Mem-fitri-kan Kembali Kekuasaan, Mungkinkah? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi mencari pemimpin di TTS

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 19 Mei 2022 13:12 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mem-fitri-kan Kembali Kekuasaan, Mungkinkah?

    Seyogyanya, para pemimpin, penguasa, elite politik mampu mengambil pelajaran dari Ramadhan, pertama-tama dalam konteks individu, lalu dalam kaitannya dengan kekuasaan. Para elite kekuasaan mestinya menarik garis hubung antara shaum sebagai kewajiban individual yang berpotensi memperbaiki kemanusiaan seseorang dan mengaitkannya dengan praktik kekuasaan yang ia sedang jalankan.

    Dibaca : 1.506 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari shaum sampai ke fitri, inilah perjalanan penuh tantangan yang dilalui muslim. Fitri adalah keadaan murni yang sebenarnya berada di titik awal perjalanan hidup manusia—ketika manusia belum berkenalan dengan hasrat kekuasaan. Manusia yang telah berkenalan, bahkan akrab dan menikmati kekuasaan, akan menjumpai banyak tantangan untuk mampu tiba kembali kepada keadaan yang fitri.

    Kekuasaan pun begitu. Proses pembersihan selama Ramadhan mengilhami pertanyaan: Dapatkah kita membersihkan kekuasaan dari hasrat merusaknya dan memulihkan fungsinya yang asali: memberi keadilan dunia dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat banyak?

    Bila merujuk pada aktivitas selama Ramadhan, maka segala upaya untuk menahan diri dari hasrat mengenyangkan perut, nafsu syahwat, dan kecondongan pada kemarahan, kesombongan, dsb diperlukan demi mencapai pertobatan yang sejati agar mampu kembali kepada  kefitrian manusia.

    Dalam konteks individu, langkah menuju kefitrian jadi semacam pendakian menuju puncak yang tidak mudah. Puncak kefitrian itu menjadi impian, harapan, dan cita-cita untuk dicapai, namun rintangannya sungguh kokoh. Tantangannya tidak muda diatasi. Tidak lain karena rintangan itu bukan berada di luar diri kita, melainkan tersimpan dalam diri kita sendiri. Sebutlah di antaranya hasrat untuk mengambil jalan pintas, mengabaikan keberatan orang lain, tak peduli dengan asas keadilan, enggan mendengar pendapat yang berbeda, berat hati untuk berbagi, merasa lebih tinggi dibanding yang lain, dan seterusnya.

    Tantangan terberat untuk diatasi melekat pada diri sendiri, sehingga pencapaian hingga ke tataran fitri berpulang pada kemampuan menaklukkan rintangan terberat yang ada di dalam, bukan orang lain, bukan struktur, bukan sistem, yang semuanya berada di luar diri kita. Bila kita mampu mengatasi rintangan di dalam ini, peluang untuk mengatasi rintangan di luar akan lebih terbuka, karena kita telah melepaskan diri dari beban yang menghimpit gerak kita, seperti ambisi berlebihan, keserakahan, keengganan untuk berbagi, perasaan benar sendiri dan ingin menang sendiri, dan seterusnya.

    Lantas apa hubungannya dengan kekuasaan, apa lagi kefitrian kekuasaan? Seyogyanya, para pemimpin, penguasa, elite politik mampu mengambil pelajaran dari Ramadhan, pertama-tama dalam konteks individu, lalu dalam kaitannya dengan kekuasaan. Para elite kekuasaan mestinya menarik garis hubung antara shaum sebagai kewajiban individual yang berpotensi memperbaiki kemanusiaan seseorang dan mengaitkannya dengan praktik kekuasaan yang ia sedang jalankan. Pendeknya, bagaimana pengalaman shaum yang baru saja ia jalani menghasilkan pelajaran dan hikmah yang kemudian ia serap dan diterapkan dalam menjalankan kekuasaan sehari-hari.

    Shaum menstimulasi diri pelakunya untuk bersikap lebih rendah hati di hadapan Sang Pencipta dengan memperbanyak ibadah; shaum juga mendorong orang untuk lebih mudah berbagi, lebih dermawan, lebih membuka diri untuk bersilaturahim dengan siapapun; Relasi individual menjadi lebih akrab. Di hadapan kekuatan yang mahadahsyat, siapapun yang kembali kepada kefitriannya akan merasa dirinya bukanlah orang yang lebih kuat, lebih terhormat, lebih kaya dibanding orang lain.

    Bagi elite kekuasaan, yang mungkin menjalani shaum Ramadhan namun tidak percaya bahwa shaum ini diwajibkan bukan tanpa tujuan yang punya makna, mereka akan kecewa. Tak peduli betapapun mereka acuh tak acuh, sesungguhnya shaum ini mestinya memberi dampak pada diri elite, dan dampak ini seyogyanya terasa pada perubahan dalam praktik-praktik kekuasaan yang ia jalankan. Bila sebelumnya elite penguasa merasa bahwa dirinya orang paling kuat, setelah shaum ia menjadi orang yang lebih rendah hati. Bila sebelumnya ia merasa paling benar, kini ia tahu bahwa ia juga bisa salah dan orang lain belum tentu salah. Bila sebelumnya ia meminta agar instruksinya didengarkan dan dijalankan, sekarang ia mau membuka telinga dan mengurangi bicara.

    Satu hal yang juga sangat penting ialah mampukah elite kekuasaan memurnikan kembali niatnya untuk berkuasa dengan menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk memberi keadilan dan membangun kesejahteraan untuk rakyat banyak. Mampukah mereka memurnikan kembali nawaitunya yang mungkin tercemari oleh hasrat kekuasaan yang membuat dirinya lupa pada alasan mengapa ia dipilih oleh rakyat. Mampukah ia membersihkan hati dari hasrat berkuasa lebih lama, lebih angkuh, dan menyadari bahwa orang lain harus diberi kesempatan untuk memimpin. Mungkinkah?

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.