Problematika Pengajaran Sejarah Sastra Indonesia di Sekolah Dasar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Natasya Maulida Andini

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 April 2022

Rabu, 11 Mei 2022 13:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Problematika Pengajaran Sejarah Sastra Indonesia di Sekolah Dasar

    Pengajaran sastra adalah pengajaran yang menyangkut seluruh aspek sastra, yang meliputi: Teori Sastra, Sejarah Sastra, Kritik Sastra, Sastra Perbandingan, dan Apresiasi Sastra. Sehingga fungsi pengajaran sastra dapat dikatakan sebagai wahana untuk belajar menemukan nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra yang dibelajarkan, dalam suasana yang kondusif di bawah bimbingan guru atau dosen.

    Dibaca : 342 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pengajaran sastra, patut diakui belum mampu menghasilkan pencapaian yang maksimal. Pandangan itu termanifestasi dari berbagai pengalaman praktek dan evaluasi terhadap pembelajaran sastra di sekolah khususnya sekolah dasar (SD).

    Pengajaran sastra harus memiliki efek yang melekat pada diri siswa. Sehingga siswa dapat mengimplementasikan hasil pengajaran sastra sebagai dasar budi dan nilai-nilai luhur yang termuat dalam kegiatan besaastra. Makna sastra sebagai dulce et until (indah dan bemakna) harus melekat pada siswa yang beroleh pengajaran sastra.

    Ketidaktuntasan pembelajaran sastra dalam pengajaran di sekolah dasar memang tidak hanya diakibatkan oleh satu faktor. Namun terdapat faktor yang kompleks sehingga menambah kerumitan dalam menentukan solusi terhadap persoalan pengajaran apresiasi sastra. Secara umum faktor yang menyebabkan ketidak maksimalan dalam pengajaran apresiasi sastra terdiri dari tiga faktor umum yaitu, kualitas guru, siswa dan fasilitas. Faktor-faktor ini cukup dominan dalam mempengaruhi aktifitas pembelajaran sastra. Dari faktor umum itu, tentunya pengaruh persolan dari guru dan murid juga menjadi komponen yang mempengaruhi kemampuan mencapai ketuntusan belajar apresiasi sastra.

    Pembelajaran sastra erat kaiatannya dengan aspek humaniora pendidikan. berdasarkan rumpun ilmu bahwa ilmu budaya dan seni termasuk di dalamnya adalah satra merupakan bagian dari ilmu humaniora, karena berkaitan dengan aspek kognisi yang melibatkan kepekaan rasa dan nilai-nilai kehidupan.

    Nenden Lilis A menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan guru megalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran sastra seperti yang diinginkan. Faktor-faktor tersebut adalah:

    1. Kebijakan pemerintah yang selalu berubah-ubah lewat pergantian kurikulum.;
    2. Sistem ujian nasional yang berjenis soal obyektif, memaksa guru mengambil jalan pintas melakukan pebelajaran dengan membahas soal-soal demi kelulusan siswa;
    3. Adanya pembatasan lewat standar kopetensi lulusan (SKL) yang membuat para guru lebih terfokus untuk mengajar SKL ini; dan
    4. Sarana dan prasarana yang tidak mendukung dalam proses pembelajaran sastra.

    Dari berbagai persolan umum yang dialami dalam proses pembelajaran apresiasi sastra tersebut, juga ada persolan yang berlaku khusus dalam pembelajaran apresiasi sastra. Persolan khusus tersebut bisa hadir dari faktor pendukung proses pembelajaran, terhadap siswa, dan juga guru. Khususnya bagi siswa, persoalan tersebut akan mempengaruhi kemampuan apresiasi siswa, sehingga akan menjadi faktor penghambat dalam pencapaian kompetensi apresiasi sastra.

    Ketuntasan dalam pencapaian ketiga ranah tersebut tentunya akan banyak mengalami tantangan. Tantangan tersebut misalnya kesulitan siswa dalam mencapai ketuntasan kognitif, emotif dan evaluatif. Disamping persolan umum yang dipaparkan ada beberapa persolan khusus yang dialami oleh individu-individu tertentu juga mewarnai kompleksnya persoalan pengajaran apresiasi sastra di sekolah. Beberapa persolan khusus yang dimaksud adalah berkaitan dengan hambatan dan kesulitan siswa tertentu dalam ketuntasan kompetensi pembelajaran apresiasi sastra dalam berbagai tingkatan pembelajaran sastra maupun dalam ranah pencapaian kompetensi pembelajaran apresiasi sastra. Persoalan tersebut bisa diakibatkan oleh beberapa faktor misalnya (1) faktor lingkungan anak berada, (2) faktor keluarga dimana anak dibesarkan, dan (3) faktor internal siswa yang bisa berupa kondisi psiskis dan non psikis. Persolan tersebut bisa mememiki kecenderungan dalam mempengaruhi kemampuan anak yang mengalami persoalan. Tentunya terkait kecenderungan yang mana akan dialami oleh anak akan ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi tersebut. Bisa saja kecenderungan tersebut hadir dari persolan lingkungan sosial anak berada, lingkungan keluar, faktor internal yang berupa psikis maupun non psikis.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.