Tak Terlihat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Indra Kurniawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Jumat, 26 November 2021 08:25 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tak Terlihat

    Cerita pendek mengenai seorang perempuan memiliki yang tidak sengaja membuka kemampuannya dapat melihat apa yang tak terlihat oleh mata normal. Di cerita ini terdiri dari 5 sekawan 3 wanita dan 2 laki - laki : 1. Asri teman perempuan ke-1 2. Dena teman perempuan ke-2 3. Alilah teman perempuan ke-3 4. Karto teman laki laki ke-1 5. Jihan teman laki laki ke-2

    Dibaca : 214 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku hanyalah orang yang biasa, banyak melamun dan terkadang kurang peka dengan keadaan sekitarku. Hingga kemampuan melihat ini muncul lalu mengubah kehidupan kujalani ini. Aku memiliki kemampuan yang sebenarnya yang tidak ingin kumiliki yaitu kemampuan untuk merasakan “mereka” yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Aku masih duduk di bangku SMP bersekolah tidak jauh dari kota yang aku tinggali. Hiruk pikuk keadaan kota yang sangat kusukai membuatku berandai untuk dapat duduk di singgasana perkotaan suatu hari nanti. Jarak dari rumah untuk sampai ke sekolah cukup jauh dikarenakan sekolah tersebut adalah sekolah unggulan yang dibangun khusus untuk anak – anak yang memiliki kemampuan “lebih” dibandingkan dengan anak – anak berbeda sekolah. Kami siswa yang dicap sebagai seseorang “pintar” dan menjadi musuh siswa – siswa sekolah lain karena mereka iri dengan prestasi yang kami miliki. Aku percaya bahwa yang masuk di sekolah ini adalah siswa – siswa yang sudah berjuang keras untuk dapat masuk ke dalam sekolah ini. Suatu hari aku dan temanku Asri seperti biasanya kami pergi ke sekolah bersama – sama di setiap pagi hari. Aku dan Asri selalu berbincang mengenai topik – topik horor karena temanku Asri ini sangat menyukai dunia horror, dan selalu berusaha mengajakku ke tempat yang menurutku tidaklah menyenangkan untuk dikunjungi, aku kurang dalam hal – hal seperti ini dikarenakan aku memang takut akan hal – hal yang tidak bisa kulihat dan kurasakan. Setelah sampai sekolah kami seperti biasa melakukan kegiatan – kegiatan sekolah seperti biasa hingga waktu pulang. Di sekolah aku tidak hanya berjumpa dengan Asri tetapi ada teman – teman lainnya juga yang sering bersamaku, seperti Karto, Dena, Jihan dan Alilah. Kami sudah berteman sejak dari SD hingga SMP ini, Karto yang paling suka jahil, Dena yang paling rasional diantara kita semua, Jihan paling tidak menyukai kekerasan dan Alilah yang cantik dan sangat mempesona diantara kita berempat. Kami memang sangat sekali bermain bersama, apalagi kalua sudah Asri yang mengajak kami pergi sudah harus siap – siap senam jantung setiap kali kami pergi bersama. Hingga selesai Ulangan Tengah Semester kami akhirnya merencanakan perjalanan kami untuk pergi ke daerah yang belum pernah kami jumpai yaitu Bandung. Kami sudah menabung cukup lama untuk mempersiapkan diri kami semua pergi ke Bandung, tempat penginapan, wisata kota, wisata horror atas dasar usulan Asri, kuliner sudah kami persiapkan dari 2 minggu sebelum UTS akan berlangsung untuk tidak mengganggu jadwal belajar kami. Kami berangkat menggunakan kereta dan akan pulang menggunakan bus travel.
    Sehari sebelum keberangkatan, di malam hari setelah bersiap – siap untuk pergi tetiba saja aku merasa sangat berat dan mengantuk. Aku bermimpi di hutan yang sangat gelap dan cukup menyeramkan hanya saja di dekat hutan tersebut ada rumah tua dengan lampu seadanya. Aku melihat ada nenek yang sedang memanggilku dengan nada sangat tergesa untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga aku pun menoleh ke belakang dan aku melihat suatu sosok yang sangat besar datang dan memegang seperti sebilah pisau besar yang bersiap untuk menikamku. Sontak aku berlari sekuat tenaga dan masuk ke dalam rumah tersebut dan nenek pun langsung mengunci pintu rumah. Dia berbicara dengan nada yang lembut mengatakan “ Mereka akan siap disana untuk menghampiri dirimu, bersiaplah gadis jelita aku akan selalu bersama mu kemanapun kau akan pergi ”. Seketika aku bangun dari tidur dan melihat jam bahwa sudah waktunya kami pergi. Kami semua sampai dalam waktu yang tidak terpaut jauh dari jam yang telah kami tentukan untuk berkumpul di stasiun. Seperti biasa kami mengobrol dan bercanda hingga tidak terasa sudah sampai di Bandung. Dari stasiun Bandung, kami semua menuju ke tempat penginapan. Yang membuatku agak kecewa adalah penginapan yang tidak sesuai dengan gambar yang diberikan. Bukan karena tidak bagus hanya saja rumah tersebut cukup gelap dan yang benar saja aku melihat sekelibat seperti penampakan yang seharusnya dulu tidak bisa kulihat sama sekali. Dia berbentuk seperti kera besar dengan mata yang besar dan bewarna merah, aku hanya melihat selama 3 detik sehingga aku berpikir bahwa yang kulihat hanyalah akal – akal dari kepalaku saja yang sepertinya lelah dari perjalanan yang cukup panjang, apalagi aku melihatnya di siang hari tidak mungkin kata diriku. Setelahnya aku meminta untuk beristirahat sebentar sebelum kami pergi menuju kota. Asri melihat ku dengan tatapan yang sangat heran, dan bertanya apa yang terjadi. Aku hanya bisa tersenyum manis kebohongan untuk dia tidak khawatir terhadap diriku dan aku hanya mengatakan tidak apa – apa kepada dirinya. Kami pergi menuju ke kota untuk kuliner dan wisata sebelum mengunjungi tempat yang ingin Asri kunjungi. Kami di kota dari siang hingga menuju sore. Makan, duduk sambal merumpi, wisata museum dan sebagianya sudah kami lakukan di kota. Hingga sedikit malam tiba kami mendatangi tempat yang Asri ingin kunjungi. Yaitu Goa Jepang. Aku sebenarnya sangat tidak ingin pergi mengunjungi Goa Jepang tetapi demi teman baikku Asri ini aku rela untuk pergi karena aku berhutang budi padanya pada waktu kecil, aku tidak diperbolehkan untuk pergi dengan temanku dikarenakan letaknya sangat jauh dari rumah dan Asri lah yang membantuku untuk membujuk kedua orang tua ku hingga pada akhirnya aku diperbolehkan pergi. Jadi menurutku mengikuti keinginnya adalah jalan yang setimpal untuk menebus kebaikkannya di waktu kami berdua kecil. Pada saat di pintu depan aku sudah bisa merasakan bau yang tidak sedap, aura yang benar – benar sangat tidak mengenakan terlebih lagi aku melihat ada darah yang seharusnya tidak dapat dilihat orang biasa. Aku benar – benar lemah dan sangat takut sekali karena aku tidak menyangka bahwa aku bisa melihat dan merasakan seperti yang nenek di dalam mimpi katakan. Saat di dalam aku mendengar suara menjerit, penyiksaan dan melihat ada prajurit Jepang yang berjalan mengikuti. Jihan dan Karto berada di depan, Asri dan Dena ada di tengah sedangkan Alilah dan Aku ada di belakang. Aku melihat wajah Alilah yang ingin sekali keluar dari Goa Jepang, sedangkan mereka berempat sangat menikmati di dalam goa tersebut. Aku benar – benar menahan semuanya, beberapa prajurit yang terlihat melihatku dan aku pun berpura – pura seolah tidak melihat mereka, mereka bertanya bahwa apakah aku bisa melihat dan aku pun tetap membuang muka dan tidak ingin melihat hingga akhirnya kami pun keluar dari goa tersebut. Aku sangat lelah dan kaki ku seperti tidak kuat untuk berjalan. Aku merasakan sesuatu fenomena yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, aku bingung dan mulai merasakan kesal akan mimpi tersebut hingga pada akhirnya aku dapat berinteraksi dengan “mereka”. Terlebih di hari berikutnya yang benar – benar mengubah dunia yang kulihat sebelumnya menjadi sesuatu pandangan baru yang benar – benar membuatku harus menguatkan iman dan raga ku. Sesaat dari goa kami pun kembali ke penginapan dan aku tidak lagi melihat penampakan yang kulihat siang tadi, karena kelelahan akupun tertidur cukup pulas dan tidak bermimpi.
    Keesokan harinya aku dan Jihan mengunjungi kota berdua untuk membelikan teman – teman yang lain sarapan. Hal – hal yang tidak begitu terlihat, mulai saat ini sudah dapat terlihat dan tidak samar – samar dengan berbagai macam bentuk yang unik dan menyeramkan. Aku sudah mulai terlihat tidak kuat setiap saat harus melihat keadaan yang seharusnya tidak dapat kulihat, menjadi terlihat sangat jelas. Berbagai bentuk tak kasat mata yang memiliki rupa menyeramkan dan jika aku melihat mereka maka akan menatap kembali diriku. Setiap perjalanan aku tetap menutup mata sedikit – sedikit karena aku tidak kuat untuk melihat hal – hal berbau mistis tersebut dan aku tidak dapat mengontrol kemampuan ini dengan leluasa seperti yang kumau. Aku lalu meminta Jihan untuk lebih cepat membeli dan kembali ke penginapan. Setelah sarapan kami pun kembali melakukan perjalanan wisata di daerah Dago dan Lembang. Setiap aku menatap jalan Bandung yang sangat indah, aku tetap terlena dengan keadaan sekitar yang benar – benar merubah pandangan ku ini. Aku dapat melihat mereka ada di dalam kehidupan, dan Asri pun melihatku keringat dingin karena memang mereka menatap kembali kaca mobil yang membawa kami semua pergi. Mereka melihatku seakan – akan mereka mengetahui bahwa ada “manusia” yang dapat melihat mereka. Aku pun tidak melihat kaca sebelah dan hanya melihat arah di depan jalan. Asri melihatku khawatir bahwa aku sedang sakit dikarenakan muka yang ia lihat bahwa aku pucat. Akupun minum air dan akhirnya tertidur di mobil hingga ke tempat tujuan. 
    Setelah lelah dari perjalanan wisata mulai dari Dago hingga di Lembang, kami kembali ke penginapan di malam hari kira – kira jam 7 malam dan sopir yang telah kami sewa besok pagi akan kembali untuk menjemput kami dan mengantarkan kami kembali ke stasiun kereta. Setelah beristirahat sejenak kuingin mandi terlebih dahulu. Sesampainya aku di kamar mandi, aku sudah merasakan hal yang tidak menyenangkan. Dimana di dalam kamar mandi tersebut seperti ada seseorang yang mengintip di belakang ku menghadap ke shower. Aku sebenarnya sudah tidak tahan tetapi untuk tetap bisa fokus kuusahakan untuk selalu tidak memusatkan perhatian kepada “mereka” semua yang tak terlihat itu. Aku mandi dan orang itu tetap berada di belakang ku, kulihat ia seorang wanita yang sebenarnya memiliki paras yang cantik dan memakai baju berwarna putih dengan motif yang sangat anggun. Aku tidak berani menoleh lama, dan fokus untuk tetap mandi. Seketika itu, ia datang mendekat dan memperlihatkan wajahnya yang sangat menyeramkan dikarenakan wajah aslinya sudah rusak pada saat dirinya dizinah oleh oknum – oknum polisi yang tidak bertanggung jawab dan terjadi di waktu 10 tahun sebelumnya. Aku benar – benar takut dan tidak dapat bergerak sedikit pun. Ia berbisik bahwa beliau adalah nenek tua yang datang ke dalam mimpi ku sebelum berangkat. Serontak aku kaget dan masih tidak dapat menatap dirinya. Ia lalu berkata “aku tahu bahwa kau takut tetapi perkuatlah dirimu bahwa mereka akan siap untuk menghalagi dirimu kembali pulang”. Seketika itu ia menghilang dan aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dirinya bahwa aka nada yang ingin melukai ku. Selesai mandi waktunya teman – temanku yang bergantian untuk mandi hingga tersisa aku dan Asri. Asri menanyakan akua pa yang sebenarnya terjadi dan pada akhirnya aku menceritakan kepada Asri kejadian yang menimpa ku. Setelah Asri mendengar kejadian tersebut lalu ia memelukku dan berkata “kemampuanmu sudah terbuka, aku melihatnya”. Ternyata selama ini Asri juga dapat melihat sosok – sosok tersebut hanya dia tetap diam dan hingga aku menyadari bahwa aku bisa melihat hal – hal tersebut. Lalu Asri juga mengetahui mengenai obrolan ku dengan wanita yang ada di kamar mandi tadi. “beliau adalah penjagamu, ia akan kembali nanti malam untuk melindungi mu”. Asri hanya berkata seperti itu dan pergi mandi, hingga yang lain kembali dari selesai mandi. Asri memanggilku ke depan untuk berbincang dan menceritakan kenapa dia pada akhirnya menyukai hal – hal horror ini. Alasannya sangat mudah hanya karena dia menerima kemampuan yang dimiliki dan tidak terikat oleh ketakutan. Aku pun akhirnya mendengarkannya dan pada malam hari kami pun kembali masuk untuk tidur. Kira – kira jam 1 pagi benar apa yang telah dikatakan wanita itu mereka semua datang. Terlebih yang kulihat pada saat sampai ia menatapku dengan mata yang tajam, besar dengan badan berambut kasar lalu memiliki badan yang besar. Ternyata ialah yang selama ini mengincarku. Asri yang melihat pun mengucapkan doa untuk membuat mereka pergi dan tidak kembali. Mereka datang hingga puluhan yang merupakan pasukan si besar tersebut. Aku sangat takut dan tidak berani menatap mereka, lalu seketika itu aku menutupkan mata dan kembali di hutan dalam mimpiku hanya saja mereka membentuk lingkaran untuk menahan ku agar tidak dapat keluar. Aku melihat Asri yang berusaha untuk masuk lingkaran dan membawa ku pergi, Asri mengucapkan doa sedangkan aku juga ikut berdoa dalam ketakutan yang luar biasa. Seketika itu datanglah wanita yang ada di kamar mandi tersebut lalu berteriak kepada mereka bahwa ia adalah penjaga ku dan janganlah berbuat gaduh di dalam hutan beliau. Serontak para bawahan si besar tersebut menghilang dan menyisakan si besar dengan wanita itu. Wanita tersebut melihatku dan berkata “ Janganlah engkau takut, hadapilah dan tetap tegar “. Aku melihatnya pun seketika menangis dan menatap kembali si besar lalu kuucapkan doa. Seketika si besar berteriak kesakitan dan menghilang, aku yang kelelahan pada akhirnya pingsan di dalam mimpi tersebut. Setelah itu aku bangun dan melihat Asri dengan tatapan senyum bahwa ternyata aku bisa melawan dan berani untuk menghadapi. Asri mengatakan bahwa sampai kapan pun jikalau kita takut akan hal tersebut percayalah bahwa Tuhan akan selalu menyelamatkan pengikutnya yang tersesat. Aku pun mempercayai perkataan tersebut dan memegang teguh apa yang diucapkan oleh Asri. Seketika itu, aku dan teman – teman ku kembali pulang dengan selamat sampai di rumah.

    Ikuti tulisan menarik Indra Kurniawan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.