x

Sastra

Iklan

Fina Wulandari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2022

Senin, 11 April 2022 16:24 WIB

Peran Sastra dalam Pembentukan dan Perkembangan Kepribadian Anak

Sastra anak berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejatinya semua orang menyukai dan membutuhkan sastra, terlebih lagi anak-anak yang sedang berada pada masa tumbuh kembang. Tidak sedikit ibu di dunia ini yang selalu membacakan cerita anak (mendongeng) untuk buah hatinya, biasanya hal itu dilakukan oleh para ibu di saat-saat menjelang tidur. Mendongeng dapat mengasah kemampuan motorik halus dan kasar pada anak. Cerita-cerita yang di dongengkan tentunya adalah sebuah karya sastra anak. Santosa (dalam Rosdiyana, 2008:54) mengemukakan bahwa sastra anak adalah karya seni yang imajinatif dengan unsur etnisnya yang dominan bermediumkan bahasa, baik lisan maupun tertulis, yang secara khusus dapat dipahami oleh anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak. Perkembangan kepribadian akan terlihat ketika anak mencoba memperoleh kemampuan untuk mengekspresikan emosinya terhadap orang lain, dan mengembangkan perasaannya mengenai harga diri dan jati dirinya. Cerita dalam sastra anak secara tidak langsung telah mendorong anak untuk mengendalikan berbagai emosi.

Sastra anak memiliki karakter yang berbeda dengan sastra lainnya, menurut Davis (dalam Endaswara, 2005:212) ada empat sifat sastra anak, yakni: (1) Tradisional, yaitu tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu dalam bentuk mitologi, fabel, dongeng, legenda, dan kisah kepahlawanan ang romantis; (2) Idealistis, yaitu sastra yang memuat nilai-nilai universal, dalam arti didasarkan hal-hal terbaik penulis zaman dahulu dan kini; (3) Pouler, yaitu sastra yang berisi hiburan, yaitu menyenangkan anak-anak; (4) Teoritis, yaitu yang dikonsumsikan kepada anak-anak dengan bimbingan orang dewasa serta penulisannya dikerjakan oleh orang dewasa pula.

Sastra anak pada dasarnya merupakan ”wajah sastra” yang fokus utamanya demi perkembangan anak. Di dalamnya, mencerminkan liku-liku kehidupan yang dapat dipahami oleh anak, melukiskan perasaan anak, dan menggambarkan pemikiran-pemikiran anak. Sastra anak hendaknya memiliki nilai-nilai tertentu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak. Yang membedakan sastra anak dengan sastra yang lain adalah muatannya. Sastra anak tentu saja perlu memuat rasa kesenangan, kegembiraan, kenikmatan, cita-cita, dan petualangan anak. Tidak dapat dipungkiri, bahwa sastra anak memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian, kecerdasan, dan pengalaman anak dalam proses menuju kedewasaaan. Kematangan kepribadian, kecerdasan, dan luasnya wawasan anak dibentuk dan terbentuk melalui lingkungan di sekitarnya, termasuk lingkungan kegiatan bersasatra yang berlangsung pada kehidupan anak, baik sastra lisan yang diperoleh anak lewat saluran tuturan maupun sastra tulis yang diperoleh lewat bacaan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sastra anak berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.

Usia anak (4-7 tahun) merupakan periode terpenting bagi pembentukan kepribadian anak. Pada masa itu anak membutuhkan kematangan emosi, fantasi atau imajinasi. sebagai orang tua, kita harus pandai dalam memilah sastra anak yang semacam apa yang akan kita suguhkan atau kita bacakan kepada anak-anak kita. Karna sejatinya anak adalah peniru terhebat, apapun yang ia dengar dan ia lihat pasti akan diikuti atau ditiru olehnya, maka kita harus menyediakan sastra anak yang memiliki nilai moral yang tinggi dan mendidik baik dalam hal berprilaku kepada orang tua, teman sepermainan, dan orang disekitarnya agar kelak ia dapat hidup bermasyarakat dengan baik. Mungkin orang menganggap berlebihan jika dikatakan bahwa sastra memunyai peran penting dalam pembentukan karakter anak. Namun, sebaliknya, orang juga tidak dapat menolak fakta bahwa sastra mempunyai peran dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian anak.

Selain berperan dalam pengembangan kepribadian anak, sastra juga berkontribusi dalam perkembangan emosisional anak, perkembangan intelektual anak, perkembangan imajinasi anak, menumbuhkan rasa sosial dalam diri anak, menumbuhkan rasa etis dan legius, perkembangan bahasa pada anak, penanaman wawasan multikultural, dan penanaman kebiasaan membaca.

Ikuti tulisan menarik Fina Wulandari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu