x

Foto Cybersastra

Iklan

Naila Azalia Bahri

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bergabung Sejak: 9 April 2022

Kamis, 9 Juni 2022 20:16 WIB

Sastra Cyber: Kelebihan dan Kelemahannya

Sastra cyber adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan komputer dan internet.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendahuluan

Sebutan sastra cyber mulai dikenal pada saat budaya internet tumbut dengan pesan di Indonesia. Endraswara menjelaskan definisi sastra cyber bermula dari kata cybersastra yang asal katanya dari cyber, yang dalam bahasa Inggris tidak bisa berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan kata lain seperti cyberspace, cybernate dan cybernetics. Cyberspace berarti ruang (berkomputer) yang saling terpaut membentuk budaya di kalangan mereka. Cybernate berarti pengendalian proses menggunakan computer. Cybernetics mengacu pada sistem kendali otomatis, baik dalam sister komputer (elektronik) maupun jaringan syaraf. Dari penjelasan ini, dapat dikemukakan bahwa sastra cyber atau cybersastra adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan komputer dan internet.

Dari berbagai dinamika perkembangan teknologi di Indonesia media daring (online) adalah salah satu media yang saat ini memiliki dominasi yang sangat di masyarakat yang kemudian memunculkan aktivitas pelaku dan pendukung kesusastraan untuk menggunakan kesempatan dari kemunculan teknologi tersebut dengan meluasnya sastra cyber.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Pembahasan

Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media. Antara lain sastra majalah, sastra koran, dan sebagainya. Ketika biaya publikasi semakin mahal,begitu juga dengan keberadaan sastra koran/majalah dirasa telah membangun hegemoninya sendiri, internet pun datang. Komunitas-komunitas sastra maya mulai muncul. Memanfaatkan teknologi seperti mailing list (milis), situs, forum diskusi, dan kini juga blog, internet menawarkan iklim kebebasan, tanpa sensor. Semua orang boleh memajang karyanya, dan semua boleh mengapresiasinya

Satra cyber diperkiirakan lahir pertama kali pada tahun 1990, namun baru mulai mencapai popularitasnya pada tahun 1998 atau pada periode reformasi sampai dengan sekarang. Banyak macam situs dan fitur teknologi internet yang menawarkan kepada publik untuk mengembangkan dan menfasilitasinya melalui Wattpad, Fanfiction, Twitlonger (perkembangan dari Twitter), fitur catatan di Facebook, dan sebagainya. Semua dapat publikasikan karyanya dan semua orang juga boleh mengapresiasi dari berbagai dunia, dengan adanya internet sebagai ruang sosialisasi tanpa batas.

Peran sastra cyber dalam khasanah kesusastraan Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata yakni sebagai media publikasi dan sarana berkreasi untuk mampu menciptakan karya sesuai dengan perubahan masyarakat pada saat itu, ahkan terkadang peranan ini menjadi ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh sastra dalam bentuk cetak. Sastra cyber hadir tanpa prosedur yang ketat. Dengan itu siapa pun dapat mempublikasikan karya-karyanya dengan leluasa untuk dinikmati oleh siapa saja dari belahan dunia mana pun tanpa memandang apakah dia seorang yang sudah dikenal atau seseorang yang namanya belum dikenal.

Sastra cyber tidak dapat dikendalikan oleh kekuasaan manapun untuk mereproduksi teks sastra di internet. Tidak juga di dominasi oleh kepentingan-kepentingan ekonimis mupun politis yang ditetapkan oleh pihak penerbit yang menetapkan kriteria-kriteria suatu karya yang layak cetak. Selain itu, karya sastra cyber tidak lagi memiliki tembok pemisah antara penulis dengan pembacanya. Penulis dan pembaca hanya dipisahkan layer kaca pada handphone, laptop atau komputer. Pembaca dapat langsung memberikan saran dan komentar pada karya tersebut, dan penulis mendapatkan masukan langsung saat itu juga. Dunia sastra cyber sangat mungkin menjadi peluang baru yang luas bagi para penulis agar tidak terbebani oleh sistem dalam berkarya.

Kehadiran sastra cyber di Indonesia dapat dikatakan tergolong muda, hal ini tentu saja dipengaruhi oleh maraknya penggunaan teknologi internet pada saat itu tengah menjamur. Faruk menjelaskan terdapat semacam anggapan bahwa sastra di internet dapat disebut sebagai sastra yang masih premature, belum selesai, belum final dan belum menajadi satu kesatuan. Kehadirannya baru final, sempurna dan utuh setelah terbentuk menjadi sebuah buku: kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kumpulan episode dalan cerita bersambung dan sebagainya. Kualitas karya sastrawan cyber menjadi pertanyaan karena tidak adanya sistem seleksi ketat di internet, sebagaimana dilakukan para editor sastra di media cetak sehingga seolah-olah dunia cyber hanya semacam “tong sampah”. Selain itu, ada juga kekhawatiran akan penentangan puitik sastra internet sebab karya dari yang paling sufi hingga yang paling vulgar sekalipun bisa hadir dengan bebas.

Selain itu, anggapan sisi kelemahan lain yang dimiliki oleh sastra cyber yaitu karena karya sastra Indonesia nantinya akan semakin menjamur sehingga karya sastra semakin miskin kritik. Pada akhirnya karya sastra Indonesia hanya untuk diciptakan, tetapi sulit menujukkan capaian-capaiannya sebagai representasi dari realitas sosial. Muhammad Al-Fayyadi menyebutkan bahwa penulis yang terjun dalam sastra cyber adalah penulis yang main-main dan coba-coba dan menjadikan sastra cyber sebagai modus operasi karena sulitnya menghalau tembok sastra koran atau penerbitan. Ia juga berpendapat keberadaan sastra cyber hanya mereduksi sastra sebatas pada hiburan dan entertainment belaka. Sastra cyber di sisi lain juga sebenarnya tidak lepas dari keterbatasan sebagai akibat ketergantungannyya pada jasa internet dan tersedianya komputer. Bagi Sebagian masyarakat Indonesia, interner dan komputer masih merupakan barang mewah karena tidak semua daerah dapat menaksesnya dengan leluasa. Kondisi ini yang menyebabkan sastra cyber dapat menjadi elitis, yang mungkin akan membatasi perkembangan sastra cyber di Indonesia.

Kesimpulan

Kemunculan sastra cyber di tengah-tengah perkembangan dunia sastra memang membawa pendapat yang bermacam-macam karena pada realitasnya ada beragam penilaian yang menanggapi fenomena sastra cyber tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri hadirnya sastra cyber memudahkan para penulis pemula dan juga para pembaca mendapatkan akses seluas-luasnya untuk menulis dan membaca karya sastra yang mereka minati. Oleh karena itu, perselisihan antara sastrawan senior yang mempertanyakan mutu sastra cyber seharusnya dapat dijawab dengan kemauan untuk merangkul dan mengayomi para penggiat sastra cyber secara adil dan bijaksana.

Tinjauan Pustaka

 

Sulaiman, Z, "Peluang, Tantangan, dan Ancaman Sastra Cyber di Era Masyarakat Modern",  Caraka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Bahasa Daerah, Vol. 9, No. 3, Tahun 2020.

Hilda Septriani, (2017) Fenomena Sastra Cyber: Sebuah Kemajuan atau Kemunduran, 1-15. Diakses 9 Juni 2022, dari https://susastra.fib.ui.ac.id/wp-content/uploads/81/2017/01/13-Makalah-Hilda-Septriani.pdf

Rosida Erowati, Ahmad Bahtiar. Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

 

 

Ikuti tulisan menarik Naila Azalia Bahri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu