Cermin Ayah - Analisis - www.indonesiana.id
x

Tempat Perjuangan

DENY FIRMANSYAH

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Juni 2022

Sabtu, 4 Juni 2022 07:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cermin Ayah

    Bercermin pada kisah Yaqub alaihissalam

    Dibaca : 163 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selaku ayah, Ya’qub sudah mengetahui atau berfirasat bahwa kakak-kakak Yusuf yang 10 orang menyimpan kedengkian terhadap Yusuf, secara khusus, dan juga terhadap Bunyamin adik kandung Yusuf.

    Ketika Yusuf menceritakan mimpinya kepada Ya’qub bahwa ia melihat 11 bintang, matahari dan rembulan semua bersujud kepadanya, Ya’qub langsung mewanti-wanti agar tidak menceritakan mimpi itu kepada kakak-kakaknya.

    “Wahai anakku jangan engkau ceritakan mimpimu ini kepada merela, nanti mereka melancarkan suatu tipu daya kepadamu …” (Surat Yusuf: 5)

    Dan kekuatiran Ya’qub pun benar-benar terjadi. Di suatu hari, kesepuluh anaknya meminta izin mengajak Yusuf bersenang-senang dan bermain-main dalam semacam kegiatan wisata.

    Muncul keraguan pada diri Ya’qub maka mereka pun berkata,

    "Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak memercayai kami akan Yusuf, padahal kami semua menginginkan kebaikan baginya.” (Surat Yusuf: 11)

    “Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan sudah pasti kami akan menjaganya." (Surat Yusuf: 12)

    Dia (Ya’qub) berkata, "Sesungguhnya kepergian kalian bersama dia (Yusuf) membuatku cemas dan aku kuatir jika dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya." (Surat Yusuf: 13)

    Mereka berkata, "Bagaimana pula dia dimakan serigala, sedangkan kami adalah golongan yang kuat, jika demikian tentu kami adalah orang-orang yang rugi." (Surat Yusuf: 14)

    Kesepuluh kakak Yusuf berjanji kepada Ya’qub untuk selaku menjaga Yusuf. Alasannya: mereka adalah orang yang kuat-kuat dan bisa diandalkan.

    Ya’qub yang sudah berfirasat buruk mengajukan alasan kekuatirannya: ia kuatir Yusuf yang masih kecil -bahkan paling kecil di antara mereka- disergap dan dibawa lari srigala.

    Dasar kekuatiran Ya’qub ini pula yang kelak dipakai sebagai materi ‘narasi palsu’ yang dibuat kesepuluh saudara Yusuf.

    Usai melempar Yusuf ke dalam sumur tua di jalur jalan padang pasir, mereka pun pulang ke rumah saat hari telah malam: suasana yang kondusif untuk menyamarkan tangisan dan menyamarkan ‘barang bukti’ berupa baju Yusuf yang dikoyak-koyak dan dilumuri darah kambing.

    “Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di waktu isya sambil menangis.” (Surat Yusuf: 16)

    Mereka melakukan aksi pura-pura menangis.

    Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Dan engkau tentu tidak memercayai kami, meski kami berkata benar." (Surat Yusuf: 17)

    Alibi ‘diterkam srigala’ itu juga yang dibuat sebagai bahan narasi agar cocok dengan kekuatiran Ya’qub semula.

    Seakan-akan bahasa sikap (lisanul hal) mereka berkata, “Firasatmu benar Ayah, Yusuf diterkam dan dimangsa srigala…”

    Dan mereka datang membawa baju gamis Yusuf (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, "Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (Surat Yusuf: 18)

    Hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan yang buruk itu- yaitu kalian secara subyektif menganggap tindakan itu benar dan dibolehkan. Kalian anggap baik perbuatan itu karena berharap perhatian dan kasih sayangku teralih kepada kalian dengan cara ‘menghilangkan’ Yusuf.

    Apalagi setelah melakukan aksi konkret kedengkiannya terhadap Yusuf itu mereka berencana ‘menjadi soleh’ kembali. (Surat Yusuf: 9)

    Kontradiksi Kebohongan

    Meski narasi yang dibangun bersifat ‘bohong’ ada kontradiksi dalam pernyataan saudara-saudara Yusuf kepada ayah mereka.

    Mereka katakan bahwa alasan mereka mengajak Yusuf berwisata adalah agar Yusuf bisa bersenang-senang dan bermain-main (yarta’ wa yal’ab) dan bahwa mereka akan selalu menjaga adiknya itu (wa inna lahu lahaafizhuun). Akan tetapi saat kembali dan melaporkan kejadian Yusuf dimakan srigala susunan peristiwanya justru terbalik: mereka yang bermain dan berlomba-lomba (dzahabnaa nastabiqu) sedangkan Yusuf mereka tinggal sendirian di dekat barang-barang bawaan mereka (wa taraknaa Yusufa ‘inda mata’inaa), hingga diterkam srigala (fa-akalahudz dzi’bu).

    ***

    “…maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (Surat Yusuf: 18)

    ‘Bersabar itulah yang indah dan paling baik’ -fashabrun jamiil... Dan hanya kepada Allah aku memohon pertolongan. Demikian kata-kata yang terlontar dari lisan Ya’qub.

    Nanti pada kali kedua, saat kehilangan Bunyamin –yakni ketika Bunyamin ditahan Yusuf karena dituduh mencuri di Mesir, Ya’qub masih berucap hal yang sama.

    Yakub berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu. Maka (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Surat Yusuf: 83)

    Masih dia katakan fashabrun jamiil, kesabaran itulah yang terbaik. Dalam kondisi yang menyakitkan itu hanya kalimat positif mengandung harapan yang diucapkannya.

    Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

    Akan tetapi emosinya kali ini berkecamuk lebih hebat. Kesedihan yang sangat bercampur kemarahan yang tertahan.

    Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya). (Surat Yusuf: 84)

    Ketika pada akhirnya Allah takdirkan ia bisa berjumpa Yusuf dan Bunyamin lagi, bersamaan dengan itu kesepuluh orang putranya mengakui kesalahan mereka: membuang Yusuf ke dalam sumur, hal ini terjadi sekitar 30 tahun kemudian, sebagaimana dinyatakan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy.

    Selama tiga dekade itu Ya’qub tetap membersamai anak-anak yang membohonginya dalam kasus Yusuf, tetap bersabar dan pada akhirnya memaafkan kesalahan anak-anaknya bahkan memohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah.

    Qaala sa-astaghfiru lakum Rabbi, innahu huwa’l ghafuurrurrahiim

    Ya’qub berkata, “Akan aku mintakan untuk kalian kepada Rabbku ampunan, sesungguhnya Ia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Surat Yusuf: 98)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik DENY FIRMANSYAH lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.