Jiwa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Rakhmat_azis-Jiwa.

rakhmat_azis

Penulis indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 13 Maret 2022 09:07 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Jiwa

    setiap yang memiliki jiwa diciptakan untuk mencari dan menanti, mencari untuk menyempurnakan, menanti untuk di pertemukan dalam keabadian.

    Dibaca : 861 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dia dengan polosnya mengucapkan kata yang tidak ia mengerti atau pahami.

         Kata yang bahkan bisa jadi sering diucapkan ketika orang dalam keadaan terbaiknya namun sedikit sekali yang benar-benar secara konsisten menjalaninya.

         Mereka berdua  berada di koridor, dengan cahaya yang cerah sedang suara burung berkicau dan bertebangan, angin yang berhembus melewati pepohonan. Saat itu sedang dalam keadaan sunyi tak ada seorangpun yang melewati koridor itu.

         Mereka berdua berbincang seperti layaknya teman, namun tindakan dan ucapan mereka berdua layaknya orang yang telah dipersatukan. Mereka berdua menikmati masa pertemuan itu berbicara tentang kehidupannya.

         Jika ada yang melewati koridor itu makhluk pun tahu bahwa saat itu mereka berdua sedang saling bertukar rasa, karena rasa adalah bahasa setiap makhluk yang tercipta. Mereka berdua dengan senyum polosnya tak sedikitpun memikirkan perasaan dirinya sendiri, saat itu mereka berdua hanya merasakan saja tanpa berpikir.

         Tak pernah sedikitpun terpancar dari keduanya rasa yang akan mengakibatkan kerusakan, rasa itu membangun dari keduanya, yang satu ingin mati justru menjadi abadi, yang lainnya ingin mendapatkan nilai tertinggi  justru menjadi juara.

         Saat mereka berdua berjalan menyusuri koridor itu setiap  langkah kakinya menjadikan doa agar tidak terhenti dan tidak terpisah, tangan yang saling menggenggam erat seolah akan rekat selamanya.

         Pada akhirnya Jiwa mereka diturunkan dan berada dalam wujud manusia, menjadikan rasa itu bukan hal yang utama, didalam tubuh manusia akal dan nafsu akan terus mengusik rasa yang menurut  banyak manusia dikatakan sebagai hati.

         Saat itu mereka yang merupakan sepasang kini terpisah oleh tubuh manusia, didalam tubuh itu perasaan mereka berdua tertimbun banyak hal, mulai dari lingkungan alam, sosial, adat, budaya, serta ilmu pengetahuan lainnya yang membuat mereka yang dulu kuat secara rasa kini terlihat hanya berdasarkan fisik  dan kalkulasi.

         Mereka berdua pada masa bertemu yang beruntungnya dipertemukan saat perasaan itu sedang meluap-luapnya, pandangan yang awal hanya berisi kalkulasi berubah ke hal yang mereka berdua setujui yaitu sebagai hal tidak masuk akal dan hal yang paling asing dalam sejarah kehidupan mereka berdua sebagai manusia.

        Namun ketidakmasukakalan tersebut selalu terjawab dengan berbagai hal. seperti hal yang tidak mungkin terjadi menjadi hal yang pasti, setiap akal menolak namun selalu terjawab oleh keadaan, mereka yang dipertemukan makin hari makin sulit untuk mencari alasan, dia yang menyadari sesuatu didalam hatinya pada akhirnya menerima, namun yang satunya belum sama sekali menerimanya.

        Mereka yang sudah bersatu terpisah dalam wujud manusia sedang diuji, dalam keadaan yang sama di koridor mereka berdua datang namun tidak berpegangan, tidak bercerita, tidak nampak saling merasakan, dia yang sudah menerima perasaan didalam hatinya itu pada akhirnya tidak kuat untuk mengucapkkan perkataan yang tidak masuk akal itu, dengan lembut dan tegas ia mengatakan

                       “saya mencintaimu”.

         Hembusan angin yang melewati pepohonan itu menyambut ucapan itu, seketika orang yang menerima perkataan itu menoleh dengan sedikit  berpikir namun akalnya tidak kuat lagi.

                       “apa?  (sambil menetesksan air mata)

         Dia yang mencoba untuk tidak mengerti dari ucapannya terus mencari jawaban dan setiap mencari jawaban itu air matanya tidak terhenti. Dia yang menyatakan perasaannya mengatakan bahwa perkataan tadi  tidak untuk dijawab namun sebagai penguat bahwa sekarang ini dan seterusnya perasaannya akan tetap sama, akal tidak akan mencapai ranahnya perasaan. karena rasa dan akal memang diciptakann berbeda, yang satu berdasarkan wujud dan yang satunya berdasarkan hal yang tidak berwujud.

         Mendengar hal itu ia yang terus menangis mencari jawaban memeluk dia yang mengucapkan perasaannya. akal yang membatasi mereka berdua pada akhirnya hilang, dengan tersedu menangis ia meminta maaf karena selalu berusaha mencari alasan untuk meniadakan perasaannya itu dan berterima kasih karena mau berusaha untuk menyadarkan perasaannya.

        Setelah itu dengan mengelap air matanya, mereka berdua seperti mengulang hal yang entah seperti terulang lagi perasaan yang sudah lama ingin mereka luapkan kepada pasangan jiwanya yang sudah saling menanti dan mencari kini kembali dipertemukan dan dipersatukan, perasaan mereka berdua abadi tidak dihubungkan oleh hal-hal yang terjangkau akal, karena akal akan ada batasnya dan rasa mereka akan terus tumbuh dan berkembang abadi selamanya. Dengan rasa syukur mereka akhirnya bisa kembali ke ruang yang memiliki ketenangan sedang damai didalamnya, tidak satu pun makhluk mengganggu, malaikat tidak mendengar dan melihat serta iblis yang membisiki keburukan dan kejelekkan hilang seketika, karena ruang itu terberkati oleh Tuhan, di khususkan untuk mereka berdua yang telah menerima perasaan yang membangkitkan serta tidak melemahkan, yang berjuang satu sama lainnya agar mampu bertemu,  yang tidak sekalipun karena rasa itu akan merusak.

    Ikuti tulisan menarik rakhmat_azis lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.