x

ilustr: The Statesman

Iklan

Muhammad Akhyar Rifai

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Desember 2021

Sabtu, 18 Desember 2021 05:53 WIB

Moderasi Beragama dalam Circle Pertemanan

Moderasi beragama acap kali menjadi berita hangat yang diperbincangkan masyarakat. Di berbagai kehidupan, kita akan bertemu dengan permasalahan moderasi beragama. Pun pertemanan yang memiliki latar belakang yang berbeda akan menimbulkan moderasi beragama dari perspektifnya. Lalu, bagaimana moderasi beragama dalam circle pertemanan?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa hidup sendirian. Karena manusia pada dasarnya dari sejak lahir sampai masuk liang kubur selalu membutuhkan kehadiran orang lain selain dirinya. Olehkarena itu kita sebagai manusia harus bersosialisasi dengan orang lain, seperti menjadikannya sebagai teman, sahabat, saudara, bahkan seperti keluarga.

Dalam suatu pertemanan tentu kita mempunyai pendapat dan pemikiran yang terkadang sama dan terkadang berbeda. Karena dari masing-masing orang yang mempunyai pemahaman dan sudut pandang yang berbeda. Pemikiran yang berbeda itu meliputi masalah ideologi, politik, dan agama.

Ketika kita berkumpul dengan tujuan selain bersilaturahmi, tentu kita bercerita atau curhat dengan teman-teman kita mengenai masalah hidup dan lain lain. Terkadang ketika kita sedang bercerita mengenai masalah-masalah, mereka membantu kita menyelesaikan masalah dengan beberapa saran yang berbeda dengan pendapat masing–masing.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apabila masalah tersebut menyangkut hal yang berbau agama, mereka juga saling mengerluarkan pendapat dan pemahaman mereka. Contohnya mengenai hukum halal dan haram suatu masalah dan lain lain. Terkadang mengenai hal tersebut dapat memecahkan pertemanan yang berimbas pada permusuhan. Pendapat yang satu mengatakan ini lalu pendapat yang lain  mengatakan itu. Dan merekapun tetap berpegang teguh dengan pendapat mereka.

Mereka yang tetap berpegangan pada pendapatnya, karena mereka mempunyai landasan yang kuat dan jelas. Mereka menafsirkan al-Qur’an dengan pemahaman mereka dari sudut pandang yang berbeda. Al Qur’an ialah multitafsir karena kata yang ada di dalam alqur’an bisa mengandung beberapa makna. Bahkan Quraish Sihab mengatkan bahwa “ Ada satu kata dalam Al Qur’an yang mengandung makna yang bertolak belakang , sehingga lahir ada perbedaan dalam ketetapan hukum “.

Oleh karena itu, kita harus menjadi penengah di antara teman–teman kita yang saling berbeda mengenai pendapat mereka. Apabila teman kita berpendapat dan berbeda dengan yang lain, maka kita harus bersikap Wasathiyah ( tengah–tengah ) atau moderation ( tidak berpihak ). Jadi cara pandang, sikap, dan perilaku kita di posisi tengah–tengah, yaitu selalu bertindak adil dan tidak ekstrem dalam beragama.

Kita juga berusaha untuk memberikan pemahaman dan mengajak mengenai moderasi beragama kepada teman kita. Jadi tidak terlalu berpaham kanan dan berpaham kiri. Walaupun banyak orang yang beranggapan bahwa bersikap moderat dalam beragama berarti tidak teguh pendirian, tidak serius, dan orang yang bersikap seperti itu tidak sungguh–sungguh dalam mengamalkan ajaran agama.

Padahal moderat dalam beragama ialah percaya diri dengan ajaran agama yang dipeluknya. Karena prinsip moderat dalam beragam ialah adil dan berimbang. Hal yang menojol dari moderasi beragama ialah adanya keterbukaan, penerimaan, kerjasama dari masing – masing pendapat yang berbeda. Mereka harus mau saling mendengarkan satu sama lain dan mampu mengatasi perbedaan pemahaman keagamaan diantara mereka.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk moderat dalam beragama karena untuk mencari persamaan dan bukan pertajam perbedaan. Karena ketika kita sudah bisa menghargai pendapat orang lain dan bisa berdamai. Maka kita bisa mempererat tali persaudaraan sehingga tidak ada lagi paham kanan dan paham kiri yang dapat memacah belah pertemanan. Dan kita juga tidak boleh mudah terprovokasi oleh orang–orang yang ingin menghancurkan ukhuwah kita. Karena dalam moderasi beragama kita harus berilmu, berbudi, dan berhati-hati.

Pembahasan kita mengenai moderasi beragama tentu kita harus tau lebih dalam mengenai apa itu moderasi. Sebagaimana pendapat dalam buku Moderasi Beragama (Luqman Hakim Saifuddin, 2019)

“Moderasi sering dijabarkkan melalui tiga pilar, yakni: moderasi pemikiran, moderasi gerakan, dan moderasi perbuatan. Terkait pilar yang pertama, pemikiran keagamaan yang moderat, antara lain, ditandai dengan kemampuan untuk memadukan antara teks dan konteks, yaitu pemikiran keagamaan yang tidak semata-mata bertumpu pada teks- teks keagamaan dan memaksakan penundukan realitas dan konteks baru pada teks, tetapi mampu mendialogkan keduanya secara dinamis, sehingga pemikiran keagamaan seorang yang moderat tidak semata tekstual, akan tetapi pada saat yang sama juga tidak akan terlalu bebas dan mengabaikan teks, Pilar kedua adalah moderasi dalam bentuk gerakan. Dalam hal ini, gerakan penyebaran agama, yang bertujuan untuk mengajak pada kebaikan dan menjauhkan diri dari kemunkaran, harus didasarkan pada ajakan yang dilandasi dengan prinsip melakukan perbaikan, dan dengan cara yang baik pula, bukan sebaliknya, mencegah kemunkaran dengan cara melakukan kemunkaran baru berupa keke- rasan. Pilar ketiga adalah moderasi dalam tradisi dan praktik keagamaan, yakni penguatan relasi antara agama dengan tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat. Kehadiran agama tidak dihadapkan secara diametral dengan budaya, keduanya saling terbuka membangun dialog menghasilkan kebudayaan baru.”

Dengan demikian ketika kita sedang berkumpul dengan teman kita lalu membicarakan persoalan agama. Ada baiknya kita bersikap moderat. Dan kita harus bisa menghargai pendapat orang lain agar kita bisa menjaga ukhuwah kita. Dan apabila terjadi perdebatan kita harus menjadi penengah diantara teman kita. Dan selain itu kita juga harus meminimalisir fanatisme terhadap golongan serta memahami firman Allah swt. pada surah Al-Baqarah: 143 tentang umat yang moderat dan adil.

Daftar pustaka

Saifuddin, Luqman Hakim.2019. Moderasi Beragama. Jakarta: Kementerian Agama RI

Ikuti tulisan menarik Muhammad Akhyar Rifai lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu