Merdeka Belajar dengan Flipped Learning di SD Negeri 39 Pangkalpinang

Sabtu, 4 Desember 2021 19:34 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Merdeka belajar dengan menerapkan flipped learning di SD Negeri 39 Pangkalpinang

Edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang terkait pemberlakuan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas tanggal 12 Juli 2021 memberikan angin segar bagi sekolah, khususnya SD Negeri 39 Pangkalpinang. Seperti yang kita ketahui, 2 tahun sudah sekolah tidak dapat berjalan normal karena dilanda pandemi covid-19. Anak dan guru terpaksa belajar secara jarak jauh untuk mengindari penyebaran virus ini.

Selanjutnya, berdasarkan edaran tersebut, sekolah bersama Pengawas langsung menindaklanjuti dengan merancang PTM terbatas. Berdasarkan kesepakatan di KKKS, maka model flipped learning dipilih untuk mengakomodasi siswa. Model flipped learning dianggap lebih dapat diterapkan untuk mengatasi learning loss dan fenomena burn out pada siswa sejak darurat covid-19.

Penerapan model ini memberikan ruang guru untuk berkolaborasi dan berkreasi. Penyusunan modul pembelajaran dan berdiskusi terkait permasalahan yang terjadi dilakukan baik di sekolah maupun di KKG. Guru dapat membuat bahan ajar sesuai kondisi riil sehingga muncullah kreativitas mereka.

Modul yang disusun untuk dipergunakan siswa di rumah, lalu dibahas di sekolah. Materi yang diberikan sesuai kompetensi dasar (KD) khusus, dibuat sesuai kebutuhan. Guru tidak menuntut ketuntasan kurikulum, mengingat siswa yang sudah lama belajar dari rumah (BDR), apalagi flipped learning yang diterapkan masih penyesuaian antara PTM terbatas dan BDR.

PTM terbatas yang dilaksanakan dengan jadwal kelas 1 & 6 pada hari Senin dan Selasa. Kelas 4 & 5 bersekolah pada hari Rabu & Kamis, dan Kelas 2 & 3 pada hari Jum’at dan Sabtu. Berdasarkan jadwal tersebut, maka seminggu 2 kali siswa setiap kelas belajar di sekolah, selebihnya BDR.

PTM terbatas ini lebih menekankan penanaman karakter siswa dan budaya positif di sekolah. Guru tidak memaksa siswa belajar sesuai keinginan guru, tapi disesuaikan dengan kebutuhan siswa di masa pandemi ini. Apalagi KD yang diajarkan kepada siswa sudah disederhanakan sesuai kurikulum khusus.

Seyogianya, merdeka belajar yang digagas Mendikbudristek Nadiem Makariem merupakan cara efektif sekolah merancang pembelajaran yang menuntun, bukan menuntut. Artinya, pembelajaran memberikan kebutuhan yang akan memfasilitasi siswa memiliki Profil Pelajar Pancasila dan berbudi pekerti luhur.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ria Anggreni

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler