Dilema Moral Vaksinasi Covid-19 Terhadap Merdeka Belajar; Tinjauan Penalaran Moral Kohlberg - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Sebuah sekolah di Bekasi. Tempo/Hilman Fathurrahman

Hasan Aidi Anda

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Rabu, 1 Desember 2021 07:18 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Dilema Moral Vaksinasi Covid-19 Terhadap Merdeka Belajar; Tinjauan Penalaran Moral Kohlberg


    Dibaca : 82.121 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    DILEMA MORAL VAKSINASI COVID-19 TERHADAP MERDEKA BELAJAR

    (Suatu Tinjauan Penalaran Moral Kohlberg)

    Dilema moral sebuah ungkapan yang sudah familiar dan populer dimasyarakat yang setiap person kadang bahkan sering mengalaminya dalam kehidupan kesehariannya dalam ragam kegiatannya apakah dia sebagai siswa guru, tenaga pendidikan maupun profesi lainnya. Entah ditempat kerjanya maupun dalam interaksi soial dengan lingkungannya dimasa saja berada, misalnya seseorang melakukan perbuatan yang buruk/kurang menyenangkan demi memenuhi kebutuhannya yang penting. ­Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan bahwa  dilema adalah situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan; situasi yang sulit dan membingungkan. Disini siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengaliminya. Dalam psikologi pendidikan Tahap-tahap perkembangan Moral Peaget (dalam Slavin, 2011), terdiri atas dua yaitu,

    1. Moralitas heteronom (Anak kecil) dengan ciri (a) didasarkan pada hubungan paksaan, misalnya penerimaan utuh oleh anak terhadap ketentuan orang dewasa, (b) aturan dipandang sebagai ketentuan yang tidak fleksibel, tidak terbuka akan negosiasi, benar hanya berarti ketaatan terhadap orang dewasa dan aturan, (c) keadilan disamakan dengan keputusan orang dewasa, (c) hukuman yang semena-mena dan kejam dipandang adil,
    2. Moralitas otonom (anak dewasa) yang ditandai (a) sah melalui penerimaan pribadi, dan (b) benar bertindak sesuai dengan ketentuan kerjasama dan sikap saling menghormat.

    Kohlberg membagi Tahap-tahap penalaran Moral atas tiga yakni 1) tingkat prakonvensi (aturan dirumuskan orang lain), 2) tingkat konvensi (individu mengatur aturan dan kadang-kadang mengutamakan kebutuhan sendiri dibanding kebutuhan kelompok, 3) tingkat pasca-konvensi (orang mendefinisikan nilai-nilainya sendiri berdasar prinsip etika yang telah mereka pilih untuk diikuti (dalam Slavin, 2011), Kohlberg menceritakan seorang wanita di Eropa sakit mendekati ajal karena kanker. Suaminya yang bernama Heinz menemui Si alhi obat dan obat dijualnya dengan harga $2.000 pada tokonya, dan ia ingin membeli dengan harga yg lebih murah tetapi ahli obat menolak. Heinz (suami wanita yg sakit kanker) merasa putus asa dan merampok toko obat tersebut. Inilah satu kisah yang dialami oleh seorang wanita (istri Heinz) sakit mendekati ajal kanker dan ingin membeli obat untuk mengobati kankernya namun harganya tak terjangkau olehnya, sehingga secara terpaksa suaminya Heinz melakukan perbuatan amoral yang menurut Kohlberg menyebutnya sebagai dilema moral.

    Untuk vaksinasi covid-19,  1) bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai ASN mereka lebih mengikuti (a) aturan yang dipandang tidak fleksibel, (b) tidak terbuka ruang negosiasi, c) sah melalui penerimaan pribadi, d) benar bertindak sesuai dengan ketentuan kerjasama e) dan sikap saling menghormat keputusan diatasnya. Khusus penulis artikel ini (Hasan Aidi Anda), sudah jelang lima bulan menderita otot bisep dan trisep pada bagian lengan atas sebelah kiri diduga pengaruh vaksin covid-19 dan juga salah satu guru di Kota Bau Bau meninggal pengaruh vaksin covid-19,  2) Bagi masyarakat umum vaksinasi covid 19 mereka lebih memahaminya sebagai (a) keadilan disamakan dengan keputusan orang dewasa, (b) hukuman yang semena-mena, (c) dan kejam dipandang adil. 3) bagi siswa, mereka  melakukan vaksin covid-19 lebih dominan pengaruh faktor eksternal/paksaan ketimbang faktor internal yang lahir dalam dirinya secara murni, demi mengikuti ketentuan orang dewasa. Tindakan siswa tersebut sejalan dengan data keselamatan dan keberkesanan Malaysia yakni vaksin covid 19 untuk umur dibawah 18 tahun belum disarankan (https://mysejahtera.malaysia.gov.my/vaccine/sinovac.pdf).

    Dua persen dari total kasus Covid-19 yang menimpa anak-anak dilaporkan meninggal dunia, menurut Aman, ada 30 persen anak-anak remaja dengan rentang usia 10-18 tahun yang meninggal akibat Covid-19. (Kompas.com). Diduga hal ini bisa terjadi karena selain faktor jasmani yang tidak sepenuhnya menjamin kesehatannya untuk menerima vaksin covid-19, Tak kalah pentingannya sejalan dengan faktor kesiapan moral yang sebagaimana dikatakan oleh ke-dua pakar psikologi pendidikan tersebut yakni Peaget dan Kohlberg (Slavin,2011). Dari data tersebut seyogyanya tidak perlu terjadi karena dari awal sebelum pemberian vaksin covid 19 sudah terjadi pro dan kontar antara pihak pemerintah dengan masyarakat terutama dalam dunia pendidikan. Paling tidak dengan data tersebut pihak pemerintah yang memberi vaksin covid-19 bisa mengambil hikmah  dan pembelajaran agar kasus yang sama tidak terulang kembali kepada generasi emas umur SMP dan SMA sebagai masa depan umat, bangsa dan negara “maju bersama hebat semua, merdeka belajar”.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.