Ergonomi Kenyamanan Bekerja di Dapur - Urban - www.indonesiana.id
x

Yehezkiel Novaldi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Kamis, 2 Desember 2021 17:51 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Ergonomi Kenyamanan Bekerja di Dapur


    Dibaca : 486 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dapur merupakan salah satu dari beberapa ruangan yang harus ada di rumah tinggal. Fungsi dapur rumah dapat dioptimalkan, selain harus ergonomis, juga harus interaktif, sehingga memungkinkan orang yang sedang memasak dapat melihat dengan mudah anggota keluarga yang lain dan memungkinkan aktivitas makan bersama.

    Ergonomi memiliki hubungan terhadap kenyamanan aktivitas kegiatan di dalam dapur. Selain itu, efektivitas kerja yang baik di dapur memiliki standar ukuran yang benar, agar memberikan kenyamanan bagi pengguna karena pekerjaan di dapur termasuk pekerjaan setengah berat. 

    Dalam hal ergonomi ternyata masih banyak peralatan dapur dari tinggi meja kerja sampai peralatan dapur yang kurang memenuhi persyaratan ergonomi sehingga tidak nyaman saat dipakai dan cepat menimbulkan rasa lelah. Dengan memperbaiki cara kerja dan peralatan kerja yang sesuai kebutuhan pemakai, maka kenyamanan kerja dan kelelahan tidak cepat timbul berarti keluhan dapat berkurang dan produktivitas di dapur meningkat 

    Ada beberapa ukuran standar perabot dapur yang sering sekali diabaikan (Aini,2013)

    Tinggi area kerja

    Menurut Gilly Love (Aini,2013) tinggi area kerja idealnya sama dengan tinggi pinggang atau bisa jadi lebih rendah jika digunakan untuk pekerjaan seperti meracik bumbu. 

    Jangkauan

    Permukaan meja harus diperhatikan lebarnya. Daya jangkau tangan manusia, khususnya wanita, adalah 85 cm. sementara ke samping 42-62 cm. Ternyata daya jangkau bisa mempengaruhi efektivitas dalam bekerja lho.. selain itu bisa mempengaruhi ketahanan tubuh dalam bekerja. 

    Tinggi lemari

    Martin Edic dan Richard Edic (Aini, 2013) mengatakan bahwa tinggi lemari penyimpanan yang masih bisa dijangkau adalah 2meter. ukuran ideal adalah sekitar 65cm-180cm. ketinggian lemari yang melebihi akan mempersulit daya jangkau sehingga fungsi lemari kurang efektif

    Sirkulasi 

    Martin Edic dan Richard Edic (Aini, 2013) jarak optimal sebaiknya 94cm. hal tersebut dapat dilihat penerapannya pada bentuk layout dapur island. Perlu diperhatikan sirkulasi dapur agar aktivitas di dapur dapat berjalan dengan baik. 

    Tinggi bak cuci (Kitchen Sink)

    Ukuran tinggi bak cuci piring antara 70-80cm dari lantai. Sehingga pengguna tidak perlu membungkuk untuk menjangkau dasar bak.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.

    Oleh: Nadilla Madjid

    1 hari lalu

    6 Tanda Kamu Cocok Menjadi Teknososiopreneur ala Mahasiswa Universitas Trilogi

    Dibaca : 106 kali

    Hadirnya virus COVID-19 sampai saat ini merupakan suatu tantangan yang besar bagi seluruh masyarakat di penjuru dunia begitupun di Indonesia, kemunculan virus tersebut bahkan berhasil mengguncangkan perekonomian hingga jatuh merosot di beberapa negara. Dan nasib terburuknya adalah terkena PHK dikarenakan pendapatan perusahaan kian menurun drastis. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan yang dirilis 11 April, lebih dari 1,5 juta orang Indonesia telah kehilangan pekerjaan karena imbas pandemi COVID-19. Sebanyak 10,6 persen atau sekira 160 ribu orang kehilangan pekerjaan karena PHK, sedangkan 89,4 persen lainnya dirumahkan. Dengan adanya peristiwa tersebut mengakibatkan tulang punggung keluarga harus mengurangi jatah kebutuhan keluarganya. Dan berdampak pengurangan jatah uang saku atau kebutuhan anaknya yang menjadi mahasiswa. Lantas, apa solusi yang bias dipertimbangkan untuk mahasiswa tersebut? Alangkah baiknya apabila kita mampu melihat masalah ini semua dengan bijak, bisa menjawab tantangan, dan tangguh menghadapi semua persoalan. Salah satu cara yang dirasa cukup ampuh adalah menumbuhkan dan menguatkan jiwa wirausaha terutama dikalangan milenial. Banyak mahasiswa yang tidak memiliki penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, hanya mengandalkan uang saku dari orangtua saja. Hal tersebut menjadi beban tersendiri untuk mahasiswa tersebut. Karena kebutuhan terus bertambah sedangkan pendapatan hanya itu-itu saja. Penghasilan bisa dicari dari mana saja. Salah satunya menjadi seorang teknososiopreneur. Lalu, apa ajasihh tanda kalau mahasiswa tersebut cocok dan bisa menjadi teknososiopreneur. Disusun oleh : Kelas INOVASI ( Nadilla Madjid, Anik Kristiana, Winda Dwi Oktaviani, Wulandari Purnama Santi, Yasmin Fitria )