Kerasukan Uniknya Bob Sadino dan Nekatnya Susi Pujiastuti - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Tempo/Muhammad Hodayat

Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Kamis, 13 Januari 2022 14:04 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kerasukan Uniknya Bob Sadino dan Nekatnya Susi Pujiastuti

    Kok tiba-tiba pengen ikut melaut bro?, tanya bung Medio geram gak habis pikir”. Tayangan Kick Andi di Metro TV turut memengaruhi, kebetulan saya tonton beberapa waktu lalu kebetulan mengundang Susi Pujiastuti. “Saya berani ambil resiko maka saya sukses saat ini”, begitulah kira-kira cuplikannya yang kini menginspirasi saya untuk ikut melaut. Ditambah lagi saya mengingat kata Bob Sadino seorang pengusaha yang mengaku dirinya goblok, kalo “Anak muda perlu mencoba, melakukan hal-hal goblok itu hal biasa dan akan jadi cerita kelak”. Bener bener jiwa muda tanpa pikir panjang.

    Dibaca : 1.906 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mentari terbit dari ufuk timur, pertanda tualang hari ini dimulai. Entah melanjutkan perjalanan atau menikmati lagi beberapa jam di pantai Pelelangan ikan Probolinggo. Sebaiknya apapun itu sarapan sebelum melakukan aktivitas lain adalah pilihan yang tepat, agar bergairah menjalani hari.

    Di kapal itu kami berucap salam perpisahan dengan bung Roma (sobat baru kami) karena dia harus ke gudang pembuatan jaring ikan bekerja. Sebelum itu kami berbagi kontak handphone, lalu berjalan searah beriringan sebelum simpang parkiran pelabuhan dan gudang jaring ikan.

    Motor yang diparkiran pelabuhan kami hampiri berjalan kaki dari kapal sembari berfoto ria mengabadikan momen. Kami berpisah di simpang itu. Bersyukur bertemu kawan bersahabat.

    Sesampai di parkiran, motor kami tunggangi berkeliling mencari warung penjual nasi. tidak jauh dari parkiran ada warung pecel, kami santai sarapan ditemani secangkir kopey. Sarapan selesai, perut kenyang, energi bertualang pun kembali on fire. Berangkattt…

    Motor andalan kembali ditunggangi.

    “Siap melanjunkan perjalanan kawan!?, tanyaku tak mengharap jawab alias basa basi“

    “Budallll… teriak Turip”

    Ehh tapi ada yang kurang.

    “Di mana helm satu nya, kataku”

    Kami coba mengingat-ingat.

    “Ketinggalan di warung tadi kali bro, kata Turnip.” Kami coba kembali dan menanyakan ke pejual nasi pecel.

    “Tidak ada mas di sini barang ketinggalan, coba diingat-ingat baik, ujar ibu penjaga warung.

    Hmmm… kira-kira ketinggalan di mana ya??? Huftt.. kesal kami.

    Lalu berlanjut menyusuri jalan sepanjang kapal, parkiran, dan warung sembari mengingat-ingat. Persis di simpang saat kami berfoto ria, saya mengingat sekilas helmnya ku letak di pagar beton pantai.

    Lalu kami cari dengan segera di tempat kami berfoto tadi. Berulang kami susuri, namun tik juga ketemu. Kami tanyakan ke orang-orang yang lewat, tidak ada yang paham. Apess benerr.. padahal rencana perjalanan masih panjang.

    Lalu gimana? kami saling menatap bertanya dibarengi gerutuan kecil.

    Yawess di lupain aja. Gausah dipikir, nanti kita cari lagi. Beli kek, apa kek. Hehehe santai, Turnip coba mengalihkan.

    “Okelah mau gimana lagi?”

    Kepanikan dan kekecewaan yang wajar, mengingat bekal uang perjalanan semakin menipis.

    “Cek isi kantong dulu kawan, nyawa kita tinggal berapa? Di aku tersisa 160ribu nih *<).

    Dikantongku tinggal 60ribu, kata Turnip.

    Oke baik, oke baik. Keadaan yang membuat di pagi hari yang cerah semangat mulai pudar. Ya mau gimana lagi kawan.. sabarin, syukurin.

    Yok menghibur diri kita samperin Bung Roma ke gudang pembuatan jaring ikan, ujar Turnip.

    Yok yokk bisa yok, timpanya lagi (kata yang tidak menambah semangat, sebaliknya).

    Ya ayok. Berangkattt…

    Kami hubungi Bung Roma kemudian menghampirinya sesuai petujuk jalan yang dijelaskannya. Kembali kami bertemu dengannya di sebuah gudang.

    Gudangnya besar dan luas, di situlah tempat pembuatan dan perbaikan jaring ikan nelayan. Sembari manyaksikan Bung Roma menjahit jaring ikan yang sobek kami ngobrol santai.

    Seperti inilah aktivitas kami saat kapal bersandar kawan, kata Bung Roma. Kami dibayar per jaring yang selesai kami jahit.

    Sekilas kami melihat prosesnya cukup gampang, tarik benang jaring lalu diikat ke benang lainnya, dann selesai dehh... gampang bukan.. begitulah penilaian kami.

    “Ajari kami bung Rom. Kalo kami bantu bisa dapat duit tidak, tanya Turnip?”

    “Ya bisa bisa bung, jawab bung Roma.” Ada secercah harapan duit bekal perjalanan bisa bertambah.

    Setelah diajari dan kami coba menjahit. Bukannya jaring makin rapi, malah tambah kusut dan rusak. Hehehe tidak semudah itu Fergusoo..

    Kami terus mencoba, mencoba, dan mencoba hingga akhirnyaaa kami... menyerah.

    Perbincangan kami kemudian beralih.

    “Kapan akan melaut mencari ikan lagi Bung Roma? Tanya ku”

    “Kemarin saya dapat kabar dari juragan pemilik kapal, katanya akan berangkat 3 hari lagi kalau kapal siap dan cuaca baik.”

    “Bentar lagi dong, kata bung Medio”

    “Kira-kira bisa berapa hari di laut? Tanya ku lagi penasaran.”

    “Biasanya 2 minggu. Kita harus berhenti di tengah laut, mencari titik yang banyak ikan, menunggu momentum, lalu melempar jaring. Biasa setelah target terpenuhi kita akan lanjut ke pelabuhan ikan di Merauke, bung Roma kasih paham.”

    Ceritanya kian menarik.

    “Seru juga ya.. ujarku.”

    Karena sering nonton mancing mania yang menampilkan seru-seruan di atas kapal tengah laut, begitulah kira-kira yang kubayangkan.

    Lalu tanyaku lagi, “kira-kira setelah pekerjaan selesai awak kapal dapat gaji berapa bung?”

    “Kalo soal itu tidak pasti kawan, sesuai hasil, tapi biasa antara 7-8 juta, jelas bung Roma.” Uang di kantong kami bergejolak hendak mencari kawan.

    “Bisa kah kami ikut melaut jadi awak kapal, tanyaku polos nekat.

    “Bung Medio kaget, dan langsung memotong sebelum dijawab, aku tidak ikut, saya harus melanjutkan kuliah bla bla bla..

    Kok tiba-tiba pengen ikut melaut bro, tanya bung Medio geram bingung”.

    Tayangan Kick Andi di Metro TV turut memengaruhi yang saya tonton beberapa waktu lalu kebetulan mengundang Susi Pujiastuti.

    “Saya berani ambil resiko maka saya sukses saat ini”, begitulah kira-kira cuplikannya yang kini menginspirasi saya untuk ikut melaut.

    Ditambah lagi saya mengingat kata Bob Sadino seorang pengusaha yang mengaku dirinya goblok, kalo “Anak muda perlu mencoba, melakukan hal-hal goblok itu hal biasa dan akan jadi cerita kelak”.

    Bener bener jiwa muda tanpa pikir panjang.

    Bung Roma senyum tipis sembari menjawab, “bisa bung”.

    “Saya coba hubungi juragan, kebetulan kita lagi kekurangan orang.”

    “Oke oke bung, kataku penuh harap ingin mendapat pengalaman dan cuan.

    “Bung Turnip, lain waktu saja kita lanjut perjalanan ke Banyuwangi, toh juga uang kita tidak cukup. Saya berangkat melaut ke Merauke dulu, kamu bawa saja motor kita ke Malang. Kira-kira dua bulan ke depan aku kembali ke Malang, ucapku menerangkan serius.”

    Mendengar itu, bung Medio gak habis pikir. Nekat betul sikawan ini, pikirnya.

    “Aku ga bisa bawa motor klose, dalihnya.”

    “Ayolah kita lanjut ke Banyuwangi, nanti kita bisa cari uang di jalan, ikut nelayan di pinggir pantai sepanjang jalan, katanya merayu agar aku tidak jadi berangkat.”

    Tapi tekadku tidak dapat lagi diganggu gugat untuk ikut melaut.

    Sekarang tinggal tunggu kepastian kapal berangkat dari juragan kapal.

    Selang beberapa menit, bung Roma menelpon juragannya memastikan keberangkatan kapal.

    Setelahnya Bung Roma menginfokan kalo kapalnya ditunda berangkat.

    “Yahhh” aku kecewa. (Tapi kini bersyukur rasanya tidak jadi melaut, mengingat belakangan ada banyak kasus perbudakan anak buah kapal (ABK), yang kira-kira punya kepolosan bercampur semangat yang sama denganku di awal.. hahahaha)

    “Nahhh itu dia.. itu dia.. sudah kalau begitu kita lanjut perjalanan, kata bung Medio.”

    Nekat ya bisa aja tapi ya dipikir juga kawann.. kalo nggak ujung-ujungnya bakal susah sendiri wkwkwk

    Sekarang kita cari helm bekas dulu di pasar Rombengan Probolinggo, lalu melanjutkan perjalanan ke Situbondo dan Baluran-Banyuwangi. Oke baik! Bersambung…

     

    Ikuti tulisan menarik Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 614 kali