x

Iklan

Sutan Adil Institute

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Januari 2022

Kamis, 27 Januari 2022 21:40 WIB

Mahmud Marzuki, Harimau Kampar di Masa Pendudukan Kolonial


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bag. 1
Oleh : HG Sutan Adil
Sejak setahun yang lalu sahabat saya di Kampar, Bang Dino Aritaba dan Datuk Abdul Latief Hasyim serta sejarawan lainnya sibuk melakukan usaha mengangkat kembali cerita kepahlawan dari warga asli Kampar bernama Tuan Mahmud Marzuki untuk diusulkan dalam penganugrahan menjadi Pahlawan Nasional. Mungkin banyak orang di Indonesia yang belum mengenal kepahlawanan beliau dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan di Riau ini.

Dari berbagai literasi yang didapat, Taun Mahmud Marzuki ini dilahirkan di Desa/Kampung  Kumantan, Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada tahun 1911. Ayahnya bernama Pakih Rajo, bekerja sebagai Andemar dan di samping itu anggota partai Serikat Islam. Ia berasal dari Kubang Putih-Bukittinggi, Sumatera Bartat sekarang ini. Ibunya bernama Hainah, pekerjaan dagang beras di pasar Bangkinang. Masa kecil nya sudah menjadi anak yatim, karena sang ayah Paki Rajo asal Bukittingi, Sumatera Barat meninggal dunia. Kondisi ekonomi keluarganya juga pas-pasan. Walau demikian, semangat “anak pisang” rang Bukittinggi ini untuk menempuh pendidikan terus dia gelorakan.

Diceritakan oleh bang Dino Aritaba, pada masa penjajahan Belanda, Mahmud Marzuki bersekolah di Velkschool di Bangkinang 1918 hingga 1921. Hingga kemudian, putra Kampar ini melanjutkan pendidikan di Tarbiyah Islamiyah di kota yang sama sampai tamat 1934.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berbekal tamatan Tarbiyah Islamiyah dia bertekad untuk melanjutkan perkuliahan di luar negeri. Dengan adanya bantuan dari beberapa warga, akhirnya pada tahun 1935 diapun meninggalkan kampung halamannya. Dia langkahkan cita-citanya menuntut ilmu agama yang lebih tinggi lagi di perguruan Islam Nazmia Arabic College Lucknow di India.

Tiga tahun lamanya di India menekuni dan memperdalam ilmu filsafat dan perbandingan agama. Pada tahun 1938, usai menempuh pendidikan, dia kembali ke kampung halamannya di Kab Kamar. Kepulangannya disambut hangat masyarakat setempat. Berbekal ilmu agama yang dipelajari, Marzuki pun bertemu dengan sejumlah tokoh adat, tokoh agama, dan para gurunya di pondok pesantrennya dulu. Dia pun mengajar kembali di mana dia dulu bersekolah.
Bertahun-tahun lamanya mengajar, diapun dipercayakan oleh gurunya untuk menjadi Rois (pemilik sekolah) di pesantren Tarbiyatul Islamiyah dan sejumlah sederatan sekolah lainnya yang ada di Kampar.

Pada tahun 1939, Mahmud Marzuki masuk dalam organisasi Muhammadiyah di pengurusan ranting. Masuknya Marzuki ke organisasi Muhamadiyah, ternyata menjadi ihwal perpecahan dengan gurunya sendiri Buya Haji Abdul Malik. “Paham Muhamadiyah dianggap tidak satu aliran dengan pesantren Tarbiyatul Islamiyah. Sejak itu, sang guru melarangnya untuk mengajar di pondok pesantren tersebut” ungkap Bang Dino Aritaba melanjutkan ceritanya.

Sekitar tahun 1940, melalui bantuan dari  istri dari gurunya tersebut, yaitu Ibu Salamah, disarankan untuk mengajar ke Payakumbuh, Sumatera Barat Sekarang. Ibu Salamah mengerti betul perbedaan pandangan antara suaminya dengan muridnya itu. Atas sarannya, Marzuki akhirnya ‘hijrah’ ke tanah Minang. Di Bumi Bundo Kanduang itu, Marzuki terus berdakwah dan mengajar. Tak lama, diapun dipercayakan sebagai Pimpinan Cabang Muhamadiyah di Bangkinang, setelah dia kembali dari Bukittinggi. Disini beliau banyak bertemu dengan tokoh tokoh Muhammadiyah lainnya seperti ; Buya Hamka, Buya Alimin, Buya Rasyid dan banyak lagi.

Tahun 1942 adalah kedatangan tentara Jepang yang memasuki daerah Bangkinang. Saat itu tentara jepang diterima dengan banyak harapan, karena Jepang jauh hari sebelumnya telah memberikan bujukan dan janji-janji yang muluk-muluk kepada masyarakat Bangkinang. Seakan-akan ia tidak hendak memusihi kita, malah hendak bekerja sama dalam menghadapi tentara sekutu, termasuk Belanda yang sedang menjajah kita.

Akan tetapi, setelah memperhatikan bahwa janji Jepang yang muluk itu kenyataannya busuk, ungkap Bang Dino, yang katanya mau bekerja sama, akan tapi prakteknya sangat bertolak belakang, bahkan telah memperlihatkan sikap zalimnya.

Banyak Pemimpin-pemimpin di daerah Kampar mulai mengadakan perlawanan, seperti memalui organisasi Muhammadiyah, yang memberikan Latihan Keterampilan Kepanduan (HW) untuk memperisapkan diri. Dalam hal ini Mahmud Marzuki banyak berkecimpung didalamnya. (Bersambung)


*) Penulis Adalah Pemerhati Sejarah dari Sutanadil Institute
Bogor, 24 Januari 2022

Ikuti tulisan menarik Sutan Adil Institute lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

22 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

22 jam lalu