Menjadi Guru Merdeka Belajar Idola Siswa

Jumat, 26 November 2021 21:32 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Merdeka belajar merupakan sebuah gagasan yang membebaskan para guru dan siswa dalam menentukan sistem pembelajaran. Tujuan dari merdeka belajar, yakni menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi siswa dan guru karena selama ini pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek pengetahuan daripada aspek keterampilan. Kebijakan Merdeka Belajar dilaksanakan untuk percepatan pencapaian tujuan nasional Pendidikan, yaitu meningkatnya kualitas sumber daya manusia Indonesia yang mempunyai keunggulan dan daya saing dibandingkan dengan negara-negara lainnya. ( Buku Merdeka Belajar, 9: 2020).

MENJADI GURU MERDEKA BELAJAR IDOLA SISWA

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi semua kita untuk memperolehnya secara adil, layak sudah menjadi cita-cita bangsa kita yang tertuang dalam UUD 1945 bahwa pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan juga bertujuan untuk memanusiakan manusia yang sering kita dengar tetapi tidak banyak yang tahu bagaimana implementasi memanusiakan manusia dalam kurikulum pendidikan dan kegiatan sehari-harinya di sekolah. Pendidikan memiliki tujuan untuk mencetak generasi yang cerdas dan memiliki karakter yang berbudi. Tidak hanya itu, pendidikan juga mendorong perubahan menuju hal yang lebih baik dari generasi ke generasi. Melalui pendidikan, diharapkan dapat melahirkan hal-hal yang inovatif, kreatif serta mencetak generasi yang mampu membawa perubahan. Sebagian kecil ini menjadi guru merdeka yang paham dan mampu mengimplementasikan konsep memanusiakan manusia lewat kegiatan di dalam kelas bersama anak didiknya

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset Dan Teknologi Nadiem Makariem meluncurkan gerakan Merdeka Belajar, yaitu kemerdekaan dalam berpikir. Tujuan merdeka belajar salah satunya adalah agar para guru, siswa dan orang tua dapat mendapatkan suasana yang menyenangkan. yang merupakan kebebasan berpikir dan kebebasan berinovasi. Esensi utama kemerdekaan berpikir, yaitu berada pada pendidik. Tanpa terjadi pada pendidik, maka tidak mungkin terjadi pada murid. Selama ini, murid belajar di dalam kelas, di tahun-tahun mendatang murid dapat belajar di luar kelas atau outing class sehingga murid dapat berdikusi dengan guru tidak hanya mendengarkan ceramah dari guru, namun mendorong siswa menjadi lebih berani tampil di depan umum, cerdik dalam bergaul, kreatif, dan inovatif. Merdeka belajar memfokuskan pada kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif

Guru juga diharapkan menjadi penggerak untuk mengambil tindakan yang muaranya memberikan hal yang terbaik untuk peserta didik, serta guru diharapkan mengutamakan murid di atas kepentingan karirnya Kepala sekolah, guru, orang tua dan pemerintah daerah dapat bergotongroyong untuk mencari dan menemukan solusi yang efektif , efisien dan cepat terhadap kondisi, tantangan dan permasalahan Pendidikan di masingmasing sekolah khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar siswa; Kepala sekolah, guru, orang tua dan pemerintah daerah merasa memiliki dan bertanggungjawab terhadap pengelolaan Pendidikan di sekolah pada daerah masing-masing

Miskonsepsi Belajar : Guru Merdeka vs Guru Terjajah?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Miskonsepsi adalah konsep yang yang sakah dan bertentangan dengan merdeka belajar. Hal ini yang menjadikan tantangan bagi guru untuk mewujudkan merdeka belajar.

Gambar 1. Miskonsepsi Belajar dalam Pendidikan. Sumber Gambar : Modul Bimtek Guru Belajar Kemdikbudristek

Penjelasan gambar di atas adalah sebagai berikut :

  • Belajar Hanya untuk Ujian

Bila tidak ada ujian, maka tidak belajar. Di sekolah dan kampus, ujian dibuat jadwal berkala yang mengukuhkan ujian sebagai ritual penting. Lahir kebiasaan SKS, sistem kebut semalam. Upaya habis-habisan menguasai pelajaran pada malam menjelang hari ujian. Ujian selesai, belajar pun usai. Pelajaran tak diingat lagi. Padahal dalam kehidupan, tidak ada jadwal ujian. Ujian kehidupan bisa datang sewaktu-waktu, tidak menunggu jadwal ujian tiba.

  • Kendali belajar berada pada guru

Karena kinerja pelaku dan manajemen pendidikan ditentukan oleh hasil ujian murid, maka proses belajar pun dikendalikan oleh guru. Guru yang mempunyai wewenang sepenuhnya dalam menentukan strategi, aktivitas dan asesmen belajarnya. Guru menjadi subyek, pelajar menjadi obyek. Belajar menjadi milik guru. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar. Ketika sasaran belajar tidak tercapai, seringkali guru yang lebih cemas dibandingkan pelajarnya. Padahal belajar harusnya milik pelajar, sehingga sudah sepatutnya guru melibatkan pelajar dalam mengatur proses belajar.

  •  Pelajar mempunyai kebutuhan dan minat belajar yang sama

Guru bukan mengajar murid, tapi mengajar materi pelajaran. Karena itu, guru tidak perlu mengenal apalagi memahami kebutuhan dan minat belajar pelajarnya. Guru menggunakan 1 resep untuk kelas mana pun, siapa pun pelajarnya. Resep yang disebut sebagai Pengajaran Langsung, proses belajar yang berpusat pada guru. Padahal kenyataannya, murid butuh mengalami diferensiasi pengalaman belajar sesuai minat, cara belajar dan ketersediaan sumber belajar di sekitarnya

  • Belajar itu menghafal dan menggunakan rumus

Orientasi belajar untuk ujian mendorong guru mengajar dengan cara yang memastikan pelajar bisa mengerjakan ujian dengan benar dan cepat. Cara belajar tersebut adalah menghafal dan menggunakan rumus. Selama lebih dari 12 tahun, pelajar belajar dengan cara tersebut. Tidak heran bila pelajar mempunyai keterampilan yang khas, terampil mengerjakan ujian. Padahal banyak tantangan kehidupan tidak seragam sebagaimana ujian standar. Pelajar butuh menalar sebelum memahami dan mengatasi tantangan kehidupan.

  • Penilaian Belajar Sepenuhnya Wewenang Guru

Karena tujuan dan cara belajar ditentukan oleh guru maka sewajarnya penilaian belajar ditentukan juga oleh guru. Guru yang tahu benar dan salah. Guru yang layak menentukan nilai dari jawaban murid. Seringkali kriteria dan cara penilaian hanya diketahui oleh guru. Pelajar diharapkan menerima begitu saja hasil penilaian, meski tidak paham maknanya. Pelajar tidak tahu perbedaan antara mendapat skor 8 dengan skor 9. Pelajar tidak mendapat informasi tentang apa konsep yang perlu diperkuat atau cara belajar yang harus diperbaiki. Padahal pelajar pun perlu belajar melakukan penilaian. Dalam kehidupan, pelajar dituntut bisa membedakan benar dan salah atau baik dan buruk.

 

Konsep Guru Merdeka Belajar yang Menjadi Idola Siswa

Dalam paparan yang sudah saya sampaikan di atas bahwa salah satu miskonsepsi belajar salah satunya adalah kendali belajar berada pada guru. Guru yang mempunyai wewenang sepenuhnya dalam menentukan strategi, aktivitas dan asesmen belajarnya. Guru menjadi subyek, pelajar menjadi obyek. Belajar menjadi milik guru. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar. Ketika sasaran belajar tidak tercapai, seringkali guru yang lebih cemas dibandingkan pelajarnya. Padahal belajar harusnya milik pelajar, sehingga sudah sepatutnya guru melibatkan pelajar dalam mengatur proses belajar

miskonsepsi belajar

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua