x

Foto memperingati hari guru usai pandemi global

Iklan

Agus Oloan Naibaho

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Sabtu, 4 Desember 2021 20:51 WIB

Peran Guru Sukseskan Merdeka Belajar Hapus Dosa Pendidikan

Artikel ini bercerita tentang Peringatan Hari Guru Tahun 2021 setelah PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) diberlakukan. Artikel ini juga bercerita pandangan penulis tetang dosa sistem pendidikan dan bagaimana peran guru untuk menghilangkan atau memberangus dosa pendidikan tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ki Hajar Dewantara kita kenal sebagai Bapak Pioner Pendidikan Nasional. Dengan kokohnya beliau menancapkan dasar dan tujuan pendidikan nasional berlandaskan pada semboyan “Ing Ngarsa Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” di Taman Siswa, sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta sebagai tempat bermain plus belajar bersama bagi rakyat pribumi.

Bahkan, kalimat “Tut Wuri Handayani” sampai kini digunakan dalam logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan harapan seluruh rakyat Indonesia mampu meneladani dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupa bermasyarakat dan bernegara.

Konsep pendidikan di Taman Siswa, jelas menamamkan rasa nasionalisme, rasa kebangsaan, cinta tanah air, bahkan hak untuk mendapatkan kesetaraan pendidikan, tidak membeda-bedakan satu sama lain berdasarkan kedudukan, pangkat, atau garis keturunan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ki Hajar Dewantara tau betul bahwa karena pendidikan rendah makanya kita gampang dijajah dan gampang merekrut penghianat bangsa dengan mengadu domba.

Istilah pribumi dan bangsawan harus dihapuskan dari dunia pendidikan, untuk itu Ki Hajar Dewantara mengedepankan konsep kesetaraan dalam pendidikan. Sebisa mungkin menghapus perbedaan sosial.

Namun, seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan derasnya arus globalisasi membuat konsep dan output ataupun goal dari tujuan pendidikan nasional sudah sangat berubah dari eranya Ki Hajar Dewantara dengan eranya sebelum Mas Nadiem Makarim jadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek).

Harus diakui, makin tumbuhnya globalisasi dan munculnya Revolusi Industri 4.0, konsep dan tujuan pendidikan di sekolah sudah sangat beragam dan sangat makin kompleks. Jika dulu untuk mengentaskan buta huruf dan fokus pada kemampuan membaca dan menulis saja, maka sekarang kita lihat sekolah berlomba-lomba menjadi terbaik dengan segala fasilitasnya.

Dikotomi antara sekolah favorit dengan sekolah non favorit membuat sistem pendidikan kita seperti ‘ladang bisnis’ yang hanya menghasilkan sumber daya manusia kita kejar target dengan nilai tinggi dalam bidang akademisi dan non-akademik, dan abai akan pengembangan Soft Skill, Hard Skill, dan Life Skill dalam menghadapi era disrupsi teknologi atau era globalisasi, bahkan untuk hidup di era society 5.0.

Oklah, dikotomi favorit dan non favorit sudah bisa diatasi dengan perbelakuan sistem Zonasi saat PPDB alias Penerimaan Peserta Didik Baru dan juga pengejaran target nilai sudah dihapuskan seiring dengan digantinya UNBK alias Ujian Nasional Berbasis Komputer menjadi ANBK alias Asesmen Nasional Berbasis Komputer, dimana program ini lebih bermanfaat sebagai evaluasi yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan.

Namun, pelaksanaannya lagi-lagi tidak maksimal akibat hampir seluruh dunia tiba-tiba diserang pagebluk Covid-19 yang berkepanjangan dan merengut banyak korban jiwa, tak terkecuali di Indonesia.

Guru, Ujung Tombak Bergerak Dengan Hati, Pulihkan Pendidikan

Akibat pagebluk ini, dunia pendidikan seakan-akan dituntut untuk merenung, bermeditasi sambil berkaca diri, apa yang salah dan apa yang harus Guru lakukan untuk turut andil Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan di masa pandemi global Covid-19 ini?

Tak dapat dipungkiri Guru adalah ujung tombak pendidikan, tanpa guru maka kita tidak tau akan jadi apa negeri ini bukan?

Masih ingat apa yang dilakukan Kaisar Jepang usai Hirosima dan Nagasaki diluluhlantakkan bom atomnya Amerika dan Sekutunya bukan? Yap, tepat sekali. Kaisar Hirohito menumpukan harapan bangkitnya Jepang ditangan para guru yang tersisa dan tidak butuh waktu lama, hanya 20 tahun Jepang bangkit dan menjadi seperti sekarang ini.

Itulah pelajaran berharga bagaimana vitalnya peran Guru dalam membangun peradaban sebuah bangsa.

Di masa pandemi ini juga peran guru sangat vital. Pemanfaatan teknologi yang berkembang dengan pesatnya ternyata tidak dapat menggantikan Peran Guru.

Guru harus hadir walau pembelajaran jarak jauh dan dalam jaringan, kehadiran guru ternyata juga sangat ditunggu-tunggu untuk mencairkan suasana dan untuk memberikan penjelasan atas sebuah materi yang diajarkan.

Belajar di masa pandemi ini, nyatalah peran guru tetap laksana embun penyejut dalam kehausan.

Bagaimana tidak? Walau banyak media pembelajaran, walau teknologi sudah canggih, namun peran guru tak tergantikan oleh media apapun, secanggih apapun teknologi yang dipakai, tetap membutuhkan peran penting seorang guru, sehingga kehadiran guru walau di kelas maya tetap dibutuhkan, apalagi dalam tatap muka?

Maka tidak heran apabila sampai sekarang Guru sebagai Pelita dalam Kegelapan, Pemberi Terang bagi Peserta Didiknya.

Bagaimana tidak? Apalagi di abad 21 dimana pendidikan dasar dan menengah berorientasi pada pemgembangan 4C, Communication, Collaboration, Critikal Thinking, Problem Solving, dan Creativity and Innovation, sehingga memaksa peran guru semakin kompleks karena tidak hanya sekedar transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values dan transfer of skills.

Di masa pandemi ini, guru tidak hanya bergerak dengan hati pulihkan diri, keluarga dan peserta didik lewat pendidikan yang humanis, edukatif dan bersinergi dengan teknologi dengan memanfaatkan berbagai metode dan model pembelajaran, namun lebih dari itu.

Adalah tugas Guru untuk membantu menghapus dosa dalam sistem pendidikan nasional kita.

Dosa Pendidikan Perlu Diberangus

Mengutip dari nasional.tempo.co, Mas Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pernah berujar bahwa pihaknya akan membasmi tiga dosa dalam sistem pendidikan nasional kita sekarang ini.

Apa itu tiga dosa pendidikan nasional kita? Menurut Mas Menteri, ketiganya adalah intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual.

"Ini tiga dosa yang buat saya tidak bisa diterima sama sekali," kata Nadiem di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.

"Harus ada tindakan tegas yang bisa dilakukan di setiap jenjang terhadap tiga dosa ini," ujar Mas Menteri lebih lanjut.

Beliau berjanji langkah yang dilakukan bukan hanya penguatan karakter, imbauan, atau pelatihan, melainkan juga sanksi yang tegas.

Maka, adalah peran guru sebagai garda terdepan untuk menghapus dosa-dosa pendidikan yang disebutkan Mas Menteri, caranya bagaimana? Ya harus bisa berperan menjadi orang pertama sebagai aktor penghapus intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual yang terjadi di dunia pendidikan kita.

Caranya bagaimana? Benar-benar mempraktekkan filosofi Merdeka Belajar ala Mas Menteri yang menginginkan Guru sebagai ujung tombak pendidikan tidak lagi fokus menyelesaikan beban administrasi pendidikan, tapi benar-benar menjalankan pfofesinya yang mulia untuk melaksanakan tugas Guru sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Untuk menyikapi sikap intoleransi ini tentunya kita semua sebagai pendidik harus bisa mengembangkan sikap menerima seluruh perbedaan itu menjadi sesuatu hal mutlak yang memang harus ada di dunia ini.

Kita berbeda? Pasti, terutama dalam hal menerima perbedaan agama. Bibit-bibit intoleransi itu muncul dalam diri keluarga dan guru. Coba jika kita sejak dini mengajarkan menerima perbedaan agama, suku, golongan dan budaya, pastilah intoleransi itu akan bisa kita hapuskan bukan?

Perundungan dan kekerasan seksual? Ini terjadi kebanyakan dalam diri perempuan Indonesia, plus anak-anak yang dianggap lemah di sekolah.

Perundungan kerap terjadi ketika ada orang tertentu karena perbedaan ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, penampilan, hingga kondisi fisik seseorang (the other), kerap dilakukan oleh orang atau sekelompok orang yang merasa superior di lingkungannya.

Apa peran guru mengatasi bulying atau perundungan itu? Guru harus peka terhadap situasi dan kondisi siswa. Guru harus bisa melihat dan mengenali gejala siswa mengalami perundungan dan siswa juga harus bisa menceritakan kejadian yang dia alami kepada guru.

Sementara kekerasan seksual sering dialami oleh perempuan dan Kemendikbudristek baru-baru ini mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan 31 Agustus 2021.

Ya. Selain intoleransi, perundungan dan kekerasan seksual, kasus korupsi sepertinya adalah hal yang mustahil di hapuskan dari dunia pendidikan kita.

Maraknya pungli, adanya penggunaan dana BOS tak transparan hingga penggunaan dana komite abu-abu menjadi masalah serius yang harus dicari solusinya.

Lantas bagaimana menghapus korupsi dalam dunia pendidikan? Dalam sebuah webinar bersama Dr. Chatarina Muliana Girsang dengan tema “Internalisasi Pencegahan Korupsi di Lingkungan Kemendikbudristek”, saya terkejut ketika ibu Chatarina selaku Inspektur Jenderal dan Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi membeberkan Data Korupsi di Indonesia Berdasarkan Sektor.

Dimana Pendidikan menempati urutan pertama dengan jumlah 18 kasus dan nilai kerugian negara mencapai 38,3 miliar Rupiah.

Sungguh menyesakkan bukan? Siapakah penikmat korupsi dunia pendidikan?

Untuk mewujudkan program Merdeka Belajar, maka tidak salah jika guru-guru kembali menjadi sasaran dari pengharusutamakan Pendidikan Karakter. Pelatihan dan penanaman nilai-nilai Pancasila terhadap Guru merupakan sebuah langkah awal yang baik untuk menghapus dosa pendidikan bukan?

Sehingga Guru siap untuk mengajarkan Pendidikan Karakter di Era Super Smart Society (society 5.0) sebagai antisipasi dari gejolak disrupsi akibat Revolusi Industri 4.0. Selamat Hari Guru...

Ikuti tulisan menarik Agus Oloan Naibaho lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan