x

Iklan

Iswahyudi Candra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Desember 2021

Sabtu, 25 Desember 2021 14:05 WIB

Produktivitas Sastra di Era Milenial

Seiring dengan perkembangan zaman, pengenalan sastra harus ditingkatkan melalui media penyebarannya, agar di era milenial sekarang ini, popularitas dan eksistensi sastra tetap terjaga.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sastra biasanya digunakan untuk menyebut suatu jenis teks yang memiliki makna atau keindahan tertentu. Sastra adalah ekspresi tertulis atau lisan dari ekspresi manusia berdasarkan pikiran, pendapat, pengalaman, emosi imajiner, refleksi dari kenyataan, atau data asli, dikemas dalam paket estetika melalui media linguistik. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak kaum milenial yang beranjak dari sastra karena mereka harus menikmatinya dalam bentuk buku yang dirasa sangat membosankan.

Generasi milenial merupakan generasi pengguna media sosial, untuk suatu kepentingan baik individu, kelompok, ekonomi, eksistensi, maupun mencari informasi. Generasi milenial adalah generasi yang berada di era peningkatan penggunaan teknologi digital, media dan komunikasi, seperti saat ini. Generasi ini memiliki kepribadian yang spesifik. Internet adalah hal yang sudah digunakan dan dijadikan kebutuhan dasar sejak masih di sekolah, agar dapat selalu terhubung dengan internet sehingga dapat mengakses hal baru dan melakukan interaksi di media sosial.

Namun sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, berdampak membuat generasi milenial beralih kembali ke sastra. Saat ini banyak yang menggubah sastra dalam bentuk lagu, film bahkan sepotong puisi ataupun quotes yang dapat menarik para milenial. Bukan karena mereka lebih menyukai film dan lagu daripada membaca, tetapi dilakukan supaya para milenial lebih mendapatkan feel­-nya yang kurang bisa didapat dari sekadar membaca. Ditambah para milenial identik dengan gambaran orang yang menyukai hal-hal praktis.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saat ini, sastra di kalangan generasi milenial semakin populer dibarengi dengan kemajuan teknologi didukung dengan kreativitas kaum milenial. Karya sastra dikembangkan melalui teknologi sebagai media untuk meningkatkan popularitas sastra. Hal ini terlihat dari karya sastra lisan dan tulis yang semakin banyak bermunculan dalam bentuk digital.

Tempat digitalisasi karya sastra yang saat ini sedang marak adalah YouTube yang dapat digunakan untuk mempublikasi dan mendramatisasi puisi secara lisan. Media sosial Instagram juga memiliki banyak akun yang membagikan karya sastra lisan, seperti konten musikal puitis pendek. Aplikasi Wattpad dan Webtoon juga sangat digemari oleh para milenial yang memiliki hobi membaca novel. Di dalamnya terdapat banyak novel dengan bermacam genre, pengguna aplikasi ini jua dapat menulis dan menerbitkan novel mereka sendiri secara instan.

Media digital ini memberikan kemudahan bagi kaum milenial untuk mengunggah karyanya ke media digital tersebut. Namun, tidak semua anak milenial menyukai sastra, khususnya puisi. Orang yang tidak suka menganggap puisi sebagai kata-kata lebay. Menurut Seno Gumira Ajidarma, terdapat tiga mitos sastra yang perlu dimusnahkan. Hal ini yang dapat membuat sesorang menjauhi sastra dan menyebabkan alergi terhadapnya. Pertama, sastra adalah curahan hati. Kedua, karena bahasa sastra mendayu-dayu, kompleks, dan asing untuk didengar,  sebagian pembaca yang jarang membaca karya sastra merasa bahwa sastra bukan bagian dari bacaannya. Ketiga, karya sastra berisi pedoman hidup, petuah dan nasehat.

Sastra adalah alat yang tepat untuk berekspresi. Sastra adalah sarana untuk melepaskan diri dari segala tekanan, termasuk tekanan sosial. Ketersediaan media digital memberikan semangat dan kebebasan berkreasi kepada para penulis. Menanggapi pembaca yang sebagian besar saat ini adalah kaum milenial yang memiliki kcenderungan terhadap media digital, maka para penulis membutuhkan keterampilan digital dan menggunakan media untuk menciptakan keterbacaan, karena karya sastra menjadi hidup dan dapat bermakna hanya dengan dibaca.

Ikuti tulisan menarik Iswahyudi Candra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan