x

Iklan

HERMAN

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Jumat, 26 November 2021 08:35 WIB

Pandemi Covid-19 Bukan Hambatan Mendulang Prestasi, Iniliah Bukti Merdeka Belajar

Pandemi Covid - 19 memang menghendaki adanya pembatasan ruang gerak setiap orang agar pertumbuhan dan penyebaran virus ini dapat dikendalikan, namun tidak berarti bahwa dilarang untuk melahirkan prestasi. Intinya kegiatan pengembangan diri masih tetap berjalan namun dengan tata cara pelaksanaan yang berbeda, yaitu dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan guna menghentikan penyebaran virus covid - 19 ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Merdeka belajar merupakan salah satu gagasan dari Menteri Pendidikan  Nadiem Anwar Makarim, yang terdiri dari  empat pilar kebijakan utama, diantaranya adalah ujian sekolah berstandar nasional akan diserahkan kepada sekolah dan bukan merupakan penentu kelulusan siswa. Pada era ujian nasional masih dijadikan sebagai  penentu kelulusan siswa, kasus siswa yang melakukan tindakan irasional hingga bunuh diri setiap tahunnya semakin meningkat terutama pada saat menjelang pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer. Pada era  ini  tingkat depresi siswa semakin meningkat  karena mereka khawatir  potensi untuk tidak lulus ujian semakin besar  meskipun sudah melakukan persiapan dengan matang. Kekhawatiran mereka  ini bukan tanpa alasan, karena pada saat pelaksanaan ujian terutama ujian nasional berbasis komputer  banyak faktor yang turut  menjadi penyebab kegagalan siswa, yaitu kualitas jaringan, human error dalam menjalankan aplikasi dan lain-lain.

Permasalahan tersebut dapat diatasi  dengan adanya  kebijakan yang tidak lagi menjadikan nilai ujian  sebagai standar kelulusan, harapannya dengan kebijakan tersebut, beban psikologi tersebut akan semakin menurun, bahkan hilang dalam diri siswa-siswa Indonesia setiap tahunnya.  Namun disisi lain muncul banyak kritikan bahwa dengan ditiadakannya  ujian nasional sebagai standar kelulusan, kualitas pendidikan akan semakin menurun,  karena disinyalir siswa dan guru serta satuan pendidikan tidak lagi terpacu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, karena  sudah tidak ada lagi target yang harus usahakan. Namun perlu diingat bahwa pada masa silam, dengan adanya target tersebut banyak memunculkan kecurangan dimana-mana misalnya ada guru dan satuan pendidikan curang dengan membocorkan soal, selain itu banyak muncul tindakan-tindakan yang irasional dalam menghadapi ujian nasional, misalnya  ada  siswa pergi ke kuburan yang dianggap kramat untuk berdoa agar lulus ujian nasional  atau bahkan sampai ada yang bunuh diri karena tidak lulus ujian naional. Semua ini merupakan fakta yang sudah tersaji dihadapan kita, hal ini  jika dibiarkan terus berlangsung dikhawatirkan kasusnya akan semakin meningkat, bahkan akan semakin mengkhawatirkan. 

Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dimotori oleh Bapak Nadiem Makarim, menelorkan kebijakan merdeka belajar tersebut sebagai solusinya. Pada kebijakan merdeka belajar ini, selain menghilangkan ujian nasional sebagai penentu kelulusan, ada program lain yang tidak kalah populernya yaitu penyederhanaan administrasi pembelejaran yang harus disiapkan guru yaitu cukup satu lembar saja yang memuat inti dari perencanaan pembelajaran yang akan dilakukan dikelas. Tujuannya adalah untuk  menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, karena guru tidak lagi terlalu dibebani dengan tugas administrasi yang terlalu bertele-tele, karena RPP sudah disederhanakan namun tetap mengutamakan kualitas dalam rancangan model pembelajarannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Rancangan model pembelajaran pada era merdeka belajar ini hadir  dengan  memberikan kebebasan dan keleluasaan bagi guru dalam merencanakan, melaksanakan pembelajaran. Intinya  inovasi menjadi kata kunci dalam pembelajaran  yang dilakukan guru. Muaranya adalah guru dituntut untuk selalu mampu menghadirkan pembelajaran yang  menyenangkan serta  lebih menantang. Pada abad ini pembelajaran yang menantang, dengan  menghadirkan tagihan pembelajaran berpikir tingkat tinggi atau biasa dikenal dengan pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) sangat dibutuhkan.  Tujuannya adalah untuk  melatih berfikir tingkat tinggi dan mengembangkan kebiasaan mencipta (habit creation) dari siswa.  Diyakini jika kemampuan ini terus dilatihkan dalam pembelajaran,  maka peningkatan  kompetensi dan kemampuan daya saing siswa Indonesia akan semakin meningkat.  

Namun, di era pandemi Covid-19 ini, muncul tantangan baru bagi guru, karena pembelajaran menjadi tidak normal, karena adanya pembatasan sosial (social distance) yang ditetapkan oleh pemerintah. Kondisi ini merupakan tantangan baru bagi guru dalam melakukan pembelajaran. Salah satu pemecahan masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk mengakses dunia maya yang akan dijadikan media pembelajaran yang saat ini dikenal dengan pembelajaran dalam jaringan (daring). Pada pembelajaran daring ini dibutuhkan pengintegrasian teknologi kedalam  pelajaran yang dikenal dengan pendekatan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Implementasi pemdekatan TPACK ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan terbatasnya akses untuk bertemu secara tatap muka di ruang kelas, karena pada pendekatan ini, pemanfatan  teknologi lebih dominan didalamnya, sehingga sangat mendukung  PBM (Proses Belajar Mengajar) pada masa pandemi Covid-19.

Pada pembelajaran dimasa pandemi Covid-19,  banyak media yang dapat digunakan untuk mendukung pemanfaatan pendekatan TPACK ini dalam penerapannya, misalnya pemanfaatan WhatsApp  group untuk pemberian informasi pembelajaran, atau dapat menggunakan Google classroom,  aplikasi video converence seperti zoom, google meet dalam menjelaskan materi. Adapun moda yang dapat digunakan pada tahap  pemberian evaluasi dapat  menggunakan Platform Kuis Online Kahoot, Game Pembelajaran Online Educandy, Aplikasi Ujian Online Gratis Google Form, Aplikasi Soal Online Testmoz, Aplikasi Ujian Online dari Rumah Quizizz, Platform untuk Kuis Online Quizlet, Quiz Online ClassMarker. 

Penggunaan semua moda pembelajaran  daring tersebut bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada saat pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua aktivitas belajar harus dilakukan secara daring. Pada pembelajaran daring ini terdapat dua sisi yang berbeda, bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda, disatu sisi mengandung kekuatan disisi lain mengandung kelemahan yang harus diatasi oleh guru dalam pembelajaran yang ia lakukan.

Pada sisi kekuatan, pembelajaran daring ini, merupakan pembelajaran  dapat dilakukan kapanpun, dimanapun, hanya dengan bermodalkan jaringan internet saja pembelajaran sudah dapat dilakukan, namun disisi lain hadir pula  sejumlah kelemahan, seperti  keterbatasan kemampuan orang tua dalam menyediakan fasiklitas pendukung bagi anaknya untuk mengikuti  pembelajaran daring ini, misalnya ada siswa yang belum memiliki Hand Phone (HP) yang dapat dikoneksikan ke internet, hingga masalah biaya penyediaan paket data.

Kondisi ini terjadi karena pada saat penerapan pembelajaran daring ini hadir sebagai solusi pada saat terjadinya pandemi covid-19,  yang mengharuskan adanya pembatasan interaksi secara langsung. Hal ini  menyebabkan kelesuan ekonomi yang berdampak pada menurunnya kapasitas produksi sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja  yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak mampu lagi bertahan. Terjadinya PHK inilah yang mendorong munculnya masalah ketidak mampuan orang tua dalam menyediakan fasilitas pembelajaran  daring tersebut.

Pada permasalahan ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah  hadir memberikan solusi dengan  memberikan bantuan untuk meringankan beban masyarakat salah satunya adalah pemberian bantuan paket data, namun memang masih terbatas karena banyaknya dana talangan Covid-19 yang harus disediakan, bukannya hanya pada bidang pendidikan. Pembelajaran daring dengan segala keterbatasannya tersebut, tetap masih menjadi solusi terbaik saat pandemi Covid-19 dalam memberikan pembelajaran terhadap siswa-siswa generasi penerus bangsa.

Pada tahap inilah dibutuhkan kehadiran inovasi pembelajaran  yang harus dilakukan oleh guru, salah satunya dengan menghadirkan modul pembelajaran yang dikombinasikan dengan penggunaan video penjelasan materi sehingga siswa dapat menontonnya berulang-ulang dan dapat dilakukan kapan saja dan dimanapun pada saat sudah memiliki paket data. Pada pembelajaran juga harus dikombinasikan dengan moda daring yang lain untuk menyambungkan pesan dalam pembelajaran seperti penggunaan WhatsApp Group serta Google Classroom, sehingga pesan yang disampaikan termasuk penugasan dapat terkoordinir dengan baik. Kombinasi semua moda pembelajaran daring tersebut, sangat memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan belajar siswa secara tuntas.

Pembelajaran tuntas inilah yang menjadi tujuan  dari kurikulum pada setiap satuan pendidikan, yang merupakan hasil penjabaran dari kurikulum secara nasional. Namun jika keberhasilan siswa hanya dilihat dari sisi prestasi disekolah berdasarkan nilai-nilai yang diberikan oleh guru mata pelajaran, terkadang memunculkan keraguan dari pihak lain, karena  keberhasilan tersebut belum teruji. Salah satu indikator untuk menguji kualitas hasil pembelajaran yang dilakukan guru disekolah adalah dengan mengadu kemampuan pengetahun dan keterampilan, dengan mengikutsertakan siswa dalam ajang lomba. Keberhasilan siswa dalam meraih prestasi pada setiap lomba merupakan wujud dari prestasi siswa teruji dan handal, karena sudah ada pembanding  yaitu  sekolah lainnya.

Pada ajang lomba ini tentunya, memang tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran yang diadakan pada jam regular, namun dibutuhkan jam tambahan, namun perlu diingat bahwa fondasi utama harus dibangun  pada saat pembelajaran regular, sehingga pada pembinaan untuk kegiatan lomba-lomba hanya penguatan serta  pendalaman materi saja. Semua itu merupakan strategi untuk meningkatkan prestasi siswa pada setiap lomba yang akan diikuti oleh siswa.

Hal yang sama pada masa pandemi,  untuk   mendapatakan hasil lomba yang maksimal, maka diperlukan pula strategi pembinaan  yang jitu. Salah satunya adalah dengan menerapkan kombinasi penggunan moda pembelajaran daring dalam pembinaan siswa sebelum mengikuti lomba. Model pembinaan seperti

Pada model pembinaan moda daring ini,  meskipun bimbingan tidak tatap muka secara langsung, namun bimbingan   dapat dilakukan  secara daring, yang dapat dilakukan kapanpun,  dimanapun, dengan hanya memanfaatkan fasilitas internet. Model pembinaan seperti ini sangat memungkinkan  proses bimbingan dapat berlangsung, secara terus-menerus, tanpa dibatasi oleh waktu dan ruang.  Intensitas bimbingannya pun akan semakin meningkat sehingga peluang siswa untuk mendapat pengetahuan lebih mendalam sangat memungkinkan. Selain itu  siswa pun akan selalu mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah   dengan cepat dan tepat.Foto pada saat penyerahan hadiah ke pihak sekolah

Dengan demikian  akan mengantarkan siswa pada kemampuan bersaing yang tinggi dan mampu mendulang prestasi meskipun ada pandemic covid-19 melanda negeri ini. Hal ini terbukti pada siswa binaan saya, dengan penerapan model pembinaan yang mengkombinasikan beberapa moda pembelajaran daring, mereka mampu  menjuarai beberapa lomba dibidang ekonomi pada tahun 2021, di era new normal.   Intinya,  prestasi siswa dapat ditingkatkan pada berbagai kondisi dengan memanfaatkan media dan moda pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar kapan pun, dimana pun, tanpa adanya tekanan dan keterpaksaan dalam belajar, sebagai wujud dari  merdeka belajar yang sesungguhnya.

 

Ikuti tulisan menarik HERMAN lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu