x

ilustr: Bridgeport Public Library

Iklan

Sekar kurnia Fitri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 April 2022

Rabu, 13 April 2022 20:12 WIB

Faktor Bahasa dalam Model Semiotik

Secara terminoligis, semiotika dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Pada dasarnya, analisis semiotika merupakan sebuah ikhtiar untuk merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang dipertanyakan lebih lanjut ketika kita membaca teks atau narasi. Apa yang menjadi faktor bahasa dalam model semiotik? maka dari itu mari kita bahas topik ini dalam artikel.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Semiotik berasal dari bahasa Yunani "semion" yang berarti tanda. Semiotika mulai muncul sejak zaman Yunani kuno yang dipelopori oleh Plato dan Aristoteles. Kajian semiotika yang dilakukan Plato ialah kajian yang membahas asal-usul bahasa yang isinya membahas tentang tanda-tanda verbal, natural atau konvensional, kajian tentang kata tidak mengungkap asal-usul alam ide yang terpisah dari representasi bentuk kata , pengetahuan dimediasi dengan tanda secara tidak langsung dan tanda menjadi bagian bawah dari pengetahuan (Cobley, 2002:4).

Secara terminoligis, semiotika dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Pada dasarnya, analisis semiotika merupakan sebuah ikhtiar untuk merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang dipertanyakan lebih lanjut ketika kita membaca teks atau narasi.

Faktor pertama yang dalam model semiotik sastra harus diberi tempat selayaknya bahasa itu sendiri, sebagai sistem tanda yang kompleks dan beragam. Model Abrams menyarankan seakan-akan penulis dan pembaca dapat langsung berhadapan dengan karya sastra, tanpa halangan atau prasarana apa pun juga. Tetapi saran ini sebenarnya  agak mengelirukan. Penulis terikat pada instrumen, sarana, yaitu bahasa, yang merupakan semacam kader, kerangka formal dan konseptual yang tidak dapat dihindarinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menurut ahli semiotik Jurij Lotman dari Rusia mengatakan bahwa bahasa merupakan ein primares modell bildendes System, sistem pembentuk model yang primer, jadi yang mengikat baik penulis maupun pembaca, tidak hanya dalam arti bahwa kedua-duanya harus mengetahui bahasa yang dipakai dalam karya sastra, tetapi juga dalam arti bahwa keistimewaan struktur bahasa itu secara luas membatasi dan sekaligus menciptakan potensi karya sastra dalam bahasa tersebut.

Oleh siapa bahasa sebagai sistem dikemukakan? Bahasa sebagai sistem tanda telah dikemukakan oleh para peneliti. Teeuw (1984: 48-56) memaparkan bahwa Karl Buhler telah menjelaskan sistem ketandaan bahasa dengan dasar model organon. Yang lain, Jakobson dengan dasar fungsi puitik bahasa, dan Charles Morris yang kemudian disesuaikan dengan Klauss membedakan bahasa atas tiga dimensi semiotik. Model Charles Morris juga diintroduksi kembali oleh Foulkes dengan menekankan peranan pembaca.

Dapat disimpulkan bahwa kajian semiotika yang dilakukan Plato ialah kajian yang membahas asal-usul bahasa yang isinya membahas tentang tanda-tanda verbal, natural atau konvensional, kajian tentang kata tidak mengungkap asal-usul alam ide yang terpisah dari representasi bentuk kata , pengetahuan dimediasi dengan tanda secara tidak langsung dan tanda menjadi bagian bawah dari pengetahuan. Faktor pertama yang dalam model semiotik sastra harus diberi tempat selayaknya bahasa itu sendiri, sebagai sistem tanda yang kompleks dan beragam. Menurut ahli semiotik Jurij Lotman dari Rusia mengatakan bahwa bahasa merupakan ein primares modell bildendes System, sistem pembentuk model yang primer, jadi yang mengikat baik penulis maupun pembaca, tidak hanya dalam arti bahwa kedua-duanya harus mengetahui bahasa yang dipakai dalam karya sastra, tetapi juga dalam arti bahwa keistimewaan struktur bahasa itu secara luas membatasi dan sekaligus menciptakan potensi karya sastra dalam bahasa tersebut.

 

 

Referensi:

Putro, K. E. Strategi Ampuh Memahami Makna Puisi. Cirebon: Eduvision. (2019).

Sugihastuti. Wanita di Mata Wanita. Bandung: Nuansa Cendekia. (2000).

Teeuw, A. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Dunia Pustaka. (2017).

Ikuti tulisan menarik Sekar kurnia Fitri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB