Wabah Media Sosial dan Matinya Kepakaran - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Nico Gilang

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Juni 2022

Rabu, 22 Juni 2022 07:58 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Wabah Media Sosial dan Matinya Kepakaran

    Penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan fakta sering terjadi di media soial. Netizen kerap membantah opini para ahli hanya berdasar pengalaman dan cocoklogi belaka. Apa yang sedang terjadi pada masyarakat kita hari ini? Bagaimana mestinya para pakar bersikap?

    Dibaca : 719 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pernahkah kalian menyaksikan sekeliling saat masyarakat lebih mempercayai pengalaman dan kata orang-orang terdahulu dibanding fakta dan ilmu pengetahuan? Hal seperti ini sudah sangat lumrah di kehidupan kita. Tak peduli berasal dari negara kelas atas atau negara berkembang sekalipun, sering kali kita jumpai hal ini.  Pada kasus tertentu, masyarakat bahkan sampai berpandangan bertolak belakang dengan pendapat  para pakar.

    Kejadian serupa lebih sering kita jumpai di internet, khususnya media sosial. Barangkali karena di media sosial bisa diaplikasikan freedom of speech atau kebebasan pendapat. Hal ini jugalah yang memberi ruang besar bagi mereka untuk lebih bebas mengutarakan pendapatnya dan menyerang para ahli.

    Kejadian seperti biasa kita temui pada video tiktok.  Misalnya saat seseorang sedang mengedukasi suatu hal, kolom komentarnya penuh dengan hujatan, penolakan, dan koreksi terhadap sang pembuat video. Komentar itu sering hanya didasari sekedar pengalaman meski berbelok dari ilmu pengetahuan dan fakta. Tidak jarang juga hal ini terjadi di twitter. Misal seorang ahli kedokteran menulis sebuah edukasi mengenai hewan-hewan peliharaan, lalu disanggah oleh pengguna twitter hanya berdasar pengalamannya mengurus hewan. Kadang juga ditambah informasi dari Wikipedia secara sembarang. 

    Peristiwa seperti ini dinamakan sebagai “matinya kepakaran” oleh seorang penulis sekaligus akademisi terkemuka, Tom Nichols. Mati dalam konteks ini bukanlah secara harfiah, tetapi hiperbola atas keadaan berdasarkan sebuah sudut pandang. Tentu saja pakar dan ahli masih tetap memegang posisi mengenai siapa yang dipercaya dalam sebuah ilmu pengetahuan. Tapi belakangan ini bermunculan fenomena netizen bisa sangat mudah itu menolak dan mengoreksi para ahli dan pakar. Menurut Nichols kecenderungan itu disebabkan beberapa faktor, seperti politik, kepercayaan, dan kultur.  Mereka berusaha mencari kebenaran dari sisi lain yang dinamakan sebagai fakta alternatif. 

    Contoh di dunia nyata terjadi saat Donald Trump menganjurkan masyarakat Amerika Serikat menggunakan deterjen dan suntikan desinfektan sebagai obat menangkal virus Corona. Trump beralaskan deterjen memiliki kandungan yang dapat membunuh virus.

    Para ahli membenarkan bahwa kandungan pada deterjen dapat membunuh virus, tetapi masalahnya kandungan tersebut juga membahayakan tubuh manusia. Maka para ahli dan dokter menentang keras Donald Trump. Namun lalu terjadi serangan balik dari para pendukung Donald Trump. Mereka menganggap Donald Trump yang benar hanya bermodal mencari informasi dari Wikipedia dan internet. 

    Contoh lain adalah ketika beberapa waktu lalu adalah ketika grandmaster catur Irene Sukandar menilai permainan catur online Dewa_Kipas mengandung unsur kecurangan. Akibat pernyataan tersebut Irene mendapat banyak kecaman dan hujatan netizen Indonesia. Dia dianggap meremehkan dan tidak percaya orang biasa bisa mengalahkan grandmaster. Pernyataan Irene bahwa gaya permainan Dewa_Kipas terlalu mirip dengan algoritma komputer memainkan catur, juga didukung para grandmaster lainnya. Tapi tetap saja ada masyarakat yang menolak pernyataan tersebut. 

    Dari kasus di atas kita bisa melihat bahwa pada zaman sekarang akses publik terhadap informasi di internet sangatlah mudah dan luas. Kekayaan informasi yang terdapat di internet mengalahkan kemampuan orang awam dalam mencerna dan menyaring masuknya informasi dari internet ke dalam otak. Informasi yang didapat oleh masyarakat awam dari internet dengan informasi yang didapat oleh pakar dan ahli dari internet bisa datang dari sumber informasi yang sama, tetapi ada hal yang tidak dimiliki oleh masyarakat awam tapi dimiliki oleh pakar dan ahli. 

    Kerangka metodologi yang digunakan para ahli untuk menelaah informasi, kemampuan berpikir kritis terhadap pernyataan, dan proses pengambilan kesimpulan inilah yang tidak banyak dimiliki masyarakat awam dalam proses mencari dan mendapatkan sebuah informasi. Pakar dan ahli mampu menyambungkan informasi satu ke lainnya sehingga dapat menciptakan premis atau pernyataan baru. Sedangkan masyarakat awam tidak memiliki kerangka metodologi tersebut sehingga kesulitan dalam proses menyambungkan antar informasi. 

    Bebasnya informasi di internet ditambah kemudahan seseorang menjadi anonim di media sosial memudahkan ia berkata dan mengklaim apa saja tanpa mendapat konsekuensi apapun. Melalui bukti yang hanya didasarkan pada pengalaman dan cocoklogi mampu membuat seseorang bebal dalam menghadapi suatu permasalahan. Hal ini diperparah dengan menganggap enteng bahwa ilmu pengetahuan hanya berdasarkan sebuah “teori”, padahal ia tak tahu apa maksud arti dan proses di balik dari kata tersebut.

    Perilaku untuk menolak fakta dan ilmu pengetahuan ini bisa sangat merugikan, bukan lagi bagi individu tetapi ke orang lain apabila dilakukan berkelompok. Miskonsepsi yang beredar dari seorang individu dapat menyebar lebih luas ke sekelompok masyarakat dengan tingkat pemahaman terhadap keilmiahan yang rendah apabila tidak ada yang mengoreksi dan mengedukasi kepada khalayak umum. 

    Tantangan seperti inilah yang harus dihadapi para pakar dan ahli di zaman ini. Mereka ditantang membawakan dan menawarkan sebuah kebenaran terhadap khalayak umum. Solusinya selain peningkatan kualitas sistem edukasi, para pakar dan ahli juga bisa harus belajar melakukan persuasi kepada masyarakat. Persuasi yang dilakukan bisa melalui pendekatan kultural, linguistik, ataupun edukasi. 

    Ikuti tulisan menarik Nico Gilang lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.