Menyoal Masa Depan Literasi Peserta Didik Indonesia, Langkah Awal Identifikasi Menyiapkan Merdeka Belajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Reszky Fajarmahendra Riadi

Guru Sekolah Dasar & Pecandu Belajar
Bergabung Sejak: 4 September 2020

Kamis, 25 November 2021 08:20 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Menyoal Masa Depan Literasi Peserta Didik Indonesia, Langkah Awal Identifikasi Menyiapkan Merdeka Belajar


    Dibaca : 251 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagi orang yang percaya, penjelasan tidak diperlukan. Bagi orang yang tidak percaya, penjelasan ada gunanya - St. Thomas Aquinas

    Sebuah laporan dari World Bank yang berjudul Janji Pendidikan Indonesia pada tahun 2020 menyoroti Pandemi Covid-19 akan berakibat terhadap pendidikan di Indonesia. Jika pembaca sudah membaca laporan tersebut, terdapat 12 rekomendasi untuk memperkuat pembelajaran di masa Pandemi Covid 19 bagi Indonesia.

    Penguatan pembelajaran sebagai dasar rekomendasi World Bank berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Yarrow, Masood dan Afkar menyatakan bahwa peserta didik di Indonesia akan kehilangan 16 poin pada poin bidang membaca di PISA (Programme for International Student Assessment) dan setara dengan hilangnya pendapatan US $367 perorangan per tahun di masa depan akibat periode penutupan selama empat bulan dari 24 Maret hingga akhir September 2020 (Yarrow,Masood, dan Afkar: 2020).

    Menarik jika dibahas bahwa keterampilan pada bidang membaca berpengaruh terhadap pendapatan di masa depan adalah hal baru yang penulis ketahui. jika kita mengganti kurs dolar tersebut ke dalam kurs Indonesia, berarti kehilangan pendapatan sebesar Rp5.253.696 (Kurs 24 November 2021).

    Potret hasil PISA dalam bidang membaca juga sungguh memilukan hasil keterampilan membaca siswa pada tahun 2000 dengan tahun 2018 berada dalam score yang sama yaitu 371 bisa dibilang bahwa keterampilan pelajar dalam bidang membaca berjalan di tempat selama 18 tahun.

    Para penggiat literasi banyak yang mempermasalahkan mengenai hasil asesmen dari PISA, argumennya banyak yang berkata bahwa standar yang dilakukan tidak sesuai dengan budaya dan praktik pendidikan di Indonesia. Jadi hasil yang didapatkan bisa saja bias.

    Penulis tidak setuju dengan argumen ini, sebagai sebuah data yang diolah secara profesional dalam kaidah akademik, harusnya data tersebut menjadi sebuah refleksi besar bagi stake holder bidang pendidikan untuk bahu membahu memperbaiki kondisi ini.

    Selain itu pada laporan PISA tahun 2018 yang dirilis pada 3 Desember 2019 menyatakan bahwa guru-guru di Indonesia tergolong memiliki antusiasme yang tinggi. Antusiasme para guru Indonesia termasuk empat tertinggi setelah Albani, Kosovo, dan Korea. Hal positif ini tentu menggembirakan bahwa para guru memiliki rasa ingin tahu yang tinggi setidaknya untuk belajar menggali kompetensinya dalam mengajar.

    Kembali lagi pada keterampilan membaca yang mempengaruhi pendapatan dan juga data mengenai keterampilan membaca kita yang seakan berjalan di tempat. Perlu adanya langkah yang revolusioner untuk menggugah murid-murid untuk meningkatkan keterampilan membacanya.

    Program Gerakan Literasi Sekolah Jangan Menjadi Jargon yang Utopis

    Manusia berhenti berpikir saat mereka berhenti membaca - Denis Diderot

    Terdapat program yang sangat baik mengenai literasi yang digagas oleh Kemendikbud melalui Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Di dalamnya terdapat program literasi yang harus dijalankan oleh setiap sekolah.

    Semangat program ini adalah meningkatkan keterampilan membaca peserta didik, menulis, mengkomunikasikan ide dan gagasannya. selain itu sekolah juga harus menyediakan sumber baca yang relevan dengan siswa serta mendekatkan peserta didik dengan buku, seperti membuat pojok baca disetiap kelas.

    Keterampilan berbahasa dibagi menjadi dua bagian yaitu keterampilan reseptif (menerima informasi) dan keterampilan produktif (memproduksi informasi). Keterampilan reseptif berbahasa terdiri dari membaca dan mendengarkan, keterampilan produktif berbahasa dari menulis dan berbicara.

    Kegiatan literasi di sekolah harus diprioritaskan kepada kemampuan berbahasa produktif khususnya menulis, dengan menulis setidaknya siswa memerlukan input-input bahan bacaan untuk memperkaya khazanah tulisannya, sehingga dengan penekanan kemampuan berbahasa produktif, dapat sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa reseptif.

    Pada sekolah dasar, pengenalan dunia tulis menulis bisa melalui menggali imajinasi peserta didik, dengan membuat tulisan cerpen dan fabel. Karya fiksi penting pada periode ini. Guru mengarahkan peserta didik untuk memulai dengan membuat ide cerita, menguraikan menjadi ide pokok, kemudian diurai kembali menjadi sebuah paragraf utuh dalam satu rangkaian cerita. Peran guru dalam mendengarkan imajinasi anak untuk dituliskan ke dalam sebuah tulisan menjadi penting.

    Pada sekolah menengah, menulis bisa dilakukan dengan penekanan karya non fiksi, seperti membuat sebuah karya essai berdasarkan disiplin ilmu yang diminati. kemampuan mengolah fakta, kemudian membuat sebuah opini dari fakta tersebut menjadi penting. peserta didik dapat diajak untuk mengetahui bagaimana mencari sebuah fakta, kemudian melihat kelemahan atau kelebihan dari fakta tersebut kemudian dielaborasi menjadi sebuah opini.

    Keterampilan menulis menjadi sangat penting, ketika Amerika Serikat menyadari penurunan daya saing, solusi yang dibuat untuk sekolah dasar dan sekolah menengah adalah mewajibkan pelajaran mengarang. (Godzich: 1994)

    Guru Pahlawan Masyarakat

    Ketidakmampuan kita mengetahui sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada- Seyyed Hossein Nasr

    Jika penurunan kemampuan membaca berkelindan dengan turunnya pendapatan di masa depan. Hal yang dilakukan guru adalah kembali memupuk kemampuan literasi peserta didiknya agar mempunyai bekal pengetahuan yang cukup di masa depan.

    Pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang memberdayakan, saya rasa argumen Yarrow dkk mengenai penurunan kemampuan membaca berpengaruh pada penurunan penghasilan menggunakan kacamata profesi saat ini, padahal menurut World Economic Forum (2018) 65% siswa yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar akan bekerja pada bidang yang hari ini belum tercipta.

    Tapi pertanyaan berikutnya adalah, perlukan kemampuan membaca di dunia profesi yang belum terdefinisikan saat ini? tentu sangat perlu! membaca akan meningkatkan kemampuan Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah) yang menjadi salah satu keterampilan Abad 21 yang direkomendasikan oleh UNESCO.

    Jadi walaupun peserta didik kita belum mengetahui apa profesi yang dijalani nanti di masa depan, pembekalan oleh guru khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca sebagai jalan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah yang sangat diperlukan di dunia kerja menjadi sebuah keharusan.

    Guru harus bertindak menyelesaikan masalah-masalah yang dikemukakan di atas seperti apa yang dikatakan oleh Guy Kawasaki; Jika kita harus meletakkan seseorang di atas alas sejarah, taruhlah guru, mereka adalah pahlawan masyarakat.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.