x

https://www.google.com/search?q\x3djalan+gambar\x26sxsrf\x3dAOaemvKhT7Aw9Oz6kTqE50J_gvq485GRCQ:1637368736932\x26source\x3dlnms\x26tbm\x3disch\x26sa\x3dX\x26ved\x3d2ahUKEwjBibnv2aX0AhXSwjgGHUJKBRwQ_AUoAnoECAEQBA\x26biw\x3d1366\x26bih\x3d657\x26dpr\x3d1#imgrc\x3dm0ypTZUoQIrmoM

Iklan

Muhammad Ariq Maulana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Februari 2022

Jumat, 4 Februari 2022 13:16 WIB

Berlomba-lomba Menghias Jalan di Indonesia

Jalan ikonik menjadi daya tarik tertentu bagi sebuah kota. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak sekali kota-kota yang seakan-akan berlomba-lomba untuk mengembangkan suatu jalan tertentu menjadi jalan ikonik. Apakah ini hanya fenomena latah semata?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jalan Malioboro adalah sebuah ikon yang sudah melekat dikalangan turis domestik maupun internasional. Pancaran dari sebuah jalan sepanjang 2 kilometer ini tidak berhentinya menarik atensi wisatawan yang sedang berkunjung di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seiring berkembangnya waktu, wisata ini menjadi inspirasi untuk kota-kota atau wilayah regional lain membangun ikon pariwisatanya. Lantas apakah fenomena latah ikon ini merupakan suatu hal yang baik?

Seperti yang diketahui, di beberapa kota di Indonesia, pasti memiliki suatu jalan yang ikonik dengan nilai sejarahnya yang panjang. Contohnya adalah di Kota Surabaya, Jalan Tunjungan menjadi jalan yang bersejarah dan juga ikonik di mata masyarakat Surabaya maupun Indonesia. Sebuah kejadian penyobekan bendera belanda yang terjadi di Hotel Yamato (Sekarang Hotel Majapahit) juga terjadi di Jalan ini. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya merevitalisasi jalan ini menjadi jalan yang indah, sehingga dapat menarik wisatawan.

Beberapa kota lainnya di Indonesia pun berlomba-lomba untuk menghadirkan sebuah wahana wisata pemandangan jalanan perkotaan. Bahkan sampai kota-kota kecil pun sedang membangun untuk menghadirkan ikon seperti ini. Lantas apakah ini hal yang normal, atau hanya sebuah fenomena latah?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebuah jalan ikonik adalah fenomena yang wajar. Hal ini dapat ditemui di berbagai tempat di belahan dunia. Revitalisasi jalan ikonik, nantinya tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Namun, hal ini dapat memberikan wadah bagi pengusaha UMKM atau pedagang kaki lima, untuk berjualan disini. Di Amerika Serikat contohnya terdapat Jalan Hollywood Boulevard dimana banyak sekali masyarakat kecil yang mengadu nasib disitu. Contoh lainnya adalah Jalan Myong-Deong di Korea Selatan yang sangat ramai akan jajanan khas koreanya.

Oleh karena itu, para pemimpin dan perencana tata ruang kota. Janganlah takut untuk terus mengembangkan jalan-jalan di wilayahmu agar dapat menjadi jalan ikonik yang nantinya dapat menjadi magnet bagi Wisatawan Domestik maupun Asing.

Kalau menurutmu bagaimana?

Ikuti tulisan menarik Muhammad Ariq Maulana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler