Hari Itu, Aku Tak Mau Ada Diskusi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Selasar Sekolah

Petra Gilang Ramadan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 09:48 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hari Itu, Aku Tak Mau Ada Diskusi

    Katanya pajak digunakan untuk meratakan pembangunan agar semua anak bangsa bisa menikmatinya untuk beraktivitas. Namun, kenyataan berkata lain. Terlalu banyak yang bermain dan menyebabkan penderitaan.

    Dibaca : 155 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari itu aku tak lama di kebun. Cuma dari pukul 16.00 sampai 18.00 WIT hanya sekedar memetik sayur kangkung dan terong pesanan tetanggaku sambil sedikit mencabuti rumput yang tumbuh dekat tanaman terong. Memang rumput bisa menjadi hama bagi tumbuhan sayuran. Kalau rumput sudah terlalu banyak, hancur sudah tanaman kami yang menjadi usaha penghidupan kami. Makanya membersihkan dari hama parasit seperti rumput adalah kegiatan rutinitasku selain mengajar di SD Inpres Kafana.

    Aku sudah lebih dari 20 tahun mengurusi ke kebun. Sejak masih kecil ayah rutin mengajakku ke kebun namun sejak kecil itu pula aku pergi ke kebun hanya untuk bermain tidak untuk membantu ayah. Baru sejak sekitar SMP aku benar-benar serius membantu ayah dalam mengurusi kebun.

    Sore itu aku pulang bersama Tete Aci, tete Aci adalah seorang guru mengaji di kampung usianya 74 Tahun. Berdasarkan ceritanya Ia adalah perantau dari Tenggara yang sudah 60 Tahun hidup di Negeri Rempah ini. Anaknya 3, dua anak merantau satu di Ambon dan satu lagi di Halmahera. Sedangkan yang terakhir tinggal bersama Tete Aci dan Isterinya.

    Rumah Tete Aci tepat ada di depan rumahku. Sambil berjalan bersama ia memulai percakapan “bingung nanti setelah habis jagung mau tanam apa. Pak Guru mau tanam apa?” ia mengeluh sambil bertanya padaku. Lalu aku menjawab “Belum ada rencana Tete, abis selesai panen jagung ini mau fokus persiapan ujian anak sekolah dulu. Nampaknya tidak buka kebun dulu. Tete Aci bagaimana? Mau tanam apa?”.

    “Belum tau juga ini, pak Guru. Bingung juga lusa sudah mau panen tapi harga di pasar jagung turun terus 2 minggu ini. Kalau dengan harga segini untuk biaya urus kebun juga tidak cukup lalu bagaimana mau tanam ulang lagi. Uang pasti habis kepakai untuk kebutuhan hidup dulu” Tete Aci mengeluh sekaligus khawatir dengan kondisi pasar yang mengancam kehidupan keluarganya. Apalagi anaknya yang terakhir baru saja baru saja melahirkan anak keduanya.

    Lalu, aku menyarankan Tete Aci untuk bertemu dengan kepala desa semoga saja masih ada program subsidi bibit untuk petani desa. Hal seperti itu sebenarnya sudah pernah dilakukan Tete Aci namun hasilnya nihil. Tapi ia berencana melakukannya lagi karena sudah ada pergantian kepala desa. Barangkali kepala desa yang ini bisa diandalkan kalau kata Tete Aci.

    Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan melakukan ibadah sembahyang Maghrib. Setelah maghrib rumah tete Aci langsung dikerumuni oleh anak-anak kecil yang akan belajar mengaji. Rumah yang bertembokkan bata dengan alas terbuat dari semen yang dibalut oleh tikar dan beratapkan seng menjadi tempat anak-anak mengaji. Mereka masih bisa lancar membaca meski penerangan di rumah tete Aci tidak begitu bersinar.

    Dari semua generasi dari SD, SMP, dan SMA semuanya mengaji di Tete Aci. Anak-anak hanya mengaji Iqra’ sedangkan anak yang agak besar mulai membaca Al-Quran dan yang sudah lancar membaca Al-Quran fokus pada program hafalan. Sekitar pukul 21.00 anak-anak mulai pulang, mengaji selesai. Biasanya anak-anak SD pulang terlebih dahulu setelah selesai membaca Iqra’. Yang terakhir pulang adalah anak-anak SMA yang setor hafalan kepada Tete Aci.

    Pagi akhirnya tiba, hari selasa saatnya aku mengajar pelajaran bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Pelajaran Seni. Sulit sekali mengajar bahasa Indonesia disini karena dalam kehidupan sehari-hari anak-anak hanya menggunakan bahasa daerah. Hanya pada saat menonton TV saja mereka berbahasa Indonesia. Hal yang menyulitkan lagi adalah sedikit sekali buku yang tersedia untuk dibaca anak-anak di sekolah. Itulah makanya kenapa bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang cukup sulit untuk dipelajari dan diterapkan. Kasihan mereka sulit memahami “bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Mau tidak mau anak-anak harus bergiiran untuk mendapat jatah membaca buku karena satu buku harus bisa melayani tiga siswa.

    Selesai sekolah Aku tak langsung pulang. Melainkan menyicil pembuatan soal ujian sekolah terlebih dahulu. Aku ditemani Papa Alan dan tiga pekerja lainnya yang sedang merehabilitasi ruang kelas. Sebenarnya aku hanya ditemani suara hantaman palu pada paku tidak ngobrol sama sekali dengan mereka karena ruang kelas yang sedang direhabilitas tersebut berada tepat di sebrang ruang guru yang berjarak sekitar 5 meter. Aku hanya membuat soal sampai jam 13.00, ketika pulang aku juga ditemani oleh papa alan yang rumahnya searah denganku. Ia juga akan pulang sejenak untuk makan siang.

    Papa Alan adalah orang yang pendiam jika dibandingkan dengan bapa-bapa kampung. Tapi kali ini ia mau memulai percakapan duluan. “Pak guru apa sudah ada rencana untuk bikin rumah?” begitu tanya Papa Alan. Aku kebingungan sebenarnya dengan pertanyaan ini karena masih belum cukup modal untuk membangun rumah dan gaji honorer juga belum mencukupi. “Rencana ada, tapi belum tau kapan terlaksana” begtu jawabku pada Papa Alan.

    Papa Alan melanjutkan “Nanti kalau sudah bangun rumah sisa papan latah untuk cor kasihkan ke saya apa boleh, pak Guru?”. Aku menjawab sambil bingung “Wahh boleh saja, tapi saya tak tahu kapan bikin rumah hehe. Papa Alan sudah mau bikin rumah?” Begitu aku tanya balik. “Iya rencananya begitu sudah tidak enak tinggal terus di rumah mertua. Tapi masih belum ada modal untuk bangun rumah. Mau tak mau cari kayu sendiri”.

    “Kalau begitu kenapa tak pakai kayu latah bekas sekolah nanti?” begitu tanyaku sekaligus menawarkan. “Aduhh malu hati mau bicara dengan kepala sekolah. Biar nanti lihat di akhir saja akan diapakan itu bekas kayu latah oleh kepala sekolah” jawan Papa Alan. “Kalau begitu biar nanti Aku yang bicarakan dengan kepala sekolah tentang urusan kayu latah itu. Supaya jelas dan bisa dimanfaatkan lagi”. Mendengar jawabanku itu papa Alan terlihat nampak antusias.

    Aku sudah sampai di rumah sedangkan papa Alan masih harus berjalan lagi beberapa meter dari rumahku. Setelah makan siang nanti aku harus mengantar Ibuku yang akan menengok tetangga Kami yang dirawat di puskesmas. Aku sangat tak suka perjalanan keluar desa. Jalanan aspal batu yang sudah terkelupas membuat perjalanan menjadi sangat terjal dan terasa melelahkan. Aku makan sedikit saja, makan terlalu banyak hanya akan membuat mual ketika nanti dikocok selama perjalanan karena kondisi jalan yang hancur berbatu.

    Perjalanan menuju Puskesmas Falabisahaya membutuhkan waktu 45 menit. Sebenarnya Puskesmas Krancar bukanlah puskesmas kecamatan tempat desaku berada tapi hanya di Puskesmas inilah fasilitas perawatan lebih lengkap jika dibandingkan dengan Puskesmas Kecamatan Wafa. Lagipula jarak antara desa ke Dofa dan desa ke Falabisahaya sama saja.

    Sesampainya di Puskesmas ternyata sudah ada beberapa orang desa yang datang untuk menjenguk Tua Judi. Faktor usia yang menyebabkan tua judi bisa begini. Dulu ia adalah seorang pria yang rajin pergi melaut untuk mencari ikan, bekerja membangun rumah warga, tak lupa juga mengurusi kebun. Kini usia sudah menggerogoti kekuatan fisiknya.

    Tidak lama kami di Puskesmas, sekitar 1 jam saja. Aku dan Ibuku langsung pulang ke rumah. Sore hari aku bergegas ke kebun untuk membersihkan kebun sambil memeriksa tanaman cabai yang sudah aku tanam. Sore itu aku tidak sendirian berjalan ke kebun karena ditemani Tete Aci yang juga akan pergi ke kebunnya untuk memeriksa Jagungnya yang sudah siap panen.

    “Bagaimana harga jagung di pasar hari ini” tanyaku pada Tete Aci. “Masih sama seperti kemarin, pak guru” Tete Aci menjawab. Harga jagung pada saat itu hanya Rp. 4.300/kg. harga pasar memang tidak menentu dan terkadang tidak berpihak pada petani. Setiap petani pasti menyimpan kekhawatiran terhadap harga. Setelah berbulan-bulan lelah mengurus tanaman dan berhutang untuk mengurusi tanaman tapi setelah panen hanya disambut dengan harga yang murah.

    “Kemarin juga sudah ketemu kepala desa, tahun ini sudah tidak ada lagi program subsidi bibit”. Tete Aci menj]lanjutkan “Pak Guru tau siapa yang boleh terima bantuan pembangunan rumah?” Tete Aci memberiku pertanyaan. Aku kaget dengan pertanyaan seperti itu mengapa tiba-tiba ia memberiku pertanyaan tentang membangun rumah. “Saya tidak tahu Tete Aci. Kenapa memangnya?

    “Saya heran, kenapa mama ebi yang sudah punya rumah bisa dapat bantuan rumah lagi. Kalau info dari kepala BPD ia dapat bantuan rumah karena ia terlalu banyak kritik kepala desa, jadi kepala desa kasih dia bantuan program rumah supaya dia tidak kritik kepala desa yang baru lagi” Tete Aci menjelaskan. “Benarkah begitu? Saya tidak tahu apa-apa prihal itu” Tanyaku pada Tete Aci.

    “Kasihan Mance, sudah setahun lebih fondasi rumahnya dibuat tapi bangunan belum lagi berdiri karena masih belum terkumpul bahan. Kini ia dan isterinya hanya bisa tinggal di gubuk papan” Tete Aci menceritakan rekannya bernama Mance yang sudah setahun lebih berusaha membangun rumah.

    Aku dan Tete Aci berpisah karena kau sudah sampai di kebun. Aku hanya memeriksa tanaman dan mencabut rumput yang ada di dekat tanaman. Seperti biasa menjelang maghrib saat matahari sudah mau tenggelam aku langsung meninggalkan kebun dan bergegas ke rumah untuk mandi dan istirahat.

    Esok harinya aku kembali mengajar. Hari itu aku datang agak hampir jam 7 karena bukan jadwal piketku. Di kelas aku harus mengajar Pendidikan Kewarganegaraan materi hari ini tentang Hak dan Kewajiban seorang warga negara. Materi yang bagiku mudah saja untuk disampaikan. Dalam sebuah pembahasan disebutkan salah satu kewajiban warga negara adalah membayar pajak.

    Mudah saja bagiku untuk menjelaskan apa itu pajak, kenapa kita harus membayar pajak, apa manfaat kita membayar pajak. Tapi entah mengapa hari itu aku tak mau ada diskusi dengan anak-anak sekolah. Aku takut mereka bertanya “Pak Guru, untuk apa kita membayar pajak?”. Sebenarnya kalaupun mereka bertanya seperti itu jawabannya sangatlah mudah karena jawabannya bahkan sudah ada di dalam buku itu sendiri. Tapi kalau aku jelaskan jawabannya apakah mereka tidak akan berpikir bahwa negara adalah Pembohong?

    Katanya berdasarkan penjelasan dalam buku pelajaran pajak digunakan untuk membangun jalan tapi kenapa jalan disini masih berbatu dan tidak semua desa terhubung dengan jalan. Katanya Pajak digunakan untuk membangun fasilitas kesehatan tapi kenapa Puskesmas Kecamatan kami tidak bisa untuk merawat pasien. Katanya Pajak digunakan untuk mensejahterakan petani tapi kenapa petani desa kami harus kesulitan membiayai kebunnya. Katanya Pajak digunakan untuk dana pendidikan tapi kenapa satu buku di sekolah kami harus digunakan oleh tiga siswa. Katanya pajak digunakan untuk mensejahterakan masyarakat tapi kenapa masih ada orang yang kesulitan membangun rumah dan kelaparan.

    Hari itu aku tak mau berdiskusi. Setelah ku sampaikan materi aku langsung beralih ke materi lain. Aku tak mau dicap sebagai pembohong karena materi tentang kewajiban membayar pajak.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.