Teori Strukturalisme Madinah ala Profesor Bermawy Munthe - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

sejarah bukan sekedar teori

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 15:30 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Teori Strukturalisme Madinah ala Profesor Bermawy Munthe

    Teori Strukturalisme Madinah diinsipirasi oleh Madinah sebuah kota peradaban sejak dahulukala. Teori yang digagas oleh Profesor Bermawy Munthe ini membuka peluang akademisi dan kritikus sastra untuk menelaahnya lebih lanjut.

    Dibaca : 660 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pernah mendengar kritik sastra dengan pendekatan Teori Strukturalisme Madinah (SM)? Jagat sastra Indonesia bisa jadi belum familiar dengan teori tersebut. Untuk itu, menarik untuk menyimak pemaparan  Profesor Bermawy Munthe  sang penggagas teori tersebut.

    “Teori Strukturalisme Madinah dilatarbelakangi oleh tujuh faktor,” ujar Prof. Bermawy Munthe pada kuliah umum secara virtual pada helat  FKIP Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram, 14 Juni 2022 menarik disimak.

    7 Faktor dan Totalitas Karya Sastra

    Ketujuh faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

    Pertama, SM merupakan alternatif meneliti sebuah teks berupa karya sastra, karya seni, dan realitas. Ini merupakan perwujudan kesadaran yang utuh lahir-batin manusia dalam memaknai dirinya sebagai manusia yang memiliki kualitas potensi ruhani, kualitas potensi rasa hawa nafsu baik buruk, kualitas potensi nalar akal dan kualitas potensi ragawi jasmani.

    Kedua, SM meyakini bahwa karya sastraatau seni merupakan buah wujud pengalaman transendensi. Itu mencakup (1) sebagai pengakuan ketergantungan manusia pada Tuhan, (2) sebagai  pengakuan keniscayaan hubungan manusia dan Tuhan dan  (3) sebagai pengakuan keberadaan norma mutlak dari Tuhan yang tidak berasal dari akal manusia.

    Ketiga, SM meyakini bahwa sebuah karya sastra, karya seni dan realitas merupakan hasil perenungan dan pemikiran manusia yang dimaknai sebagai satu keterkaitan yang bersifat asasi. Dengan demikian,  teori ini selaras dengan teori yang mengatakan bahwa seni bukan semata untuk seni (al-fannl laisa lil al-fann fahasb), tetapi seni untuk mengabdi diri kepada Tuhan (al-fann ya’budu rabbahu). Seni tidak cukup hanya  mengabdi kepada kekuatan politik, kekuatan sosial, kekuatan kebudayaan atau kekuatan ideologi,  kekuatan ekonomi, kekuatan adat istiadat (al-Fann li syain)

    Keempat, SM meyakini bahwa karya sastra (novel, cerpen, puisi, drama, film, lagu), karya seni dan realitas kereasi manusia merupakan media penghubung antara dirinya dengan keadaan luar dirinya. Apa sajakah itu? Itu meliputi keadaan pengarang, keadaan masyarakat, keadaan politik, keadaan budaya.

    Kelima, SM meyakini bahwa karya sastra merupakan media corong akhlak, nilai-nilai  moral di semua dimensi kehidupan. Keenam, SM meyakini bahwa karya sastra dan seni merupakan totalitas yang bermakna dengan keutuhan pengarangnya. Ketujuh,  ketujuh, SM meyakini bahwa karya sastra memiliki nyawa sebagai manusia memiliki nyawa. Nyawa karya sastra kebermaknaan pada alam raya.

    Dalam meneliti teks, peneliti hendaknya berpedoman pada 5 prinsip totalitas karya sastra.  

    Pertama,  Sebuah nash/teks merupakan pernyataan al-‘Urwah al-Wuthqa. Berdasarkan keyakinan keimanan kepada Tuhan yang Maha Ghaib, karya seorang pujangga akan bermakna ketika ia menghadirkan dan menyertakan Tuhan dalam setiap diri karya sebagai hasil perenungan akal, rasa dan ruhani yang ada dalam diri. Keyakinan ini memberi semangat bahwa semua karya pujangga memiliki keterkaitan dengan rasa taqwa kepada Tuhannya.

    Al-‘Urwah al-Wuthqa ini sebuah sistem nilai metafisik berdimensi ukhrawiyah yang mengfungsikan karya sastra sebagai sebuah ikatan perjanjian luhur ruhaniyah antara manusia semenjak alam rahim dengan Allah-nya. (al Quran). Ikatan perjanjian ini sebagai pembeda hamba yang menghadirkan Tuhannya dalam karyanya.

    Al-‘Urwah al-Wuthqa terwujud dalam “Mitsaqan Ghalidlan” sebagai perjanjian yang teguh kuat antara para Rasul dan Tuhannya tentang nilai akhlaq luhur yang melindungi hakikat manusia, yang melampaui nilai hukum, nilai ilmu, nilai nalar, nilai kekuasaan.

    Kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam kehidupan manusia merupakan sebuah nilai yang akan ‎memungkinkannya berikhtiar lebih bajik lagi lebih bijak dalam memaknai perjalanan hidup dan kehidupan. Nilai akhlaq diayomi nilai hikmah dan kebisukan sebagai esensi Rohmatan lil’alamin. Keyakinan ‎akan adanya kuasa Tuhan, akan menjadikan manusia lebih arif dalam menghadapi ‎setiap persoalan yang dihadapi dirinya

    Kedua,  Nadharah al-Mustaqbal  (NM): Pandangan Masa Depan Akhirat. NM sebagai pandangan futuristik ukhrawiyah yang menginginkan bahwa pandangan dunia penulis ditujukan untuk pandangan ukhrawiyah. Karya sastra sebagai pernyataan pandangan dunia dan pada saat yang sama sebagai perkalian matematis untuk nilai pandangan ukhrawiyah. Kualitas karya sastra sangat ditentukan oleh kualitas niat pemaknaan ukhrawiyah.

    NM mengfungsikan karya sastra memelihara dimensi ukhrawiyah saat pujangga menuangkan hasil kerja hati, akal dan ruhaninya sebagai ungkapan UW. Konsep ini selalu melihat jauh ke alam akhir lokus dan tempus pertanggungan jawab karya sebagai pernyataan perjanjian ikatan luhur sebuah karya sastra. Kekuatan NM seorang pujangga atau seniman didorong kekuatan UW-nya.

    Pandang Masa Depan Ukhrawiyah sebagai cara seorang pujangga menilai bahwa segala sesuatu di dalam alam raya dan hidupnya untuk mengisi, memperkaya serta mempertajam UW yang semestinya bersama kekuatan bersama sebagai identitas kolektif.

    Pandang dunia seperti ini terjadi karena ia percaya bahwa ruhani seseorang terikat dengan Allahnya. Pandang dunia seperti ini terjadi karena ia percaya bahwa Tuhan ada. Jadi, kepercayaan iman UW menentukan dan membentuk arah hidup seorang pujangga.

    Ketiga, al-Huwiyah al-Jamaiyah (HJ) Identitas Kolektif. Konsep ini menunjukkan identitas kolektif yang memiliki tujuan akhir dan keberadaaannya berdampingan dengan kehidupan kolektif lainnya sebagai keutuhan aneka ragam kolektif manusia. Sebagai satu identitas, kolektif ini memiliki nilai paling dasar UW dalam diri dan juga yang memiliki visi NM hadir aktif dalam segala halangan dan rintangan akan usaha peradaban manusia, perubahan kesejahteraan manusia, relasi manusia, pembebasan dan transedensi sebagai peradabanan kemanusiaan dengan alternatif pemecahan konkrit.

    Identitas kelompok ini seperti yang diungkap dalam teks al-Quran: “Dan hendaklah ada di antara kamu (koleksi) umat yang menyeru pada kebajikan (peroses membaikkan diri), menyuruh pada kema’rufan dan mencegah dari kemunkaran; merekalah orang-orang yang beruntung.” al-Quran 3:104.

    Demikian juga identitas kelompok ini diharapkan seperti yang diungkap dalam al-Quran: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” al-Quran 3:110

    Keempat, Asbab al-Wurud (أسباب الورود) Kausalitas Kehadiran. Karya sastra merupakan sebuah KTH untuk tindakan pengurai dan tindakan penuntasan masalah untuk kehormatan kemanusiaan dan alam raya semesta. Karya sastra menawarkan gagasan pengurai dan gagasan penuntas harkat kemanusian dan alam raya dengan nilai-nilai akhlak yang universal seperti kejujuran apa adanya, kebenaran apa nyatanya, keadilan apa seyogyanya serta keniscayaan ketaqwaan kepada Tuhan akan rasa bahagia pada anugerahNya dan rasa takut pada siksaNya.

    Sebuah teks karya sastra idealnya menawarkan gagasan pengurai dan gagasan penuntas untuk kehormatan kemanusian dan alam raya baik secara tersurat atau tersirat. Konsep ini didorong oleh karena keunggulan dan keutamaan totalitas kesatuan tri-tunggal daya rasa, daya nalar dan daya ruhani menawarkan proses menyempurnakan keutamaan akhlak dalam kata dan perbuatan keakuan dan kekitaan kemanusiaan yang ada dalam karya sastra.

    Manusia pengurai dan penuntas merupakan ciri khas manusia pencerah yang meniscayakan ketuhanan yang mutlak, kemanusiaan yang adil dan beradab, kemanusiaan yang satu, kemanusiaan bebas.

    Kelima,  Kaifiyah al-Tahlil wa al-Halli كيفية التحليل و الحل)) (KTH) Gagasan Pengurai dan Gagasan Penuntasan. Karya sastra merupakan sebuah KTH untuk tindakan pengurai dan tindakan penuntasan masalah untuk kehormatan kemanusiaan dan alam raya semesta. Karya sastra menawarkan gagasan pengurai dan gagasan penuntas harkat kemanusian dan alam raya dengan nilai-nilai akhlak yang universal seperti kejujuran apa adanya, kebenaran apa nyatanya, keadilan apa seyogyanya serta keniscayaan ketaqwaan kepada Tuhan akan rasa bahagia pada anugerahNya dan rasa takut pada siksaNya.

    Sebuah teks karya sastra idealnya menawarkan gagasan pengurai dan gagasan penuntas untuk kehormatan kemanusian dan alam raya baik secara tersurat atau tersirat. Konsep ini didorong oleh karena keunggulan dan keutamaan totalitas kesatuan tri-tunggal daya rasa, daya nalar dan daya ruhani menawarkan proses menyempurnakan keutamaan akhlak dalam kata dan perbuatan keakuan dan kekitaan kemanusiaan yang ada dalam karya sastra. Manusia pengurai dan penuntas merupakan ciri khas manusia pencerah yang meniscayakan ketuhanan yang mutlak, kemanusiaan yang adil dan beradab, kemanusiaan yang satu, kemanusiaan bebas.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 596 kali