamiin “ kata Anna  kembali.

    Ia sendiri lahir dan dibesarkan di Wonosobo, kota di dataran tinggi pegunungan Dieng, di wilayah selatan Jawa Tengah. Sepeninggal Ibunya, Anna memutuskan untuk membantu ibu-ibu dengan memberi pekerjaan berupa menghias kerudung.

    Sedikit demi sedikit, jumlah ibu-ibu yang terlibat semakin banyak. Mereka merasa senang karena bisa mendapatkan penghasilan dari keterampilan tangan. Seiring perjalanan waktu, Anna melihat kondisi nyata para ibu-ibu yang ternyata memiliki banyak permasalahan sosial.

    Banyak kasus pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tentunya para perempuan rawan menjadi korban.

    Pangkal dari masalah ini adalah akibat pernikahan dini dan kurangnya pendidikan kesetaraan gender. "Di sini, anak yang sudah beranjak remaja langsung dinikahkan oleh orangtuanya tanpa menunggu kesiapan mental," kata Anna menganalisa.

    Akibatnya, banyak masalah timbul dalam rumah tangga dari pasangan pernikahan dini tersebut. Angka perceraian pun meningkat.

    Anna kemudian mempunyai gagasan untuk mendirikan PKBM yang akhirnya dilegalkan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo pada tanggal 01 Januari 2010. Sebagai peserta didiknya adalah para karyawan yang biasa membantu Anna menjalankan bisnis.

    Tantangan Saat Memulai PKBM

    Pada awalnya, Anna bekerjasama dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang sebagian besar berasal dari sekolah formal. Lama kelamaan muncul masalah baru. Mereka cenderung mengutamakan sekolah formal daripada kiprahnya di PKBM Cemerlang.

    Saat warga belajar telah datang sesuai jadwal, justru tenaga pendidik sering tidak datang karena ada kegiatan di sekolah.

    Tahun 2011, Anna mulai merekrut pendidik penuh waktu. Anna menerapkan kontrak kerja yang disepakati kedua belah pihak. Dengan manajemen penuh waktu, semua pendidik memiliki jam kerja aktif yaitu 07.00 WIB  sampai dengan 16.00 WIB setiap hari.

    Mereka libur pada hari Ahad dan hari libur nasional. Dampak kebijakan ini sangat terasa. Para pendidik dan tenaga kependidikan dapat fokus  memikirkan perkembangan PKBM.

    Tapi Anna harus memikirkan gaji tetap dan biaya lain setiap bulannya. Di mata Anna, semula ada dua pilihan. Pertama dengan mengandalkan perhatian pemerintah, tapi pilihan ini akan membuat PKBM tidak berkembang maksimal.

    Kedua, Anna banting setir membangun PKBM berwawasan wirausaha. Sebagai wirausaha tentu ada risiko gagal, semua itu dihadapi Anna dengan tegar. ”PKBM Cemerlang memilih opsi kedua yaitu mengembangkan unit usaha untuk mencukupi operasional dan kegiatan lembaga,” ucap Anna mengisahkan.

    Lalu, Anna mengembang wirausaha  yang melibatkan warga belajar, alumni dan masyarakat sekitar. Anna menerapkan manajemen kewirausahaan yang diterapkan secara profesional dari hulu hingga hilir.

    Ada tiga bisnis yang dijalani Anna untuk  mendukung keberlangsungan  PKBM Cemerlang. Pertama, Davino Collections, yang berlokasi di Pasar Induk Wonosobo Blok A1 no 33 dan 34. Usaha ini memproduksi dan memasarkan produk sulam pita dan aneka kerajinan tangan lainnya hasil karya warga belajar.

    Kedua, Anna memiliki produk Carica Cemerlang. Produk ini merupakan minuman berbahan dasar buah potensi lokal. Sementara yang ketiga adalah Bintang Cemerlang yakni industri olahan aneka camilan berbahan dasar potensi lokal.

     

    Tabah Hadapi Cobaan Besar

    Pada awalnya usaha kewirausahaan milik Anna berjalan lancar. Hasil keuntungan bisa dipakai untuk membiayai PKBM Cemerlang. Tapi musibah tak bisa dihalangi.

    Pada 2014, unit usahanya terbakar habis. "Saya sempat terpuruk. Seluruhnya ludes kebakaran. Berbulan-bulan saya vakum, hingga sebuah mimpi membangunkan saya untuk kembali bersemangat," ujar dia.

    Ia bersemangat kembali untuk membangun usahanya. Jika tak segera memulai kembali dari awal, maka ia menelantarkan ratusan orang yang menjadi tanggung jawabnya.

    Anna kembali memulai usaha dari titik nol. “Saya berserah diri dan hanya memohon campur tangan Allah SWT," ucap Anna.

     

    Semangat Baru

    Dengan semangat baru, Anna membangkitkan kembali PKBM Cemerlang. Ia menerapkan strategi “Bintang Cemerlang”, yang merupakan akronim dari  Berkorban, Inovatif, Nyaman, Tingkatkan, Niat, untuk menggapai masa depan Cemerlang ”.

    Arti Berkorban adalah sebuah pencapaian besar lahir dari pengorbanan besar pula. Ikhlas karena Allah, berkorban waktu, tenaga, pikiran dan biaya. Kerjakan dengan sepenuh hati, harus fokus.

    Inovatif, berarti pendidikan yang diselenggarakan berkualitas sesuai kebutuhan masyarakat dari berbagai latar belakang dan kondisi yang beragam. Anna menerapkan Program Belajar 3M yakni Mudah, Murah, dan Mencerdaskan.

    Nyaman berarti pembelajaran berlangsung menyenangkan dengan menciptakan rasa kekeluargaan antara pendidik, tenaga kependidikan dan warga belajar. PKBM juga rutin mengadakan kegiatan keakraban silaturahim seperti pengajian, halal bihalal, dharma wisata, olahraga, dan sebagainya.

    Kemudian kepanjangan akronim lainya adalah  Tingkatkan mutu pelayanan dengan Niat dan Gapai Cemerlang.

     

    Gapai Kesuksesan

    Dengan adanya pengelolaan PKBM yang tepat, maka lahirlah lulusan  berkualitas. Menurut Anna, 70 persen warga belajar PKBM mampu berwirausaha atau terserap dunia usaha dan industri.

    Dari sisi bisnis, Anna juga meraih kesuksesan. Omzet penjualan minuman Carica mencapai Rp 126 juta setiap bulan, dengan keuntungan bersih kurang lebih Rp 30 juta setiap bulannya.

    Dengan adanya pendapatan tersebut maka akan meningkatkan kesejahteraan warga belajar. Pengelolaan PKBM juga bisa dilaksanakan secara mandiri tanpa tergantung bantuan pihak lain.

    Dengan kesuksesan tersebut, banyak pihak yang bekerjasama dengan  PKBM seperti berbagai BUMN, BUMD, CSR dan dunia usaha dan dunia industri lainnya.

    PKBM juga menjadi tempat magang, Praktik Kerja Lapangan, Praktek Kerja Industri (Prakerin)  dari berbagai sekolah formal, khususnya SMK. Banyak pula kunjungan studi banding dari berbagai instansi pendidikan dan universitas / perguruan tinggi, maupun instansi non kependidikan seperti UMKM, BPOM, MUI, dan sebagainya.  (R.Wiranto)

     

    Penulis : Rihan Wiranto

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.