Bersahabat dengan Masalah; Haruskah?

Senin, 20 Desember 2021 12:56 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setiap kita hampir dipastikan akan berupaya agar tidak bertemu masalah dalam perjalanan hidupnya, walaupun hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil, karena selama manusia hidup maka selama itu pula permasalahan akan terus menghampirinya. sikap kita terhadap masalah yang muncul inilah yang kemudian menjadi penentu apakah masalah tersebut menjadikan kita semakin dewasa atau sebaliknya justru menjadikan kita semakin terpuruk...

Masalah adalah Sahabat Terbaik

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (qs. Al-Insyirah :5-6)

 

Masalah, kata yang mengindikasikan hal yang menakutkan bahkan dapat dipastikan tidak satu manusiapun yang menginginkan kedatangan tamu masalah ini. Tapi benarkan masalah sebagai momok yang harus ditakuti?

Manusia dengan berbagai tingkatannya, mulai dari suku bangsa dan bahasa yang berbeda, tingkat keilmuan, strata sosial dan perbedaan-perbedaan lainnya pasti akan selalu berhadapan dengan masalah, baik masalah dalam lingkup kecil maupun lingkup yang besar. Dan setiap permasalahanpun akan disikapi dengan cara yang berbeda pula. Ada yang menganggap masalah itu adalah sesuatu yang sangat menyebalkan, merisaukan, tidak mengasyikkan, dan sangat membuat  kehidupanya tidak berguna. namun di sisi lain beberapa orang juga menganggap masalah adalah jalan yang sangat tepat untuk mengajarkan dan menuntun kita untuk lebih dewasa. Oleh karena itu, tulisan kali ini mencoba melihat permasalahan itu dari berbagai sudut yang jarang banyak dipahami oleh kita. Beberapa hal di bawah semoga membuka cakrawala pengetahuan kita tentang “Masalah”.

  1. Yang terjadi adalah yang terbaik

Prof. Dr. H. Thobrani, M.Si salah satu dosen di universitas Muhamamdiyah Malang di tengah-tengah memberikan komentar terhadap persentasi yang baru saja dipersentasikan oleh salah satu mahasiswa dalam kelas, mengatakan “yang terjadi adalah yang terbaik” kata yang sangat melekat dalam ingatan saya, dan terus membuat saya berusaha memahami maksud kalimat tersebut. Butuh waktu lama dan pengalaman-pengalaman yang cukup untuk mengantarkan saya pada pemahaman akan makna kalimat tersebut.

“yang terjadi adalah yang terbaik” Mungkin tidak semua orang akan sepakat dengan kalimat tersebut, jujur pada awalnya pun saya kurang sepakat dengan kalimat tersebut. Bagaimana mungkin dengan mudahnya kita mengatakan segala yang terjadi adalah yang terbaik, padahal kita melihat realita di sekitar kita betapa banyak kejadian yang justru meninggalkan luka trauma pada orang yang mengalaminya, betapa banyak kejadian yang justru mengantarkan seseorang pada kondisi yang sangat memprihatinkan, dan berbagai hal lainya, yang jika dilihat sekilas akan sangat bertentangan dengan statemen di atas. Namun, setelah berusaha menelaah dan memahami pesan dalam ucapan beliau tersebut sedikit demi sedikit saya pun menyukai kalimat tersebut.

Apakah anda suka dengan masalah? Jawaban pertanyaan ini hampir dipastikan akan sama pada siapapun yang diberikan pertanyaan serupa. Saya tidak suka dengan masalah. Yup memang benar tidak satupun manusia yang suka dengan masalah, apalagi jika masalah tersebut membuatnya rugi, bahkan down. Tapi ternyata tanpa kita sadari banyak manusia di sekitar kita yang justru memiliki kesenangan memunculkan masalah dan bahkan menantang masalah untuk menghampirinya.

Mengapa di saat sebagian besar kita takut akan masalah, justru di sekitar kita pula bermunculan orang-orang yang suka menghadirkan masalah. Di sinilah letak perbedaannya, setiap pribadi memiliki cara melihat permasalahan yang menghinggapinya. Orang-orang yang takut dengan masalah adalah mereka yang hanya akan terpenjara dengan ketidaksuksesan hidupnya, dia hanya akan sibuk mencari-cari penyelesaian yang terkadang justru mendatangkan masalah baru. Why? Karena penyelesaian yang dilakukan tidak dilandasi dengan ilmu dan kesabaran serta pemahaman akan masalah itu sendiri.

Berbeda dengan orang yang memiliki pengetahuan, kesabaran serta memiliki usaha memahami masalah yang menghinggapinya sebelum mencari solusinya. Orang seperti inilah yang akan menganggap kejadian-kejadian yang dihadapinya adalah yang terbaik, karena mereka memahami bahwa kejadian-kejadian tersebut adalah peristiwa yang sengaja diberikan untuk mendewasakannya dalam menyikapi berbagai permasalahan hidup.

So.... “YANG TERJADI ADALAH YANG TERBAIK”

  1. Masalah adalah ujian kenaikan strata keimanan kita

Perbedaan dalam menyikapi permasalahan yang terjadi kecil besarnya sangat dipengaruhi tingkat keimanan seseorang. Orang yang tingkat keimanannya rendah akan menghadapi segala permasalahan hidup dengan sikap yang dipenuhi berbagai perasaan tidak senang, stress, bahkan mampu bertindak lebih jauh dari itu “bunuh diri” kita berlindung dari perangai seperti ini. Sebaliknya orang yang beriman akan menyikapi segala permasalahan yang menghinggapinya sebagai pelajaran dari sang pencipta Allah SWT untuk menuntunya semakin dekat denganNya. Orang beriman memahami setiap masalah memberikan banyak pelajaran kehidupan berupa kesabaran, kesyukuran, pengetahuan bahwa semua miliki Allah dan akan kembali jika diminta, ketabahan, dan berbagai pelajaran berharga lainnya.

Dengan konsep inilah orang-orang beriman menyadari bahwa setiap masalah yang datang pada dasarnya adalah untuk menguji agar keimanan kita semakin meningkat...

  1. Masalah adalah teman terbaik

Dengan penjelasan di atas, dipahami bahwa sesungguhnya permasalahan-permasalahan yang ada adalah ujian untuk mendewasakan kita. Ujian akan terasa mudah jika kita mampu bersahabat dengannya, karena sahabat adalah sosok yang mampu memahami kita, jadi bersahabatlah dengan masalah, karena jika kita mampu bersahabat dengannya, masalah pun akan memberikan solusi cerdas untuk kita mampu melaluinya dengan baik.

Pahamilah bahwa permasalahan yang akan mendatangi kita adalah permasalahan yang tidak akan melampaui kemampun kita untuk menyelesaikannya. Jadi masalah apapun yang menghinggapi pasti ada penyelesaianya, tapi sekali lagi penyelesaian itu tergantung pada sikap kita dalam memaknai setiap permasalahan yang ada....

Hakekat mengenal diri kita sendiri adalah kesadaran adanya kekuatan yang kita miliki.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sahran

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler